Berita

Demo anti-Prancis di Pakistan yang diawali dengan kemarahan pendukung partai yang dilarang karena dianggap radikal/Net

Dunia

Banyak Warga Prancis Tetap Pilih Tinggal Di Pakistan, Seruan Kedutaan Dianggap Berlebihan

SABTU, 17 APRIL 2021 | 16:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seruan Kedutaan Prancis yang memperingatkan warganya yang ada di Pakistan untuk pulang ke negaranya sepertinya tidak terlalu mendapat sambutan positif.

Komunitas Prancis di Pakistan terpecah antara ketidakpercayaan, ketakutan, dan kekesalan, sebagai reaksi atas seruan kedutaan mereka untuk meninggalkan negara itu setelah terjadi kerusuhan Francophobia minggu ini yang dilakukan oleh sebuah partai Islam ekstremis.

Sebagian besar dari mereka, tampaknya, telah memutuskan untuk tetap tinggal.


Dalam email singkat tiga baris, disertai dengan kata-kata 'mendesak', kedutaan besar di Islamabad pada hari Kamis (15/4) merekomendasikan warganya dan perusahaan Prancis untuk sementara meninggalkan Pakistan, karena 'ancaman serius'.

Email tersebut, yang tidak merinci sifat risikonya, menyebabkan keterkejutan dan kekhawatiran di antara beberapa ratus komunitas Prancis yang telah lama tinggal di Pakistan.

Jean-Michel Quarantotti, yang telah mengajar bahasa Prancis di sekolah Amerika di Islamabad selama tiga tahun, pertama kali diberitahu oleh seorang siswa di kedutaan.

"Saya tidak akan menyembunyikan dari Anda bahwa pada awalnya saya merasa sedikit takut, panik," katanya kepada AFP.

"Ini bukan negara asing pertama saya - saya melakukan banyak hal sebelum tiba di Pakistan - tetapi saya sangat terkejut. Saya tidak menyangka akan melalui ini."

Dia mengaku sempat berpikir untuk segera berkemas dan pergi, tetapi setelah mendiskusikan situasinya dengan rekan kerja, dia memutuskan untuk berpikir ulang.

"Orang Pakistan di sekitar saya menasihati saya untuk tetap tinggal. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan melindungi saya," ujarnya.

"Sangat mengharukan melihat solidaritas di sekitar saya, dari orang-orang yang mengatakan kepada saya: 'Kami di sini untuk Anda, jangan khawatir, kami akan membela Anda'," lanjutnya.

Pengumuman kedutaan datang setelah protes yang telah berlangsung selama berhari-hari yang berujunh pada kekerasan yang dilakukan oleh partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) yang dikenal radikal setelah penangkapan pemimpin Saad Rizvi di Lahore Senin. Aksi yang kemudian diikuti dengan seruan pengusiran duta besar Prancis. .

Empat polisi tewas dalam kerusuhan itu.

Banyak orang Prancis yang dihubungi AFP mempertanyakan waktu pengiriman pesan kedutaan karena pemerintah Pakistan baru saja mengumumkan larangan TLP dan tampaknya telah mengendalikan situasi.

"Ya, hidup di sini banyak risikonya, tapi kita tidak perlu membuat panik komunitas Prancis dengan kata-kata yang salah pilih," kata Quarantotti.

"Kami heran sedikit mengapa Prancis perlu mempublikasikan pesan ini di tingkat internasional, padahal itu bisa memberikan pesan yang jauh lebih rahasia kepada komunitas (Prancis)," ujarnya.

Warga negara Prancis lain, sebut saja Julien juga memilih untuk tetap tinggal.

"Itu rekomendasi, jadi saya tidak akan pergi," katanya kepada AFP.

Dia juga menolak tawaran majikannya untuk memulangkannya ke Eropa atau menempatkan penjaga bersenjata di luar rumahnya.

"Pokoknya, sejak Oktober, November, semuanya naik turun. Jadi kita tunggu sampai tenang," kata penduduk Islamabad itu.

"Semboyannya adalah kewaspadaan," tambah Laurent Cinot, konsultan Bank Dunia yang tiba di ibu kota kurang dari dua bulan lalu.

Dia mengatakan ancaman apa pun bukan dari orang Pakistan biasa, tetapi hanya TLP.

Orang Prancis lain yang tinggal di Lahore - yang tidak diizinkan menyebutkan namanya atau nama perusahaan Prancisnya karena alasan keamanan - telah menghabiskan hampir sepuluh tahun di Pakistan dalam dua tugas.

"Karena saya sudah lama di sini, saya tidak terlalu panik," katanya.

Namun, dia adalah satu-satunya warga negara Prancis yang dihubungi oleh AFP yang akan pergi - atas perintah majikannya.

Bagi Cinot, pesan kedutaan akan berdampak buruk dengan mengirimkan kembali gambaran yang sangat negatif tentang Pakistan ke Prancis.

"Sejujurnya, ini adalah negara yang luar biasa dengan orang-orang yang sangat menarik dan baik hati...," katanya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

UPDATE

Titik Terang di Beltim, PT Timah Diperbolehkan Beli Timah Rakyat

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:38

Mantri BRI Rela Terobos Kabut dan Jalan Terjal demi Jaga Asa Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:21

Alunan Bella Ciao Iringi Pembubaran Demo BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:57

BEM UI: Kemerdekaan Indonesia Masih Semu

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:45

Serba-Serbi Demo, Intel Cegat Massa Tak Berseragam Merapat Barisan BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:39

Peringatan Dini BMKG Modal Penting Hadapi Karhutla

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:28

MES Siapkan Jurus Jadikan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:13

Budaya KKN dan Koncoisme Penghalang Cita-cita Merdeka

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:00

Waspada! El Nino Tahun Ini Lebih Kuat dari 2015

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:48

Said Abdullah: Rekam Jejak Destry-Aida Jadi Modal Pimpin BI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:38

Selengkapnya