Berita

Kapal tunda berusaha menarik kapal kargo raksasa Ever Given yang terjebak di Terusan Suez/Net

Dahlan Iskan

Ever Matematika

SENIN, 29 MARET 2021 | 04:58 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PENDUDUK desa di tepi Terusan Suez itu punya tebak-tebakan baru: apa saja isi kontainer di atas kapal Ever Given yang terdampar di dekat rumah mereka itu.

Sejak Selasa pagi lalu salah satu kapal terbesar di dunia itu menjadi warga baru desa Manshiyet Rogola. Itulah desa yang berada di bibir Terusan Suez.

Selasa pagi lalu semua penduduk desa keluar rumah. Mereka lari ke pinggir Terusan Suez. Mereka mendongak sambil terkagum-kagum: begitu tinggi tumpukan kontainer di atas kapal itu.


Petugas desa melarang mereka merangsek terlalu dekat. Tapi kapal itu –saking besarnya–sudah seperti sedang parkir di halaman mereka.

Itulah desa terdekat dengan kapal yang buritan dan haluannya tertancap di bagian dangkal pinggiran terusan Suez, Mesir. Desa itu sangat miskin. Jalan-jalannya masih tanah berpasir. Persis tanah yang ada di tepi sungai buatan itu.

Mereka ada yang bermimpi: kalau satu saja kontainer itu diturunkan di desa itu, dan kontainer itu berisi kulkas, maka penduduk satu desa akan berkulkas semua.

Padahal di atas kapal itu terdapat 20.000 kontainer ukuran 40 feet.

Pun kalau penduduk diperbolehkan mengambil satu saja, mereka tidak akan bisa menurunkannya. Kontainer paling atas di kapal itu lebih tinggi dari pohon kurma tertinggi yang ada di desa itu.

Sepanjang Selasa siang itu mereka terkagum-kagum akan besarnya kapal yang tertancap di desa mereka. Yang panjangnya 400 meter. Lebarnya 59 meter.

Dan ketika senja telah tiba kekaguman itu bertambah-tambah. Apalagi ketika hari mulai gelap. Tiba-tiba saja desa itu seperti bertetangga dengan kota besar metropolitan. Yang lampu-lampunya bergemerlapan. Begitu banyak dan terang lampu-lampu penerangan di kapal itu.

Saya pernah menikmati pemandangan seperti itu. Dulu kala. Di Samarinda. Ketika malam tiba saya sering duduk-duduk di tepi sungai Mahakam. Dari tepian sungai yang gelap itu kami memandang ke tengah sungai: begitu banyak kapal besar terapung di tengah sungai.

Itulah kapal-kapal Jepang pengangkut emas hijau –kayu-kayu dari hutan Kaltim. Cahaya lampunya begitu gemerlapan. Apalagi banyak yang memantul di permukaan air Mahakam. Listrik kota Samarinda yang waktu itu begitu redupnya seperti diejek oleh cahaya kapal-kapal asing itu.

Yang di desa Terusan Suez itu kapalnya bukan lagi di tengah sungai. Tapi menempel di desa mereka. Besarnya pun bukan lagi seperti kapal besar di sungai Mahakam –tapi salah satu yang terbesar di dunia. Maka cahaya listrik di desa itu langsung terasa redup –dipelototi cahaya gemerlap dari atas kapal.

Sudah enam hari desa itu menjadi begitu indahnya. Indah yang memilukan. Maka betapa kembali sepinya desa itu nanti, ketika Ever Given berhasil diapungkan –lalu meneruskan perjalanan menuju Rotterdam, Belanda.

Tapi kapan?

Air pasang tinggi di malam Nisfu Sa'ban (bulan purnama di tengah bulan Ruwah) kemarin ternyata gagal dimanfaatkan. Dengan air pasang saja kapal itu tidak berhasil diapungkan. Berarti kapal ini tertancap agak dalam.

Padahal kapal penarik juga sudah ditambah menjadi 14 buah. Masih bergeming. Kemampuan kapal sedot pasir 2.000 m3/jam juga belum ada artinya.

Maka tidak banyak lagi pilihan. Sudah saatnya ilmu matematika yang tampil ke depan.

Anggap saja draft (permukaan air sampai bagian terbawah kapal) sedalam 14,5 meter. Maka, para ahli perkapalan menghitung, draft itu perlu dikurangi 1 meter –menjadi 13,5 meter.

Untuk itu tidak ada cara lain: muatan kapal itu harus dikurangi.

Dikurangi berapa?

Untuk menaikkan draft 1 meter itu, menurut hitungan mereka, muatan yang harus diturunkan sebesar 23 juta kilogram. Atau 230.000 ton.

Ada tiga pilihan: cadangan air di kapal itu yang dibuang, atau bahan bakarnya, atau sebagian kontainer.

Yang menghitung itu bukan penduduk desa Rogola. Jadi, tidak ada niat, misalnya, agar ada kontainer yang diturunkan di desa itu.

Yang menghitung tersebut adalah para ahli –yang tidak sabar melihat ratusan kapal ikut tersandera. Mereka antre di belakang dan di depan Ever Given untuk bisa segera melintasi Suez.

Kalau muatan yang dikurangi adalah air, maka diperlukan membuang air 27.000 ton. Itu sama dengan air di 10 kolam renang ukuran Olimpiade.

Membuangnya gampang: buang begitu saja ke Laut Merah. Tidak akan ada yang marah.

Bagaimana kalau yang dibuang itu bahan bakarnya? Bisa. Lebih cepat: hanya perlu membuang 23.000 ton minyak solar. Membuangnya juga gampang. Banyak kapal lain yang mau jadi tempat pembuangan. Toh harga air tawar tidak jauh lebih murah dari harga solar –apalagi kalau air itu dibeli di pelabuhan.

Bagaimana kalau jumlah kontainernya yang dikurangi?

Maafkan wahai penduduk desa, mengurangi jumlah kontainer ternyata paling sulit. Dari mana bisa mendapat crane setinggi tumpukan kontainer itu.

Apalagi, untuk mengurangi draf 1 meter diperlukan mengurangi sebanyak 605 kontainer. Asumsinya: ukuran setiap kontainer adalah 2,4 mt x 12,2 mt x 2,6 mt. Total volume: 76,1 m3. Density kontainer itu 500 Kg/m3. Maka massa satu kontainer adalah 38 ton.

Kalau berat kapal yang harus dibuang adalah 23 juta kilogram, maka perlu mengurangi 605 kontainer.

Tidak ada alat pengangkat kontainer sebanyak itu. Satu-satu pilihan adalah diangkat pakai helikopter khusus. Setiap 30 menit bisa berkurang satu kontainer. Di taruh di pinggir terusan. Pekerjaan itu memakan waktu 7 hari.

Maka secara matematika, pilihan terbaik adalah membuang bahan bakar. Enam hari lagi Ever Given akan kembali mengapung. Agar kapal lain yang sudah menunggu lebih 10 hari bisa bergerak.

Ayo kita tebak: cara mana yang akhirnya berhasil mengapungkan kapal Jepang yang disewa Taiwan itu. Yang berangkat dari Shenzhen untuk tujuan Amsterdam itu.

Kalau pun Ever Given berhasil diapungkan, persoalannya tidak akan tenggelam. Otoritas Terusan Suez mulai menyuarakan: ada masalah teknis dan manusia di drama Suez ini. Tidak akan mudah mencari kambing hitam di negeri kambing –Mesir itu.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya