Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pakar Turki: AS Dan China Punya Andil Dalam kudeta Militer Myanmar

RABU, 03 FEBRUARI 2021 | 15:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah pakar Turki yang berkonsentrasi pada urusan Asia mengatakan, bahwa kudeta militer yang terjadi di Myanmar beberapa hari yang lalu tidak bisa dilepaskan dari intervensi asing serta permainan dua kekuatan besar, China dan Amerika Serikat.

Para pakar menilai, kedua negara itu telah berperan dalam mencegah konsolidasi demokrasi di Myanmar dan membuat negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara tersebut rentan terhadap kudeta militer.

Dalam wawancaranya bersama media pemerintah Turki, Anadolu Agency, ahli senior di Pusat Krisis dan Studi Kebijakan Ankara (ANKASAM), Seyfettin Erol berpendapat bahwa persaingan Amerika-China di Lingkar Asia-Pasifik jadi alasan utama di balik kudeta militer baru-baru ini di Myanmar.


Dalam pernyataannya, Erol mengatakan bahwa kudeta militer yang terjadi di Myanmar merupakan ajang unjuk kekuatan untuk melawan AS dan sejumlah negara Barat lainnya.

“Kudeta militer adalah unjuk kekuatan melawan AS dan beberapa negara Barat lainnya. Di sisi lain, reaksi Gedung Putih terhadap kudeta lebih berkaitan dengan kehilangan posisi yang signifikan daripada mengkhawatirkan keadaan demokrasi atau hak asasi manusia di Myanmar."

Memperhatikan bahwa kudeta tersebut mengungkap pengaruh China di Myanmar dan Asia-Pasifik secara umum, Erol mengatakan: "Melalui pelabuhan yang dibangun di Myanmar, China telah mampu melewati Selat Malaka dan mengakses Samudera Hindia."

"Mempertahankan pengaruhnya di negara itu terhadap kekuatan lain, termasuk Amerika dan India, memungkinkan China menjadi pemain utama di kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas," lanjut Erol.

Pakar lain, Hayati Unlu, seorang sarjana urusan Asia, setuju bahwa persaingan strategis antara AS dan China di Asia-Pasifik dan pentingnya Myanmar dalam konteks ini adalah kunci untuk memahami kudeta militer.

"Myanmar adalah bagian penting dari ambisi global China karena lokasinya,” katanya.

Nazmul Islam, seorang ahli senior regional bahkan memperkirakan sebuah kengerian akibat kudeta tersebut. Dia mengatakan, kejadian itu akan menyebabkan lebih banyak pertumpahan darah dan kekacauan di negara berpenduduk 55 juta jiwa itu.

“Kemungkinan besar, militer akan menekan minoritas, termasuk Muslim Rohingya, lebih jauh lagi untuk tetap populer. Ini akan menunda kembali ke normalitas dan menyebabkan lebih banyak bentrokan," ujarnya.

Militer Myanmar merebut kekuasaan setelah menahan pemimpin negara Aung San Suu Kyi bersama sejumlah petinggi partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pada Senin (1/2) malam waktu setempat.

AS, Inggris, PBB dan Uni Eropa telah kompak mengutuk tindakan tersebut, dan menuntut agar militer membebaskan mereka yang ditahan.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya