Berita

Irwan Hidayat/Net

Dahlan Iskan

Hoki Irwan

SABTU, 27 FEBRUARI 2021 | 05:28 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA sulit kalau harus mengilmiahkan kata "hoki". Yakni kata hoki seperti yang diucapkan pengusaha besar Irwan Hidayat, pemilik pabrik jamu Sido Muncul itu.

Ia ngotot bahwa keberhasilannya selama ini benar-benar semata karena hoki. Tidak ada yang lain. Juga bukan karena kerja keras.

Saya bertemu Pak Irwan kemarin. Lewat layar Zoom. Kami sama-sama menjadi pembicara seminar yang diadakan MarkPlus. Yakni sebuah lembaga marketing terkemuka milik guru marketing Hermawan Kartajaya.


Semula saya tidak percaya bahwa kesuksesan Pak Irwan semata-mata karena hoki. Saya yakin Pak Irwan itu pasti pekerja keras.

Tapi Pak Irwan ngotot: tidak. "Saya benar-benar bukan pekerja keras," kata Pak Irwan. Pekerjaannya dulu hanya jalan-jalan. Bersama saudaranya. Sambil mengembangkan Sido Muncul.

Saking ngototnya Pak Irwan sampai saya harus kalah. Setidaknya harus mengalah. Tapi saya terus berpikir. Masak benar-benar hanya karena hoki. Saya pun lantas menemukan istilah kompromi. Yang mungkin lebih tepat. Saya coba memperkenalkan istilah baru ini: hoki yang diupayakan.

Itu berarti saya memang memercayai adanya faktor hoki, tapi hoki yang diusahakan.

Saya pun ingat wartawan saya. Yang karya fotonya terpilih sebagai foto terbaik dunia di tahun itu. Namanya Sholehudin. Justru ia bukan wartawan foto.

Foto juara dunia itu berupa truk tentara yang penuh sesak dengan suporter sepak bola Bonek. Saking penuhnya sampai posisi truk itu miring sekali. Suporter remaja itu seperti hendak tumpah ke jalan.

Satu dua orang sudah loncat dari truk, ketakutan. Beberapa lagi terlihat panik. Sopir truk itu berpakaian tentara menoleh dengan wajah tegang.

Dewan juri di Swiss secara aklamasi memilih foto itulah juara dunia tahun itu. Tidak perlu diskusi. Tidak perlu pemungutan suara.

"Itu kan kebetulan. Ia lagi hoki. Lagi berada di lokasi truk itu," ujar beberapa wartawan –yang kelihatannya cemburu.

Tentu saya setuju: ada unsur kebetulan di situ. Tapi seandainya si wartawan tidak rajin keliling kota mencari berita apakah ia akan mendapatkan keberuntungan itu?
Seandainya ia hanya di kantor menghadapi komputer apakah akan bisa menemukan kejadian itu?

Itulah yang saya maksud dengan hoki yang diupayakan.

Pak Irwan masih belum bisa menerima. Ia tidak seperti itu. Ia mengaku bukan orang yang rajin. Tubuhnya pun bukan tubuh yang kuat dan enerjetik.

Saudara-saudaranya punya tubuh yang tinggi. Ada yang 175 cm, ada yang 179 cm. Ia hanya 168, seperti saya.

Pun waktu bayi. Ia sakit-sakitan tiada henti. Sakit apa saja pernah ia alami. Istilah modern sekarang disebut stunting.

Karena itu ketika usia Pak Irwan baru tiga bulan, masih bayi, sudah diberikan ke ''orang lain''. Untuk diambil anak. Dengan kepercayaan agar tidak sakit-sakitan lagi.

''Orang lain'' itu adalah neneknya sendiri. Jadilah Irwan anak neneknya.

Semua itu karena sang ibu punya banyak anak: 9 orang. Irwan anak ke-7. Tiap tahun ibunya melahirkan. Saat Irwan berumur tiga bulan itu sang ibu sudah hamil lagi.

Karena tidak bisa mendapat air susu, bayi Irwan diberi makan tajin –kuah dari nasi yang sengaja diberi air lebih banyak. Kondisi ekonomi memang lagi sulit. Belanda dan Inggris melakukan agresi pertama sampai ke Jogja. Perang tidak berkesudahan. Ekonomi masyarakat menjadi sangat berat.

Saat perang itu sang nenek membuka usaha jualan bahan-bahan untuk jamu. Di Jogja.

Ketika sang nenek harus mengungsi ke Semarang untuk menghindar jadi korban perang Irwan diajak mengungsi.

Di Semarang itulah sang nenek mulai membuat produksi jamu. Dari pengalaman sang nenek jualan bahan baku jamu di Jogja. Itulah riwayat lahirnya jamu Sido Muncul. Tahun 1951.

Di saat ketika banyak jamu lain sudah lebih dulu terkenal: ada jamu Jago, Nyonya Meneer, Nyonya Item, Nyonya Go, dan seterusnya.

Saat remaja pun Irwan bertubuh kerempeng. Bahkan ketika di umur yang seharusnya punya berat badan 63 kg, Irwan hanya 46 kg.

Saya pun baru tahu: Irwan itu ternyata keturunan orang kaya raya. Kakek buyutnya adalah adik kandung Oei Tiong Ham –orang terkaya se Asia di zaman itu.

Kapan-kapan saya akan bertemu khusus Pak Irwan untuk menggali kisah leluhurnya di Semarang itu.

Sebelum itu biarlah saya percaya dulu bahwa sukses Pak Irwan benar-benar semata karena hoki.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya