Berita

Psiden Erdogan dan Kepala Dewan Uni Eropa Charles Michel duduk di kursi terpisah sementara von der Leyen awalnya dibiarkan berdiri, kemudian dipersilakan duduk di sofa, yang kemudian dikenal disebut sebaga insiden 'Sofagate'/Net

Dunia

Mantan Diplomat Eropa Bela Erdogan Atas 'Skandal Kursi': Turki Telah Menjalani Semua Protokol UE

JUMAT, 09 APRIL 2021 | 16:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kericuhan atas 'skandal kursi' yang menghebohkan Ankara masih terus dibahas para pejabat tinggi. Sementara beberapa pihak saling tuding dan melemparkan kesalahan, mantan kepala Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker, memilih untuk mengevaluasi kritikan di pers Eropa.

Kritikan itu datang ketika Turki ternyata tidak menyiapkan kursi untuk Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen saat mengunjungi Presiden Recep Tayyip Erdogan di Istana Kepresidenan Ankara bersama Kepala Dewan Uni Eropa Charles Michel.

Pengaturan tempat duduk pada pertemuan hari Selasa (6/4) itu, di mana Presiden Turki dan Kepala Dewan Uni Eropa Charles Michel duduk di kursi terpisah sementara von der Leyen awalnya dibiarkan berdiri karena hanya dua kursi yang tersedia.


Von der Leyen kemudian ditawari tempat duduk di sofa, dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu juga duduk di sofa terpisah di seberangnya.

Ketika kritikan itu datang, Çavuşoğlu telah menjelaskan bahwa pengaturan tenpat duduk sudah ditetapkan atau dimita oleh pihak UE.

Juncker pun berkomentar, "Ketika saya bepergian dengan (Donald) Tusk atau (Herman) Van Rompuy, saya selalu menghormati perintah protokoler itu.  Biasanya saya memiliki kursi di sebelah kursi presiden Dewan, tetapi kadang-kadang kebetulan saya duduk di atas sofa," kata Juncker kepada POLITICO dalam wawancara telepon.

Mengatakan bahwa protokol untuk Leyen harus berbeda, karena bagaimana pun Presiden Komisi Eropa adalah nomor satu.

Namun, menurutnya, hal itu menjadi besar karena adanya sudut pandang yang berbeda. Juga terkait masalah dan reaksi dari pers Uni Eropa dan harian Prancis Liberation. Foto yang diambil menimbulkan kesan 'misoginis' oleh banyak pengguna media sosial.

"Jangan mengandalkan tampilan visual, karena dalam kasus itu, Turki menerapkan protokol UE. Sehingga protokol adalah tanggung jawab UE," katanya.

Diplomat Prancis Gerard Araud yang sebelumnya menjabat sebagai duta besar untuk Israel, PBB, dan AS, juga menyebutkan aturan protokol Uni Eropa dan mengatakan Turki tidak bertanggung jawab atas masalah tersebut.

Menanggapi postingan yang dibagikan oleh beberapa jurnalis yang mengkritik Turki, dia pun menggarisbawahi, mestinya seorang jurnalis dalam menuliskan sebuah kasus harus meneliti lebih dulu.

Peristiwa 'Sofagate' itu adalah tanggung jawab UE bukan di Turki. Seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu: “Pengaturan tempat duduk dibuat sesuai dengan saran UE. Titik. Kami tidak akan mengungkapkan fakta ini seandainya tidak ada tuduhan terhadap Turki!"

Peristiwa pengaturan tempat duduk ini menjadi ramai dan memicu ketegangan baru antara Turki dengan UE dan ditambah dengan Italia. Perdana Menteri Italia Mario Draghi sempet mengkritik Erdogan atas peristiwa itu.

Sementara, mantan Duta Besar Italia untuk Ankara, Carlo Marsili, mengatakan dia menganggap tuduhan 'seksisme' terhadap Presiden Erdogan tidak relevan. Berbicara kepada agensi Adnkronos, Marsili mengatakan bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel sering mengunjungi Turki dan situasi seperti itu tidak pernah terjadi.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Anjlok Hampir 6 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:29

Trump dan Gedung Putih Unggah Peta Baru Selat Hormuz yang Bikin Panas Iran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:17

Wall Street Merah, Saham Teknologi Berguguran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:04

Harvard Didenda Rp947 Miliar atas Skandal Penjualan Bagian Tubuh Jenazah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:03

Dolar AS Bergerak Terbatas, Indeks DXY Menguat Tipis di Level 99,63

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:47

Logam Mulia Serempak Anjlok Dihantam Naiknya Imbal Hasil Obligasi

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:25

Bursa Eropa Loyo, Saham Teknologi Berguguran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:06

Konsep Ketahanan Iklim Ala Indonesia Menggema di Forum Menteri LH Anggota BRICS

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:59

Kenaikan Anggaran Pendidikan Harus Wujudkan Sekolah Dasar Gratis

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:32

42 Pemegang Izin Kehutanan Ditindak Gegara Karhutla

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:19

Selengkapnya