Berita

Perdana Menteri Australia Scott Morrison/Net

Dunia

Analis China Soroti Sikap Australia Yang Batalkan Kesepakatan Belt and Road

KAMIS, 22 APRIL 2021 | 09:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Para analis mengatakan langkah terbaru Canberra membatalkan kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) bisa menjerumuskan hubungan bilateral China-Australia yang sudah membeku ke jurang yang lebih rendah lagi.

Pembatalan itu akan menciptakan gangguan serius dalam hubungan perdagangan dan ekonomi. China perlu segera memberikan tanggapannya atas keputusan itu, menurut mereka.

Song Wei, seorang rekan peneliti asosiasi di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi China, mengatakan keputusan Australia berdampak negatif terhadap perkembangan negara itu sendiri, terutama Victoria, di mana kesepakatan BRI ditandatangani oleh negara bagian itu.

“Menghancurkan perjanjian kerja sama BRI dari perspektif federal adalah intervensi besar dalam kebijakan pembangunan negara bagian, yang pasti akan berdampak negatif pada perkembangan ekonomi Victoria di masa depan,” kata Song, seperti dikutip dari GT, Rabu (21/4).

Selanjutnya, hubungan ekonomi dan perdagangan antara China dan Australia akan semakin terjerembab, kata Song.

Profesor dan direktur Pusat Studi Australia di East China Normal University, Chen Hong, mengatakan,  langkah terbaru Australia itu berada di arah yang berlawanan dan dapat semakin memperumit hubungan.

Ia mencatat bahwa keputusan itu benar-benar mengabaikan kemitraan strategis yang saling menguntungkan dan komprehensif antara Australia dan China.

“Untung saja perjanjian pada saat itu tidak berurusan dengan sektor sensitif atau keamanan nasional,” kata Chen.

Para ahli sudah memperkirakan bahwa perjanjian itu akan dirusak oleh Australia.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison telah membatalkan kesepakatan Belt and Road Initiative (BRI) yang kontroversial antara China dan negara bagian Victoria. Ia menyebut kesepakatan itu 'tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri Australia'.

Keputusan yang dibuat pada Rabu malam itu mengancam akan mengobarkan ketegangan diplomatik yang sudah parah antara Canberra dan Beijing, menurut para ahli.

“Ada keyakinan bahwa perjanjian itu menargetkan perjanjian BRI ketika pemerintah federal mengesahkan RUU Hubungan Luar Negeri, yang memungkinkan pemerintah federal mengesampingkan perjanjian negara bagian apa pun di bawah apa yang disebut ancaman keamanan nasional,” kata Chen, seraya menambahkan bahwa jika Australia melanjutkan ke jalan yang salah.

“China pasti akan menanggapi dengan tepat,” katanya.

Bergabung dengan BRI telah membawa manfaat ekonomi yang besar bagi Victoria dan menciptakan banyak peluang kerja di wilayah tersebut. Perdana Menteri Victoria Daniel Andrews bahkan mengatakan perjanjian tersebut telah membawa lebih banyak pekerjaan dan perdagangan serta investasi untuk warganya.

Perdana Menteri Victoria Daniel Andrews membutakan Pemerintah Federal ketika dia pertama kali menandatangani kesepakatan Belt and Road dengan pemerintah China pada tahun 2018, seperti dikutip dari NZHerald, Kamis (22/4).

Ini adalah nota kesepahaman untuk mengambil bagian dalam program infrastruktur senilai  1,5 triliun dolar Australia, yang secara luas dipandang sebagai permainan kekuatan global oleh China untuk memperluas pengaruh ekonomi dan geopolitiknya.
Negara bagian sebelumnya telah ditawari tenggat waktu 10 Maret untuk memberi tahu Persemakmuran tentang kesepakatan mereka dengan pemerintah asing.

"Saya belum melihat manfaatnya," kata Morrison pada awal 2021.

"Jika ada manfaat, apa saja dan apa yang dibayarkan untuk itu? Saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu pada saat ini, tetapi penilaian atas pengaturan itu akan terus berlanjut," katamya.

Populer

Joko Widodo Kembali Bikin Heboh, Kali Ini Soal Babi Panggang Ambawang

Sabtu, 08 Mei 2021 | 07:06

Ajakan Presiden Jokowi Makan Babi Saat Lebaran, ICMI: Tidak Punya Empati!

Sabtu, 08 Mei 2021 | 13:17

Ini Penjelasan Firli Bahuri Soal Isu Pemecatan Novel Baswedan Dkk Karena Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Senin, 03 Mei 2021 | 19:59

Soal Jokowi Dan Babi Panggang, Joman: Pecat Pratikno

Sabtu, 08 Mei 2021 | 11:55

Presiden Jokowi Bisa Beri Mandat Kepada Jusuf Kalla Untuk Selesaikan Papua

Selasa, 04 Mei 2021 | 16:51

Ustadz Abdul Somad Diserang Kabar Burung, Kali Ini Tentang Kado Pernikahan

Minggu, 02 Mei 2021 | 22:03

Praktik Mandi Kotoran Sapi Untuk Cegah Covid-19 Makin Marak Di India, Dokter: Tidak Ada Bukti Ilmiah

Selasa, 11 Mei 2021 | 11:57

UPDATE

Target Kenaikan Pajak 14,9 Persen Sulit, PDIP: Dirjen Pajak Mulai Panik

Rabu, 12 Mei 2021 | 18:33

Akhir Ramadan, Wagub Ariza Ajak Masyarakat Doakan Palestina

Rabu, 12 Mei 2021 | 18:10

Kapolri Ungkap Satu Celah Pemeriksaan Kedatangan Penumpang Luar Negeri Di Bandara Soetta

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:54

Dewas KPK: SK Penyerahan Tugas 75 Pegawai TMS TWK Sesuai Kewenangan KPK

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:39

Bahas Situasi Gaza Dengan Putin, Erdogan Desak Pasukan Penjaga Perdamaian Dikirim Ke Palestina

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:25

Menteri Agama: Idulfitri Saat Pandemi Makin Perkuat Nilai Kemanusiaan

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:20

Mahmoud Ahmadinejad Resmi Daftarkan Diri Jadi Capres Iran

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:03

Ngamar Saat PSBB, Oknum IKPP Perawang Beri Contoh Buruk Bagi Masyarakat

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:56

Perlu Anggaran Khusus Untuk Jadikan Ekonomi Hijau Tak Sekadar Wacana

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:35

Ketua Senator Imbau Warga Shalat Idulfitri Di Rumah Masing-masing

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:14

Selengkapnya