Berita

Poster webinar dengan tema “Menolak Lupa: 35 tahun Bencana Chernobyl"/Ist

Nusantara

Menolak Lupa 35 Tahun Tragedi Chernobyl, Besarnya Risiko Kecelakaan Nuklir

MINGGU, 25 APRIL 2021 | 04:37 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Tragedi Chernobyl merupakan salah satu catatan kelam yang pernah ada. Lantaran menjadi bukti besarnya kerusakan yang diakibatkan oleh nuklir.

Tepat 35 tahun yang lalu, 26 April 1986, tepatnya pukul 01.23 waktu setempat, terjadi ledakan di reaktor unit 4 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl di Uni Soviet.

Sebanyak 31 orang tewas di tempat saat terjadi ledakan, dan sekitar 400 ribu penduduk harus dievakuasi karena paparan zat radioaktif yang sangat tinggi.


Ledakan tersebut melepaskan radiasi nuklir yang lebih besar ketimbang bom atom Hiroshima. Debu radioaktif dihamburkan ke atmosfer selama lebih dari 2 pekan dan mengontaminasi area-area di berbagai tempat di Eropa Barat, hingga Swedia dan Inggris. Diperkirakan sekitar 150 ribu kilometer persegi terkontaminasi bahan radioaktif.

Material radioaktif yang dilepaskan ke atmosfer dan lingkungan sekitar reaktor terdiri dari Iodine-131, Cessium-134, dan Cesium-137.

Walaupun usia Iodine-131 hanya 8 hari tapi mudah sekali terserap oleh kelenjar thyroid yang memicu kanker. Sementara radiocesium lebih lama karena memiliki waktu paro sampai 30 tahun.

Paparan radioaktif tinggi paling tidak terjadi kepada 5 juta orang yang bertempat tinggal di beberapa daerah di Belarusia, Rusia, dan Ukraina.

Itu belum termasuk sekitar 350 ribu orang pekerja, terdiri dari tentara, karyawan reaktor, polisi, dan petugas pemadam kebakaran yang terlibat dalam penanganan bencana pada tahun 1986-1987. Ditambah liquidator atau pekerja pembersih radioaktif yang mencapai 830 ribu orang.

Meski telah puluhan tahun, dampak ledakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) masih dirasakan hingga saat ini dan mungkin sampai beberapa generasi ke depan.

Itu lantaran masih adanya paparan zat radioaktif yang mengancam kesehatan manusia maupun lingkungan.

“Hingga saat ini, angka korban yang pasti masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Namun, dampak jangka panjang yang diakibatkan paparan radiaoktif menjadi perhatian serius betapa bahaya kecelakaan nuklir terhadap umat manusia,” ujar Ketua Masyarakat Reksa Bumi (Marem), Dr. Lilo Sunaryo, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (24/4).

Lilo mengatakan, menurut IAEA kecelakaan nuklir Chernobyl adalah kecelakaan PLTN terburuk di dunia.

Biaya yang ditimbulkan dari bencana Chernobyl sebesar 235 miliar solar AS. Kajian yang dilakukan oleh USC Institute of Global Health memperkirakan dampak radiasi Chernobyl menciptakan biaya hingga 700 miliar dolar AS.

Ukraina dan Belarusia juga harus mengalokasikan anggaran untuk mengatasi dampak Chernobyl, termasuk santunan keluarga yang terkena dampak.

“Kerugian sosial dan ekonomi akibat kecelakaan nuklir terbukti sangat besar. Tragedi Chernobyl menjadi pengingat buat kita bahwa di balik iming-iming yang ditawarkan PLTN, juga ada risiko kerugian yang besar. Ini yang harus dipertimbangkan dengan penuh kehati-hatian jangan sampai kita menyesal di kemudian hari,” lanjut Lilo.

Menurut Lilo, kecelakaan nuklir besar seperti Chernobyl atau Fukushima memang tidak sering terjadi, tapi tidak berarti teknologi PLTN aman dan bebas risiko.

Risiko-risiko kecelakaan yang berkaitan dengan teknologi, operasional, faktor manusia, dan alam sesungguhnya masih tetap besar.

Untuk itu, Marem dan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijopranata akan menyelenggarakan Webinar dengan tema “Menolak Lupa: 35 tahun Bencana Chernobyl".

Webinar tersebut akan dilakukan pada Senin (26/4) dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.

Sejumlah narasumber yang akan mengikuti webinar tersebut  adalah Prof. Ir. Rinaldy Damiri  dari Universitas Indonesia, Dr. Ir. Herman Daniel Ibrahim dari Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Surono sebagai ahli Vulkanologi dan Bencana Geologi, Hindun Mulaika dari Greenpeace Indonesia, dan Dyah Roro Esti dari DPR RI.

Webinar dapat disaksikan melalui siaran langsung Youtube dan Zoom Meeting.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya