Berita

Arloji langka yang terkait dengan tragedi Lapangan Tiananmen yang semula akan dijual di rumah lelang Inggris/The Guardian

Dunia

Tuai Kecaman Hingga Ancaman, Rumah Lelang Ini Batal Jual Arloji Langka Terkait Tragedi Lapangan Tiananmen

KAMIS, 01 APRIL 2021 | 23:11 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebuah rumah lelang mewah di Inggris yakni Fellows menjadi sorotan pekan ini. Pasalnya, mereka tiba-tiba saja memutuskan untuk menarik penjualan sebuah arloji langka yang kontroversial.

Arloji yang semula akan dijual itu merupakan benda yang sarat akan makna sejarah. Pasalnya, pada arloji tersebut terdapat gambar sosok seorang tentara dengan helm hijau dan ada tulisan dalam bahasa mandarin di bawahnya yang jika diartikan berarti "89.6 untuk memperingati pemadaman pemberontakan".

Arloji itu memang merupakan saksi bisu dari penggalan sejarah pahit dan kejam yang pernah terjadi di Lapangan Tiananmen, karena arloji itu diberikan kepada tentara China sebagai hadiah atas peranan mereka dalam pembantaian Lapangan Tiananmen.


Tragedi pembantaian Lapangan Tiananmen sendiri terjadi tahun 1989 dan merupakan penggalan pahit dalam sejarah China di mana banyak orang tewas dibunuh. Pada saat itu, ribuan mahasiswa dan pengunjuk rasa pro-demokrasi berkumpul di Lapangan Tiananmen di Beijing. Tidak diketahui dengan pasti berapa banyak yang terbunuh dalam tragedi itu, namun diperkirakan jumlahnya hingga ribuan orang.

Merujuk pada buku "The People's Republic of Amnesia: Tiananmen Revisited", penulis Louisa Lim mengatakan bahwa arloji itu adalah salah satu dari beberapa kenang-kenangan yang diberikan kepada tentara China (PLA) atas peran mereka dalam menekan protes mahasiswa.

Diyakini hanya ada beberapa ratus jam tangan yang ada, termasuk satu yang dipajang di sebuah pusat studi di Universitas Yale.

Sementara itu pihak rumah lelang, Fellows mengatakan bahwa arloji itu berasal dari koleksi pribadi dan telah ditinggalkan di lemari selama bertahun-tahun. Sang pemilik tidak mengetahui nama prajurit yang sebelumnya memiliki arloji tersebut.

Fellows juga mengatakan bahwa dalam penyelidikan mereka terhadap asal muasal arloji tersebut, mereka menemukan bahwa sang pemilik tidak terkait dengan tentara atau pemerintahan China.

Semula pihak Fellows mengumumkan bahwa arloji itu akan menjadi salah satu barang milik vendor individu yang dijadwalkan untuk dijual pada lelang tanggal 19 April mendatang. Namun, tidak lama setelah mengumumkan hal tersebut, pihak Fellows mengumumkan kembali bahwa arloji itu ditarik dari penjualan.

Langkah itu diambil pihak rumah lelang setelah mereka menerima ancaman dan kecaman online.

"Ancaman yang dilakukan di media sosial terhadap pemilik jam tangan ini membuat vendor mengungkapkan kekhawatirannya tentang keselamatan mereka. Kami telah mengambil keputusan untuk menghapus jam tangan ini dari pelelangan," begitu pengumuman yang disampaikan pihak Fellows.

Sementara itu, seorang jurubicara rumah lelang itu mengatakan kepada The Guardian pada Kamis (1/4) bahwa salah satu bentuk kecaman yang mereka terima adalah balasan sebuah cuitan di Twitter atas berita soal lelang arloji itu dengan kalimat, "bukti yang dapat diterima dan pemiliknya harus dilacak dan diadili atas pembantaian yang coba ditutup-tutupi oleh China?".

"Bukan tempat kami untuk mengomentari peristiwa di masa lalu. Penting bagi kami untuk menyoroti peristiwa bersejarah dan melaporkannya dengan cara yang hormat dan tidak bias," kata pihak Fellows.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya