Berita

Rangkaian International Women Day (IWD) 2021 diisi The Asia Foundation (TAF) bersama Sikola Mombine menggelar acara testimoni pemimpin perempuan secara virtual pada Kamis (25/3)/Net

Nusantara

Berbagi Cerita IWD 2021, Perempuan Hebat Penjaga Sumber Daya Alam

KAMIS, 25 MARET 2021 | 22:32 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Rangkaian International Women Day (IWD) 2021 diisi The Asia Foundation (TAF) bersama Sikola Mombine menggelar acara testimoni pemimpin perempuan secara virtual pada Kamis (25/3).

Pada sesi pembukaan, perwakilan Foreign Commonwealth Development Office (FCDO) Daniel Jones, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Selain itu ia juga mengaku bangga dengan kerjasama dengan para pihak di Indonesia dalam mewujudkan tata kelola SDA.


“Pemerintah Inggris sangat bangga dengan kerjasama di Indonesia, dan sangat bangga bisa mendukung pemerintah dalam mewujudkan tata kelola SDA yang baik,” kata Jones.

Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari Aceh sampai Papua tersebut menghadirkan lima pemimpin perempuan untuk menceritakan perjalanan perjuangannya dalam mengurangi dampak bencana ekologis dengan mengelola hutan dan lahan secara berkelanjutan.

Kelima pemimpin perempuan tersebut adalah Roslena dari Kota Palu, Sulawesi Tengah; Ibu Subiyanti dari Kubu Raya, Kalimantan Barat; Sumini dari Bener Meriah, Aceh; Mama Asnat Iha dan Mama Rahma dari Fakfak, Papua Barat, dan Asnir Umar dari Gunung Talang, Sumatera Barat.

Diceritakan Roslena, ia menggerakkan kelompok perempuan dan masyarakat untuk melakukan penolakan tambang galian, menggerakkan penanaman pohon, dan pemetaan jalur evakuasi jika terjadi bencana.

“Kami melakukan penanaman pohon bersama anak-anak, perempuan dan lembaga-lembaga pemerintah. Selain itu, kami juga melakukan pemetaan jalur evakuasi, karena di daerah saya rentan bencana,” tutur Roslina.

Dia mengaku seringkali melakukan penolakan tambang galian yang berpotensi merusak lingkungan. Hal itu dilakukan untuk melindungi SDA dan mengantisipasi terjadinya bencana, supaya keberlajutan ruang hidup masyarakat terlindungi.

Kepada pemerintah Kota Palu, Roslena berharap lahan kosong yang cukup banyak di daerahnya dapat dimanfaatkan menjadi lahan produktif. Selain itu, juga dapat memetakan daerah-daerah rawan bencana serta melakukan penanaman pohon untuk mengantisasi banjir dan longsor.

Cerita tak kalah hebat disampaikan Subiyanti. Dia tinggal di sebuah desa dengan dikelilingi wilayah gambut. Hampir setiap tahun mengalami kebakaran hutan dan lahan. Kabut pekat dan udara yang buruk seolah manjadi makanan sehari-hari.

Bersama perempuan-perempuan di desanya, Subiyanti mengelola lahan-lahan bekas kebakaran dengan tanaman pangan dan herbal.
Selain itu juga menjadi penggerak perempuan untuk melakukan kampanye untuk tidak melakukan pembakaran ketika suaminya hendak mengolah lahan pertanian.

“Sebagai ketua KWT (Kelompok Wanita Tani), kami selalu mengajak ibu-ibu untuk menanam di kebun yang kami kelola karena hampir setiap tahun kami menjadi korban kebakaran. Dengan menanam setiap tahun, kami berharap kelompok tani yang lain, kepada bapak-bapaknya, juga ikut menjaga kelestarian lahan,” katanya.

Di samping memberi contoh, Subiyanti juga melakukan sosialiasasi, mengingatkan masyarakat bahwa membakar hutan sangat merugikan.

Pasalnya, kabut asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, ibu hamil dan lansia, mereka yang paling terdampak langsung.

“Kami juga mengajak suami untuk tidak meninggalkan kampung, karena setelah kebakaran tahun kemaren banyak orang pindah ked aerah lain. Kami mengajak suami untuk mengolah lahan bekas kebakaran, supaya di tahun-tahun berikutnya tidak terjadi kebakaran lagi,” ungkapnya.

Cerita inspiratif juga hadir dari Mama Asnat Iha dan Mama Rahma dari Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.

Mereka menceritakan awal mula perjuangan untuk menanam kembali komoditas unggulan pohon pala dan kayu besi yang sebagian besar telah rusak, juga penanaman tanaman pangan sejak tahun 2005 dengan 20 orang perempuan.

“Sejak 2005 kami telah menanam pohon pala dan kayu besi, karena banyak yang rusak. Selain itu mama-mama juga menanam di pekarangan agar dapat memenuhi kebutuhan pangan,” jelas Mama Iha.

Kelompok mama-mama tersebut pada tahun 2018 telah mengajukan usulan hak kelola hutan desa seluas 3.998 Ha yang sampai saat ini masih dalam tahap verifikasi.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Prabowo Instruksikan Harga Minyak Nonsubsidi Turun Ikuti Harga ICP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:57

Gerakan Koperasi Kerakyatan Soemitro Didorong Jadi Syarat Seleksi Manajerial KDMP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:46

Merawat Konstitusi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:42

DKI-Bali Perkuat Kerja Sama, Obligasi Daerah Jadi Bahasan Utama

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:34

Tak Benar soal Surpres Pergantian Kapolri

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:31

Gagah saat Malak, Mendadak Ingat Anak-Istri Waktu Mau Dipecat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:25

Harus Ada Langkah Konkret Atasi Kerugian Peternak Ayam Akibat Pemadaman Listrik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:23

Prabowo Lepas Kepulangan PM Tailan dari Lanud Halim

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:20

Jalur Wisata Bromo Ditutup Total Gegara Kebakaran Hutan di TNBTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:11

IHSG Terbang 1,37 Persen ke 6.319

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:44

Selengkapnya