Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Debat Sains Di Tengah Kecambuk Pandemi

SABTU, 13 FEBRUARI 2021 | 23:11 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

RUMIT! Kompleksitas sains itu seolah tidak berbatas. Di arah berbeda, persoalan sains tidak pula dapat diselesaikan secara sendirian tanpa hadirnya kerjasama kolektif.

Beberapa waktu lalu, saya tertarik pada kulit sampul buku yang berkelir warna-warni berjudul, "Polemik Sains", 2021. Buku setebal 340 halaman itu buah karya Goenawan Mohamad dkk.

Lebih tepatnya hasil diskusi yang hangat tentang sains, saintisme, dan pandemi Covid-19. Perdebatan yang tidak usai itu, memberikan ruang bagi para pembaca untuk terlibat.


Bukan sekadar berusaha menggagahi pandangan yang berbeda, tetapi menambahkan perspektif dari horison berpikir yang sedemikian luas untuk semakin memperkaya khasanah pemahaman.

Saya tertarik untuk memberikan opini, sebagai ikhtiar dalam memformulasi kerangka berpikir yang muncul di dalam kepala, seiring dengan halaman-halaman yang terbaca melalui buku itu.

Letak Konteks


Tampaknya berbagai tulisan yang berserak di dalam buku tersebut, kemungkinan diawali oleh cara pandang dalam melihat manusia berhadapan dengan penularan wabah Covid-19.

Bagi sebagian kalangan penulis, pandemi memunculkan kembali supremasi sains atas hal-hal lain dalam kehidupan manusia. Padahal sains sekalipun belum menjawab tuntas persoalan pandemi.

Kondisi ini kemudian dimaknai sebagai kepongahan sains atau disebut saintisme. Kita tentu ingat, salah satu kritik terbesar dalam penanganan Covid-19 di tanah air adalah kegagalan membangun kerangka berpikir sains, hingga bertindak seakan anti sains melalui berbagai kebijakan.

Bagi saya pribadi, pandemi sendiri menjadi sebuah konteks yang bersifat aktual memiliki berbagai kebaruan. Tampil dalam seribu wajah. Bersama dengan itu, kita memang belum penuh memahaminya -bounded rationality.

Konsekuensi logisnya, cara pengambilan keputusan kemudian dilakukan seolah terlihat acak -random decision. Keterbatasan pengetahuan manusia adalah karakteristik khas dari kehidupan dinamisnya berhadapan dengan berbagai masalah.

Hal ini yang menjelaskan mengapa kebijakan tampak berubah dan bersifat tidak utuh dalam memberi solusi atas perluasan kejadian penularan wabah.

Dalam hemat pribadi, penuntasan atas pandemi hanya akan terjadi melalui kombinasi beragam atas kemampuan pengelolaan ilmu pengetahuan sejalan dengan melakukan pengelolaan manusia.

Peran para ilmuwan sebagaimana epidemiolog maupun vaksinolog berupaya dalam tujuan untuk mereduksi persebaran dan mengatasi pandemi sebagai sebuah periode krisis dari permasalahan kesehatan komunitas global.

Sementara itu, secara paralel ilmuwan sosial perlu berupaya untuk menyusun regulasi, membangun komunikasi persuasi yang diupayakan untuk mengatur publik sebagai entitas organisme hidup.

Meski kuasa pengetahuan menjadi terlihat lebih dominan, tetapi sesungguhnya ada pula peran yang tidak terpisahkan dari para tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam menyampaikan nuansa ketenangan bagi publik untuk melewati masa penuh ketidakpastian di era pandemi.

Kemampuan melewati pandemi adalah gabungan dari kekuatan sains, dibarengi dengan ketepatan pengambilan kebijakan dan kemampuan membangun kepercayaan publik untuk terlibat.

Puncak Pengetahuan


Pada perdebatan mengenai pengetahuan, harus mampu dipahami seluruh pengalaman yang dipersepsi melalui indera manusia adalah bentuk dari pengetahuan.

Keseluruhan basis pengalaman manusia, yang bisa disusun secara terstruktur dan dikodifikasikan melalui kaidah ilmiah kemudian berubah menjadi ilmu pengetahuan.

Klasifikasi pengetahuan didominasi melalui berbagai pengalaman acak -tacit knowledge, yang bertransformasi menjadi pengetahuan sistematik -explicit knowledge.

Di bagian puncak dari pengetahuan manusia, terjadi transisi dalam pengayaan pengetahuan menjadi sebuah kebijakan -wisdom, sebuah aspek yang mewakili peran penting pengetahuan bagi sisi kemanusiaan.

Perdebatan mengenai sains di era pandemi tetap menarik, meski dalam tinjauan filosofis lingkaran pertanyaan yang menggunung tersebut tidak memiliki dampak langsung dalam mengatasi wabah. Filsuf masih sibuk menafsir dunia.

Ruang Temu Selisih


Titik ujung perbincangan sains pada akhirnya akan selalu mengerucut dan berpusat pada dua titik yang terpisah, antara ilmu pengetahuan dan agama. Hal yang selalu berulang kali terjadi.

Rujukan kasusnya mengambil pengucilan Galileo Galilei yang dikenal memperkuat konsep matahari sebagai pusat sistem tata surya -heliosentris, sebuah pandangan yang berbeda dari keyakinan pihak gereja di abad pertengahan. Hingga akhirnya diputuskan pengucilan sebagai hukuman.

Meminjam kejadian tersebut, agaknya kita tidak dapat mengelak dari sejarah, meski begitu ruang diskusi sains tidak bermula atas perdebatannya dengan agama, melainkan pada nafsu berkuasa sebagai syahwat manusia itu sendiri.

Ilmu pengetahuan menjadi bersifat diskriminatif, tidak lagi objektif serta penuh prasangka disebabkan karena kejahilan manusia.
Tidak percaya? Di film "Hidden Figures", 2016, Anda dengan mudah melihat model diskriminasi rasial kepada para ilmuwan pendukung keberhasilan NASA dalam perang antariksa di tahun 1960-an.

Ilmu pengetahuan juga mengalami distorsi dalam kerangka sistem laku kapitalisme. Tengok bagaimana penawar racun -antivenom- di kawasan Afrika yang efektif mengatasi bisa dari gigitan ular, akhirnya tidak diproduksi karena tidak menguntungkan. Ulasan kisahnya bisa dilihat pada National Geographic edisi Januari 2021.

Berkaca pada hal tersebut, maka kita tentu tidak akan mampu keluar dari ilmu pengetahuan yang menjadi alat kepentingan bagi sekelompok orang. Di sanalah peran agama memberikan titik terang dalam meluruskan jalan bagi manusia.

Sebagaimana kata bijak yang menyebut: Ilmu pengetahuan tanpa agama menjadi buta dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi pincang. Keduanya saling mengisi dan melengkapi bagi kehidupan manusia.

Debat panjang itu dipastikan masih akan berlanjut di masa mendatang. Begitulah manusia dalam dinamika dialektika.

Yudhi Hertanto

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya