Berita

Warga Turki di Washington memprotes keputusan Presiden AS Joe Biden untuk mengakui peristiwa 1915 sebagai genosida, Washington, AS, 24 April 2021/Net

Dunia

Warga Turki Di Washington Protes Keputusan Joe Biden Yang Akui Genosida 1915

SENIN, 26 APRIL 2021 | 07:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Warga Turki di Washington memprotes keputusan Presiden AS Joe Biden untuk mengakui peristiwa 1915 sebagai genosida.

Mereka berkerumun di depan kediaman Duta Besar Turki di Lingkaran Sheridan dengan memegang bendera dan spanduk bertuliskan, 'Biarkan Sejarah Memutuskan', dan 'Rekonsiliasi, Bukan Tuduhan Genosida'.
Wakil Ketua Komite Pengarah Nasional Turki Amerika (TASC) Günay Evinch mengatakan Biden melemparkan gas ke dalam api alih-alih menyatukan orang dalam rekonsiliasi.

"Dia memilih narasi komunitas Armenia, dia memilih untuk berpihak pada komunitas Armenia dengan mengorbankan komunitas Turki-Amerika, dan semua komunitas warisan harus diperlakukan sama dan adil," kata Evinch, seperti dikutip dari Daily Sabah, Minggu (25/4).

"Dia memilih narasi komunitas Armenia, dia memilih untuk berpihak pada komunitas Armenia dengan mengorbankan komunitas Turki-Amerika, dan semua komunitas warisan harus diperlakukan sama dan adil," kata Evinch, seperti dikutip dari Daily Sabah, Minggu (25/4).

Dengan Biden menyebut peristiwa 1915 sebagai 'genosida', berarti melanggar tradisi lama presiden AS yang menahan diri untuk tidak menggunakan istilah tersebut. Warga Turki di AS menolak keras dan mengatakan 'batal demi hukum'.

Salah satu anggota komunitas Turki-Amerika, Gizem Salcigil White, menolak sikap Biden. Mengatakan bahwa presiden AS itu mengakui apa yang disebut genosida tanpa memiliki proses pemeriksaan sejarah dan hukum bersama.

"Pernyataannya yang didorong oleh politik dan tidak berdasar tidak bisa dan tidak akan mengubah peristiwa sejarah yang terjadi lebih dari 100 tahun lalu," katanya.

"Sebagai komunitas, kami akan berdiri teguh melawan kepentingan politik pemerintahan Biden, dan kami akan terus memberikan kontribusi perdamaian dunia, menekankan pentingnya toleransi, dan bekerja menuju rekonsiliasi dua negara," katanya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya