Berita

Wanita memohon kepada PM Morrison untuk bantu keluarganya/Net

Dunia

Seorang Wanita Berlutut Mengadu Kepada Morrison, Minta Bantu Keluarganya Yang Alami Kekerasan di Kamerun

SELASA, 04 MEI 2021 | 16:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ada pemandangan mengharukan di Queensland tengah seusai konferensi pers bersama Perdana Menteri Australia Scott Morrison. Seorang wanita tiba-tiba maju dan berlutut di hadapan Morrison sambil memohon dengan suara bergetar menahan kesedihan.

Wanita itu, Lilian, memohon kepada sang perdana meneteri untuk membantu keluarganya di Kamerun. Menurutnya, orang-orang di Afrika tengah menghadapi pelanggaran berat hak asasi manusia. Menyiksa, merampas, bahkan membunuh, di tengah konflik separatis di negara itu.

Wanita itu berlutut di tanah, menangis tersedu. Mengatakan telah terjadi genosida di negara itu.


Kameran telah lama mengalami konflik yang berakar sejak lama, yang telah membuat 2 juta penduduknya mengungsi, menurut data PBB, seeprti dikutip dari SBS, Selasa (4/5).

"Tolong aku. Tolong aku. Setiap hari orang-orang saya dibunuh. Saya mengalami trauma setiap hari," Lilian tersedu di hadapan Morrison.
 
Lilian lalu mengatakan, Pemrintah Kamerun membunuh orang-orang yang melakukan protes. Delapan anggota keluarganya telah menjadi korban kekerasan di sana.

Morrison mencoba menghiburnya, mengatakan bahwa anggota lokal Michelle Landry, yang juga hadir, akan meneruskan pengaduannya.

“Kami membawa banyak orang melalui program pengungsi kami dari Afrika, kami akan melakukan itu,” kata Morrison kepada Lillian.

Menambahkan bahwa setiap warga di Australa berhak mendapat perlindungan dan jika ada anggota keluarga atau orang lain yang menjadi bagian dari proses itu, maka aparatnya akan siap membantu dan membahasnya  dengan menteri imigrasi.

“Orang-orang di Australia tidak tahu seberapa buruk situasi di Kamerun,” kata Lilian.

Ia senang dengan tanggapan dari Morrison. Berharap suaranya benar-benar didengar.

Laporan Dunia 2021 menyatakan bahwa pemerintah Kamerun terus membatasi kebebasan berekspresi dan menjadi semakin tidak toleran terhadap perbedaan pendapat politik. Kekerasan terjadi di negara itu yang membuat kehidupan masyarakat Kamerun tersiksa.

Pemantau hak asasi manusia memperingatkan bahwa ratusan warga sipil telah tewas sejak Januari 2020 di wilayah barat laut dan barat daya negara itu di tengah konflik dengan kelompok separatis. []

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya