Berita

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov/Net

Dunia

Rusia Sesalkan Tudingan 'Perang Vaksin' Pada Moskow Dan Beijing Oleh Negara Barat

SABTU, 10 APRIL 2021 | 15:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tudingan sejumlah negara Barat kepada China dan Rusia yang menyebut kedua negara itu sedang melancarkan 'perang vaksin' disesalkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Dalam sebuah pernyataan baru-baru ini, Lavrov mengatakan ia sangat prihatin atas tudingan-tudingan yang menuduh Rusia dan sekutunya China memanfaatkan vaksin sebagai alat geopolitik.

"Ini adalah cerminan dari masalah yang berkaitan dengan vaksinasi di Barat, termasuk di UE," katanya. "Kami tidak pernah membuat pernyataan kritis dengan tidak masuk akal, dan kami tidak pernah bersukacita atas kemalangan mereka, termasuk dalam hal vaksin," kata Lavrov dalam konferensi pers bersama dengan Wakil Perdana Menteri Kazakhstan dan Menteri Luar Negeri Mukhtar Tleuberdi, seperti dikutip dari CGTN, Sabtu (10/4).


"Sementara Presiden kami berbicara tentang kerja sama dan mengumpulkan upaya, politisi Barat, melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda, menilai dari reaksi mereka," kata Lavrov.

“Kami bekerjasama dengan mereka yang menginginkan ini (kerjasama), yang peduli pada kesehatan rakyatnya,” tambahnya.

Sementara, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan vaksin adalah senjata untuk melawan pandemi global dan menyelamatkan nyawa, bukan alat untuk manuver politik.

Itu disampaikan Zhao sebagai tanggapan atas klaim Taiwan bahwa China akan membantu Paraguay dengan vaksin jika negara memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Karena terbatasnya jumlah vaksin Covid-19 yang disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada banyak kritik tentang nasionalisme vaksin karena laporan media menyoroti bahwa vaksin diblokir atau didistribusikan secara tidak merata.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Presiden Indonesia Joko Widodo mengecam negara-negara kaya untuk nasionalisme vaksin, dengan mengatakan bahwa "negara miskin, negara berkembang, negara maju harus diberikan perlakuan yang sama. Jika tidak, pandemi tidak akan berakhir."

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Fuad Bawazier: Kekayaan Alam Indonesia Dikuasai Segelintir Orang

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:19

Nanik Deyang Langsung Ditelepon DPR Usai Didemo Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:08

Eks Dirjen Kuathan Emosional Bela Leonardi: Ini Perjuangan Negara

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:53

Koperasi Karyawan Forwarder, Bukan Alat Konflik tapi Jembatan Keseimbangan

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:37

Mahasiswa Bubarkan Diri Usai Bertemu Dasco Cs

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:27

Fuad Bawazier Curiga Ada Penghambat di Lingkaran Istana

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:19

IDEacraft Sulap Produk Dekorasi Rumah Menjadi Peluang Usaha Berkat Pemberdayaan BRI

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:04

DPR Langsung Telepon Bahlil Menjawab Keresahan Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:35

Jalani Tes Kesehatan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Selangkah Lagi ke Meja Hijau

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:33

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukti Jokowi Sakti Mandraguna

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:22

Selengkapnya