Berita

Muhammad Muchlas Rowie/RMOL

Publika

Catatan Muktamar, IPM Dan Era Digital

JUMAT, 26 MARET 2021 | 03:31 WIB

SAYA sempat khawatir, karena jelang Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang ke 22 saya dikirimi video pelaksanaan muktamar beberapa organisasi pelajar dan mahasiswa yang rusuh dan tak mengindahkan protokol kesehatan.

Tapi saya diberitahu, jika pelaksanaan Muktamar IPM yang awalnya dijadwalkan dihelat pada November 2020, ternyata diundur Maret 2021 dan dilaksanakan secara daring.

Dan akhirnya, hari ini, pertama dalam sejarah, IPM akan menggelar Muktamar Online 25-28 Maret 2021.


Tema yang mereka usung cukup menarik, yatu “Beyound the Limit Reframe the Future.“ maksudnya, IPM ingin memberikan jawaban atas keresahan-keresahan pada permasalahan yang ada.

Sekaligus menyusun strategi dakwah pelajar yang kreatif sebagai pengejawantahan dari misi Islam berkemajuan, serta menyusun isu-isu strategis pergerakan sebagai organisasi pelajar bertaraf global.

Saya setuju, dan perlu diingat, satu hal yang juga penting didorong pada Muktamar kali ini adalah pentingnya diaspora kader.

Salah satu persoalan yang seringkali ditemukan para kader di ortom-ortom Muhammadiyah adalah ketergantungannya pada amal usaha Muhammadiyah yang ada.

Mengurus rumah memang sebaiknya dilakukan sendiri, tapi sesekali perlu juga kita melipir untuk tau dan belajar di luar rumah.

Kader-kader alaangkah baiknya didorong untuk melakukan diaspora gerakan. Melakukan perjalanan intelektual, hijrah ke tempat-tempat yang memiliki peradaban yang berbeda. Ada pengalaman baru, dan tentu saja nilai dakwah yang berbeda.

Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasaka payah dan peluh bekerja dan berusaha. Begitu kata mujtahid Islam Imam Syafii dalam sebuah syairnya.

Saya juga teringat perkataan Ketum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir bahwa memasuki era globalisasi, diaspora manusia atas berbagai faktor ke berbagai belahan bumi lainnya semakin tak terelakan.

Persaingan antar bangsa menjadi lebih ketat. IPM harus mengambil peran itu.

IPM harus menatap program internasionalisasi untuk bersaing menyebarkan gagasan, gerakan, manhaj dan ideologi persyarikatan sebagai alternatif bagi dunia internasional.

Karena itu, penting memahami semangat ini agar kita tidak terperangkap dalam sangkar besi kehidupan. Merasa semua sudah mencapai puncaknya, tapi ketika fakta menunjukkan ketertinggalan lalu kita teriak jadi korban konspirasi pemikiran.

Saya kira, IPM harus mengambil inisiatif untuk mengejawantahan amanat Muktamar ke-47 Makasar tahun 2015, soal program internasionalisasi atau diaspora gerakan.

Kader-kader IPM harus labih banyak lagi yang melakukan studi, perjalanan intelektual, atau bahkan menjalin kerjasama inovasi dengan pihak luar.

Beberapa hari lalu, saya menulis tentang dua anak muda Muhammadiyah yang sukes dan mendunia gegara melakukan inovasi dan berkolaborasi dengan pihak luar. Mereka adalah Riza Azumarrida Azra dan Irfan Amalee. Dua sosok panutan, bahwa sukses tak mesti lewat jalur kekuasaan dan politik.

Rasanya, Muhammadiyah sudah cukup membangun pondasi gerakan yang kokoh selama satu abad di dalam negeri, kini mari melangkah keluar dari sangkar-sangkar besi itu. Lalu lakukan dakwah komunitas.

Memberikan seruan kebaikan, kepada kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang memiliki karakter spesifik.

Seperti dalam bahasa aslinya, komunitas atau communitas yang artinya kesamaan. Dakwah komunitas menyasar kelompok sosial yang memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dan di luar negeri, kita bisa menemukan ada begitu banyak komunitas yang bisa kita masuki, pelajari, lalu sampaikan narasi kebaikan.

Penting diingat, bahwa ajakan dakwah Muhammadiyah adalah ajakan yang tujuannya dapat tercapai tanpa paksaan (persuasif). Dakwah Islam adalah seruan untuk berpikir, berdebat dan berargumen dengan kebenaran (rasional-intelektual).

Dakwah bukan kegiatan indoktrinasi dan dogmatisasi. Dakwah adalah universal, diserukan kepada semua umat manusia.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada momentum Muktamar IPM ini adalah pentingnya kita menyentuh kalanan milenial yang terbiasa dengan gawai, mereka harus diberi narasi tentang pentingnya membangun keadaban digital.

Setelah hampir 1 abad lamanya, ide soal gudang penyimpanan pengetahuan dunia mengubah banyak hal di dunia. Termasuk cara berpikir para pelajar kita yang gemar menggenggam gawai. Mereka lalu masuk dalm serpikan alur algoritma di dalam dunia internet.

Betapapun algoritma merupakan kunci dari semua perubahan mutakhir yang saat ini terjadi, dan banyak orang yang berkelakar ‘apa yang terjadi jika di dunia ini tidak ada algoritma’, tapi tetap saja memiliki sisi lain yang disebut Irene Taylor sebagai sudut gelap dunia maya.

Algoritma secara tak langsung berkontribusi menciptakan apa yang disebut sebagai echo-chamber (ruang gema). Kondisi dimana seseorang menerima informasi, ide dan gagasan homogen secara berkala.

Algoritma pun membuat filter sehingga pandangan lain tidak dapat masuk dalam ‘ruang’ itu.

Lebih lanjut, algoritma memungkinkan user meraih informasi sesuai riwayat penggunaannya, secara perlahan tapi pasti informasi yang dipasok disesuaikan dengan preferensi yang dikehendaki. Sementara yang tak sesuai akan tersingkir dengan sendirinya.

Disinilah pentingnya mengelola atau bahkan memberikan ‘narasi alternatif’ di ruang-ruang digital.

Artinya, mesti kita pahami, jika tidak cerdas dalam menyikapi dinamika sosial di ruang digital maka yang terjadi adalah pendegradasian nilai dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Isu nyinyir, pemikiran menyimpang, ujaran kebencian dan permusuhan, serta hoaks pun tumbuh kian subur. Lalu menjadi virus yang buruk bagi generasi milenial.

IPM adalah ruang diskusi, rumah kawah candradimuka para pelajar Muhammadiyah. Stasiuan tempat mengisi batrei kehidupan. Periuk yang berisi nutrisi kebaikan.

Peran IPM sangat strategis dan dibutuhkan para milenial untuk menghadapi masa depan.

Muhammad Muchlas Rowie

Penulis adalah Wakil ketua PP IPM 1996-2000

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya