Berita

Penampakan pos pemeriksaan militer Myanmar ke kompleks kongres di Nay Pyi Taw 1 Februari 2021/Net

Dunia

Kudeta Myanmar Bisa Menjadi Kerugian Besar Bagi Bisnis Thailand

RABU, 03 FEBRUARI 2021 | 06:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kudeta militer di Myanmar yang berpotensi mengundang sanksi dari AS, menimbulkan kekhawatiran para investor Thailand. Dewan Bisnis Thailand-Myanmar mengatakan, kudeta itu akan mempengaruhi bisnis mereka di negara itu.

Perekonomian negara yang sudah terpukul oleh pandemi Covid-19, diperkirakan akan melambat dengan adanya potensi sanksi dari AS setelah Presiden Joe Biden kemarin mengeluarkan pernyataannya.

Dewan sejauh ini mengatakan tidak dapat menjelaskan secara tepat apa efek kudeta tersebut terhadap bisnis Thailand di Myanmar, karena pemerintah belum mengeluarkan pernyataan tentang investasi dan bisnis asing, seperti dikutip dari Bangkok Post, Selasa (2/2).


Ahli perdagangan internasional mengatakan Thailand kemungkinan akan mengalami kerugian besar dalam perdagangan karena perubahan dalam pengangkutan barang dan pos pemeriksaan militer yang ketat.

Jika inspeksi keamanan ketat militer Myanmar berlanjut dalam jangka panjang, Thailand bisa kehilangan lebih dari 1,5 miliar baht hingga 2 miliar baht per bulan, menurut direktur Pusat Studi Perdagangan Internasional di Universitas Kamar Dagang Thailand, Aat Pisanwanich.

"Kami memperkirakan krisis politik Myanmar akan kembali normal pada bulan kedua," kata Aat. "Namun, kami perlu menindaklanjuti sikap politik Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan negara-negara sekutu serta tindakan atau sanksi ekonomi mereka setelah kudeta Myanmar."

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya