Berita

Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 di Rumah Sakit/Net

Kesehatan

Jokowi Akui PPKM Tidak Efektif, Epidemiolog: Pengendalian Pandemi Harus Berbasis Sains, Bukan Kepentingan

SENIN, 01 FEBRUARI 2021 | 15:44 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Penilaian tidak efektif Presiden Joko Widodo terhadap Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)dianggap sudah tepat oleh Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman.

"Jadi saya setuju ya. dan pernyataan ini harus dijadikan momentum untuk konsisten, bahwa pengendalian pandemi ini harus berbasis data yang kuat, memadai, cermat kemudian tepat. Termasuk berbasis sains, bukan kepentingan. Beda antara sains dan kepentingan," ujar Dicky saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Senin (1/2).

Sejak awal PPKM digulirkan, Dicky sudah mengingatkan ke pemerintah cara itu tidak akan efektif. Sebab, kondisi pandemi Covid-19 ini sudah sangat serius.


"Ibarat bola salju sudah semakin besar. Nah, responnya tidak boleh kecil dari masalahnya," ungkapnya.

Menurut Dicky, PPKM atau pola serupa lebih tepat dan sudah dia usulkan Maret dan April 2020 yang lalu. Bahkan, dia juga mengusulkan untuk dibuat klinik demam di puskesmas, yang tujuannya adalah untuk memaksimalkan anjuran isolasi mandiri bagi masyarakat yang belum bisa di tes Covid-19 namun memiliki gejala penularan.

"Tapi kalau itu diterapkan saat ini ya enggak akan efektif. Kalau pun terkesan efektif ya jadi pertanyaan juga. Karena PPKM ini tidak signifikan. Dan harus kita pahami, ini (PPKM) adalah PSBB modifikasi," tegas Dicky.

"Dan harus kita ketahui, PPKM atau PSBB ini adalah strategi tambahan. Kita harus perkuat di strategi yang sangat fundamental. Yaitu testing, tracing, isolasi karantina, dan deteksi kasus secara aktif" sambungnya.

Oleh karena itu, Dicky mendorong pemerintah untuk menyajikan laporan sesuai fakta di lapangan. Karena menurutnya, faktor ini penting untuk memastikan kebijakan pengendalian Covid-19 bisa dilakukan secara lebih serius dan juga didukung penuh oleh masyarakat.

"Sampaikan laporan apa adanya ke beliau (Presiden Jokowi) dari bawahannya. Jangan yang baik-baik saja. Kemudian disampaikan ke publik juga apa adanya," tuturnya.

"Ini penting sekali supaya kita ini bisa membangun kewaspadaan, membangun persepsi resiko yang sama baik di pemerintah maupun masyarakat," demikian Dicky Budiman menambahkan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya