Berita

Menteri Perhubungan era Presiden Soeharto, Emil Salim/Net

Politik

Sindir Kereta Cepat, Emil Salim Berharap Proyek Ibukota Negara Lebih Transparan

RABU, 31 MARET 2021 | 09:29 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pembangunan proyek kereta cepat yang target penyelesainnya terus molor dan menguras biaya yang tidak sedikit mendapat kritik dari Menteri Perhubungan era Presiden Soeharto, Emil Salim.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden era Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mengkritik pembangunan protek kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilaksanakan tanpa studi kelayakan yang matang.

Proyek itu juga dinilainya tanpa analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) dan perhitungan biaya manfaat.


“Masyarakat juga tidak terlibat, dengan akibat seperti sekarang ini,” sindirnya lewat akun Twitter pribadi, Selasa (30/3).

Emil Salim turut menyoroti fakta bahwa pembangunan proyek Menteri BUMN di periode pertama Presiden Joko Widodo itu yang tanpa kesepakatan dengan Menteri Perhubungan lama. Menurutnya, proyek ini perlu dikaji ulang secara mendalam.

“Kereta api cepat Jakarta-Bandung dibangun RI bersama RRT, kini diundurkan penyelesaiannya ke 2024 dengan biaya naik jadi 1,39 miliar dolar AS yang dipikul bangsa. Perlu dikaji mengapa bisa begitu?” tuturnya.

Di satu sisi, pria kelahiran Lahat, Sumatera Utara itu juga khawatir hal serupa akan dialami oleh proyek ibukota negara baru yang saat ini terus didengungkan pemerintah. Dia berharap proyek ini bisa lebih transparan sehingga bisa berjalan sesuai dengan yang ditargetkan.

“Bisakah studi kelayakan “membangun ibukota negara baru” secara transparan melibatkan masyarakat?” tutupnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya