Berita

Dari kiri ke kanan: Laksamana Sukardi, R.H. Didi Sukardi, Airlangga Hartarto/RMOL

Publika

”Warisan” Kejuangan Kakek

KAMIS, 22 APRIL 2021 | 07:22 WIB

DALAM majalah Tempo edisi terbaru, walaupun secuil, disebut sebagian tanah di daerah Cikidang, Jawa Barat, untuk pembangunan Bukit Algoritma, Cikidang Hunting Resor dll, sekitar 900 ha (yang sebenarnya 660 ha) diperoleh dari bekas tanah kakek kami, R. H. Didi Sukardi, yang dulu  seorang pejuang dan taat hukum.

Ini dapat dibuktikan waktu land reform dahulu. Pada zaman itu para pemilik tanah diminta mengembalikan tanah-tanah yang luas milik merek.

Kakek  kami, kala itu dengan sukarela memberikan tanah-tanah miliknya  ke pemerintah tanpa ganti rugi apapun, padahal banyak pemilik tanah yang lain justeru tidak melakukannya, memanipulasi data untuk menghindari kewajiban itu, atau menyembunyikannya, dan mungkin sampai sekarang masih dinikmati oleh anak keturunannya.

Sedangkan kakek kami, karena kejujuran  dan pengorbanannya kepada negara  sebagai pejuang, hampir tidak memberikan sesuatu kekayaan harta benda yang signifikan kepada anak cucu-cucu keturunannya. Padahal dahulu kakek kami boleh  dikatakan sebagai tuan tanah, kendati bukan kelas kakap.

Kakek  punya  tanah di Pasir Hayam , Cianjur dalam ukuran hektaran.  Demkian pula almarhum  punya perkebunan teh di Gunung Rosa, Lampegan, Kambupaten, Cianjur.

Belum lagi tanah di Pelabuhan Ratu. Di daerah Baros, Sukabumi juga punya sawah sangat luas. Ada juga  tanah di Cikidang ratusan hektar.

Di belakang rumah di Jalan R.H. Didi Sukardi juga ada aset sawah-sawah mikiknya (kalau yang ini  sudah dijual secara resmi oleh anak-anaknya). Sedangkan nenek kami, sebenarnya, jauh lebih kaya dari kakek.

Nenek punya perkebunan karet Malinggut di Cibadak ribuan ha. Perkebonan teh di Gunung Rosa. Tak hanya itu, keluarga nenek juga punya kebon teh di daerah puncak sangat luas.

Tapi demi patuh kepada hukum dan untuk membantu negara  kala itu, hampir semua tanah-tanah milik kakek dan nenek  diserahkan kepada negara. Kini perkebunan teh eks milik keluarga nenek di daerah Puncak sudah menjadi milik perkebunan BUMN.

Lantas sebagian kecil lagi telah dijual anak-anaknya. Adapun yang kini tersisa hanyalah rumah besar di Jalan R.H. Didi Sukrdi.  Itu pun sudah diwariskan kepasa anak-anak perempuannya.

Kepada anak cucu keturunan, kakek kami menanamkan, nilai-nilai kejuangan untuk bangsa dan negara, ilmu pengetahuan, persaudaraan serta kebahagian, jauh lebih penting ketimbang sekedar harta benda.

Disinilah garis merah keluarga kami. Kendati pun Sang Kakek tidak mewarisi harta benda ke anak dan keturunan, tapi sebagian besar anak keturunan kakek relatif sukses.

Tercatat, Eddy Sukardi, anak lelaki tertua kakek, memimpin Perang Kokosan,  di daerah Cibadak, Jawa Barat, perang terbesar Indonesia melawan penjajah. Perang inilah yang banyak dicatat dan dijadikan refrensi perang di Indonesia dalam literatur Barat.

Lalu ada Hartini Sukardi yang kawin dengan Hartarto , yang belakangan menjadi menteri beberapa priode di zaman Orde Baru. Padahal anak yang lain, Wahdiat Sukardi l, pada saat yang bersamaan, justeru jadi salah satu “pentolan” Petisi 50 yang melawan Pak Harto.

Salah satu cucu kakek, Airlangga Hartarto, anak Hartini-Hartarto, kini jadi Menko Perekonomian dan ketua unum Golkar.

Cucu lainnya, Laksamana Sukardi, pernah jadi banker, politikus kenamaan dan lebih dahulu jadi Meneg BUMN.

Boleh juga disebut, salah  satu mantu kakek kami, Day Sukardi, tercatat sebagai salah satu dari pilot perempuan pertama di Indonesia. Dunia digantara yang kemudian dilanjutkan oleh Samudra Sukardi, cucu kakek lainnya.

Apapun profesinya anak cucu keturunan kakek, semua keluarga besar, yang sudah melahirkan generasi kelima, hidup rukun dan damai. Satu ciri yang khas keluarga kami yang diperoleh dari kakek: rata-rata punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

“Warisan” nilai-nilai kejuangan kepada bangsa dan negara menjadi modal berharga ketimbang warisan harta benda, seperti kata Kakek, terbukti sudah.

Boleh jadi,  apabila anak cucu keturunan dahulu  oleh kakek kami diguyur warisan harta benda, tidak bakal “sesukses” atau “setabah” sekarang.

Apapun, kami keluarga besar R.H. Didi Sukardi, senantiasa bersyukur.

Wina Armada Sukardi

Wartawan Senior

Populer

Joko Widodo Kembali Bikin Heboh, Kali Ini Soal Babi Panggang Ambawang

Sabtu, 08 Mei 2021 | 07:06

Ajakan Presiden Jokowi Makan Babi Saat Lebaran, ICMI: Tidak Punya Empati!

Sabtu, 08 Mei 2021 | 13:17

Ini Penjelasan Firli Bahuri Soal Isu Pemecatan Novel Baswedan Dkk Karena Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan

Senin, 03 Mei 2021 | 19:59

Soal Jokowi Dan Babi Panggang, Joman: Pecat Pratikno

Sabtu, 08 Mei 2021 | 11:55

Presiden Jokowi Bisa Beri Mandat Kepada Jusuf Kalla Untuk Selesaikan Papua

Selasa, 04 Mei 2021 | 16:51

Ustadz Abdul Somad Diserang Kabar Burung, Kali Ini Tentang Kado Pernikahan

Minggu, 02 Mei 2021 | 22:03

Praktik Mandi Kotoran Sapi Untuk Cegah Covid-19 Makin Marak Di India, Dokter: Tidak Ada Bukti Ilmiah

Selasa, 11 Mei 2021 | 11:57

UPDATE

Target Kenaikan Pajak 14,9 Persen Sulit, PDIP: Dirjen Pajak Mulai Panik

Rabu, 12 Mei 2021 | 18:33

Akhir Ramadan, Wagub Ariza Ajak Masyarakat Doakan Palestina

Rabu, 12 Mei 2021 | 18:10

Kapolri Ungkap Satu Celah Pemeriksaan Kedatangan Penumpang Luar Negeri Di Bandara Soetta

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:54

Dewas KPK: SK Penyerahan Tugas 75 Pegawai TMS TWK Sesuai Kewenangan KPK

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:39

Bahas Situasi Gaza Dengan Putin, Erdogan Desak Pasukan Penjaga Perdamaian Dikirim Ke Palestina

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:25

Menteri Agama: Idulfitri Saat Pandemi Makin Perkuat Nilai Kemanusiaan

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:20

Mahmoud Ahmadinejad Resmi Daftarkan Diri Jadi Capres Iran

Rabu, 12 Mei 2021 | 17:03

Ngamar Saat PSBB, Oknum IKPP Perawang Beri Contoh Buruk Bagi Masyarakat

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:56

Perlu Anggaran Khusus Untuk Jadikan Ekonomi Hijau Tak Sekadar Wacana

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:35

Ketua Senator Imbau Warga Shalat Idulfitri Di Rumah Masing-masing

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:14

Selengkapnya