Berita

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan/Net

Politik

Zulkifli Hasan: Apapun Motifnya, Bom Di Makassar Tidak Bisa Dibenarkan

MINGGU, 28 MARET 2021 | 14:12 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kutukan keras atas insiden bom di depan Gereja Katedral, Makassar terus mengalir. Teranyar, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan yang dengan tegas menyatakan kutukan atas aksi yang tak beradab itu.

“Apapun motif yang melatarbelakanginya, tindakan ini (bom Makassar) tidak bisa dibenarkan. Pelaku dan jaringannya, perlu diusut tuntas hingga ke akar-akarnya,” tegas Zulkifli Hasan kepada wartawan, Minggu (28/3).

Wakil Ketua MPR RI itu mendorong pemerintah melalui aparat berwenang untuk segera melacak pelaku aksi yang diduga bom bunuh diri ini.


Biasanya, sambung Zulhas, kejadian seperti ini tidak bersifat tunggal dan terpisah. Artinya, jika pelaku memang terhubung dengan jaringan teroris tertentu, maka perlu segera diusut semua aktor yang terlibat.

“Karena kejadian ini sudah menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat,” tekannya.

Lebih lanjut, mantan Menteri Kehutanan ini meminta kepolisian untuk meningkatkan keamanan di tempat-tempat ibadah.

Kejadian ini, menurutnya akan sangat mengganggu ketenangan kerukunan beragama dan kehidupan berbangsa kita.

Jika tidak cepat terungkap latar belakang dan aktornya, maka dikhawatirkan terjadi saling curiga dan saling tuduh yang berbahaya.

“Tindakan kekerasan ekstrem dan terorisme semacam ini tidak dibenarkan dalam agama manapun,” tegas Zulhas.

Lebih lanjut, Zulhas berharap ledakan bom tersebut tidak memakan korban jiwa maupun luka.

“Semoga saudara-saudaraku semua umat Nasrani yang tengah beribadah di Gereja Katedral Makassar pagi ini mendapat perlindungan,” ujarnya.

“Akhirnya, saya menyampaikan bela sungkawa mendalam kepada para korban dan keluarganya. Mari kita bergandeng tangan, terorisme dan kekerasan yang merusak kerukunan bangsa ini adalah musuh kita bersama,” demikian Zulkifli Hasan.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya