Berita

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono/Net

Politik

Kata Arief Poyuono, Indonesia Tidak Cocok Meniru Presiden Dua Periode Ala Amerika Serikat

KAMIS, 18 MARET 2021 | 09:57 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Landscape atau bentangan politik di Indonesia jauh berbeda dengan di Amerika Serikat. Sehingga sistem kepemimpinan di Indonesia tidak bisa serta merta meniru Amerika Serikat walaupun kini menjadi negara demokrasi yang maju.

Begitu kira-kira yang hendak disampaikan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono dalam acara Mata Najwa “Gaduh tiga Periode” yang digelar pada Rabu malam (17/3). Turut hadir satu meja dengan Arief, pengamat dari Indobarometer, M. Qodari; pakar hukum tata negara, Refly Harun; dan Jurubicara Presiden, Fadjroel Rachman.

Arief mengurai bahwa Amerika Serikat hanya terdiri dari dua partai, sehingga wajar jika jabatan presiden dibatasi dua periode, di mana satu periode adalah empat tahun.


Sementara Indonesia memiliki banyak partai. Sehingga, presiden yang terpilih pasti akan dihadapkan pada masalah konsolidasi di awal pemerintahan. Artinya, waktu untuk benar-benar menakhodai bangsa ini menjadi menipis.

“AS cuma dua partai, Indonesia berkarung-karung. Abis presiden terpilih ya dagang kebo. Artinya tidak ada stabilitas dalam kepemimpinan nasional,” tegasnya.

Kondisi demikian, kata Arief Poyuono, juga akan membuat investor enggan menanamkan modal untuk investasi jangka panjang di Indonesia. Sebab, tidak adanya stabilitas dalam dunia politik.

“Investasi jangka panjang sedikit karena investor takut,” tuturnya.

Arief menekankan bahwa idenya agar jabatan presiden tiga periode bukan serta merta diartikan bahwa presiden akan menjabat selamanya dan menjadi otoriter. Dia yakin 85 persen rakyat Indonesia akan mendukung idenya tersebut.

“Tiga periode itu bukan artinya selama-lamanya,” demikian Arief.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya