Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Menanti Pers Berkelanjutan

SELASA, 09 FEBRUARI 2021 | 12:18 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

PANDEMI menghantam semua sektor, tidak terkecuali industri pers. Peringatan Hari Pers Nasional (HPN 2021) kali ini pun tidak luput berbicara mengenai pandemi.

Tema yang diangkat "Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan", ada optimisme dan tugas berat termuat dalam tema tersebut.

Keberadaan pers merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan temuan Dewan Pers, Survei Indeks Kemerdekaan Pers, 2020, ditemukan korelasi positif antara kebebasan pers, indeks pembangunan manusia dan indeks demokrasi.


Temuan tersebut, secara jelas menempatkan posisi pers sebagai bagian penting yang menjadi medium bagi tumbuhnya iklim yang sehat dari kondisi kehidupan bermasyarakat, selama ini dikenal dalam istilah pilar keempat demokrasi.

Periode pandemi membuka celah persoalan yang dihadapi pers semakin terbuka. Setelah fase digitalisasi yang mendisrupsi format media, situasi sulit tersebut masih menjadi kendala sampai hari ini bagi industri pers konvensional.

Menolak Punah

Beban ganda media dan industri pers semakin mendalam di era pandemi. Tantangan kerja bagi industri pers antara lain, (i) keluar dari guncangan disrupsi digital, (ii) mampu bertahan dalam belitan pandemi, serta (iii) menjadi medium jurnalisme harapan. Kombinasi yang tidak mudah.

Pers memiliki fungsi sosial dalam kepentingan untuk menyuarakan optimisme, meski berkalang permasalahan yang belum juga usai. Tetapi dalam sejarahnya, pers nasional adalah pers yang memiliki semangat berjuang, hidup dari cikal bakal idealisme.

Perlu cara-cara baru untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Pada hakikatnya, perubahan adalah keniscayaan yang tidak dapat ditolak. Proses adaptasi dan adopsi teknologi, mengubah lanskap media, perlu sikap responsif agar tidak terjadi kepunahan dalam seleksi alam.

Relasi media lama berdampingan dengan media baru layaknya sosial media, bukan untuk saling membunuh melainkan mewajibkan keharusan adanya kolaborasi. Karakteristik media lama yang mewakili industri pers harus menjadi pembeda.

Hal ini termuat pula pada Jurnal Dewan Pers, Pers dan Dinamika Politik Indonesia, Juni 2020, dalam artikel riset Winarto, Kepercayaan Publik terhadap Pers Perlu Dikaji, hal 68.

Hasil penelitian tersebut menemukan dua hal penting, (i) publik memilih kanal media sosial disebabkan kecepatan informasi dan akses, tetapi (ii) publik menaruh kepercayaan lebih kepada media mainstream atas data dan fakta yang disampaikan. Disinilah nilai lebih media lama.

Pers Baru Berkelanjutan


Frasa bangkit dari pandemi dan bertindak sebagai akselerator yang menjadi tema HPN, mensyaratkan industri pers nasional untuk tetap "sehat" agar mampu bertugas secara berkelanjutan untuk dapat terus menyampaikan informasi secara bernas dan berkualitas.

Krisis multidimensi dalam masa pandemi, membuat industri media semakin babak-belur dalam konteks bisnis dan ekonomi, sekaligus berhadapan dengan ancaman eksistensi di era digitalisasi. Namun begitu, perlu ada model bisnis baru dalam ekosistem online.

Kemampuan untuk menjaga keberlanjutan industri pers, meliputi ruang prinsip etik kerja pers dalam memproduksi konten yang akuntabel sebagai karya jurnalistik yang memiliki kualitas terbaik, sehingga mampu diterima publik, serta dapat bertahan hidup dalam jagat digital.

Sekurangnya ada tiga hal penting yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkan hal tersebut, (i) dibutuhkan regulasi yang kuat dalam mendukung keberadaan serta kapasitas pers nasional, (ii) membangun kompetensi baru insan pers untuk dapat berkompetisi di ranah digital, hingga (iii) literasi informasi publik untuk cerdas bermedia.

Pembangunan ruang tumbuh bagi industri pers nasional, mengharuskan adanya ruang hidup yang adil dan seimbang. Platform media sosial, harus dikenai tanggung jawab yang sama dalam memastikan informasi yang terverifikasi dan bukan hoax, selain itu perlu mengatur pula penghargaan atas hak karya jurnalistik.  

Kita berharap pers nasional sanggup meniti dan melewati periode yang tidak mudah ini, sehingga sanggup menjadi "mata, telinga dan mulut" bagi kepentingan publik untuk memastikan kehidupan bersama yang lebih baik di masa depan.

Dirgahayu Pers Indonesia.

Yudhi Hertanto

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya