Berita

Lalat sehari/Net

Jaya Suprana

Hidup Sehari Hanya Untuk Reproduksi

KAMIS, 11 MARET 2021 | 09:35 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PARA ilmuwan senirupa sengit berdebat mengenai apa sebenarnya satwa serangga kecil mungil yang berada di sudut bawah kanan mahakarya engraving yang digarap pada sekitar tahun 1495 oleh Albrecht Duerer.

Ada yang bilang bahwa serangga mungil itu adalah capung alias odonata namun ada pula yang menegaskannya sebagai kupu-kupu (lepidoptera) sebagai lambang resureksi serta pengampunan dosa pada sosok bayi Jesus yang dipangku Bunda Maria.

Di samping ada yang meyakininya sebagai belalang (acrididae) atau belalang sembah (mantodea).


Berdasar fakta sosok tubuh memanjang, saya menganggap sosok serangga mungil yang ditampilkan Duerer itu adalah Mayfly yang lazim mewabah pada sekitar bulan Mei di kawasan empat musim.

Purba


Para entomologis menyatakan bahwa Mayfly sudah eksis jauh sebelum kaum dinosarus berkeliaran di planet bumi. Mayfly merupakan jenis serangga purba yang mampu terbang dengan tubuh yang panjang dan rentangan sayap tunggal tidak berlipat.

Akibat tidak memiliki organ pencernaan, Mayfly dalam bentuk imago alias dewasa praktis tidak makan makanan apa pun maka memiliki daur-usia sangat singkat sekitar hanya beberapa jam saja untuk menunaikan utama utama dan satu-satunya yaitu berkembang biak.

Setelah membuahi sang betina, langsung sang jantan meninggalkan dunia fana dengan terkapar di permukaan air untuk secara leluasa dilahap oleh para predator mulai dari ikan, udang sampai burung yang sangat menggemari Mayfly sebagai santapan penuh nutrisi.

Saya tidak tahu apakah manusia makan Mayfly namun banyak nelayan menggunakan Mayfly sebagai umpan pancing demi memancing ikan. Bahkan para pemancing kreatif membuat Mayfly palsu sebagai umpan sebab bentuk Mayfly memang sangat menarik perhatian para satwa air.

Entomologis

Mahaguru Entomologi saya merangkap mahaguru Ekologi-Evolusi Departemen Proteksi Tanaman IPB , Prof. DR. Damayanti Buchori menegaskan bahwa Mayfly juga ditemukan di Indonesia dan disebut lalat sehari meski secara taksonomi sebetulnya bukan lalat namun memang serangga dewasa yang hidupnya cuma 1 hari dan sekian lama hidup sebagai larva serta muncul dewasa hanya untuk kawin/mating lalu bertelur dan mati.

Maka mulut Mayfly  dewasa juga secara evolusioner sangat tereduksi karena tidak perlu makan. Serangga unik ini dapat didayagunakan sebagai indikator alami bagi kebersihan air karena hanya bisa hidup di air jernih dan bersih.

Misteri Kehidupan

Kehidupan Mayfly yang memang unik sempat menarik perhatian Aristoteles dan Plinus Senior.

Seperti kupu-kupu, Mayfly mengalami masa proses metamoforsa mulai dari telur ke larva yang hidup di sebagai satwa akuatik lalu menjadi subimago sebelum terbang meninggalkan air sebagai imago selama maksimal sehari untuk berkembang- baik sebelum meninggalkan dunia fana.

Proses metamorfosa ajaib Mayfly menyebabkan masyarakat Abad Pertengahan menganggap Mayfly sebagai mahluk lambang resureksi alias kebangkitan kembali dari ajal. Pelambangan yang dapat disimak pada bagian sudut kanan bawah satu di antara beberapa engraving Die Heilige Familie mahakarya Albrecht Duerer.

Kehadiran Mayfly di planet bumi selama hanya sehari hanya untuk menunaikan tugas reproduksi merupakan fenomena keanekaragaman hayati marcapada yang layak direnungkan oleh manusia yang mau dan mampu merenungkan misteri kehidupan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya