Berita

Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) A. Muhaimin Iskandar/Net

Politik

Muhaimin Iskandar Dorong Penguasaan Iptek Dalam Mengatasi Covid-19

JUMAT, 15 JANUARI 2021 | 11:05 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) A. Muhaimin Iskandar mendorong agar Indonesia bisa lebih memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dia mencontohkan, dalam penanganan pandemi Covid-19, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menjadikan penanganan pandemi berbiaya lebih murah. Informasi bahwa seseorang yang pernah positif Covid-19 bakal memiliki daya imun tinggi sehingga akan lebih aman dari potensi serangan Covid-19, ternyata faktanya tidak benar.

"Nah itu karena pengetahuan yang tidak kita kuasai. Kita perlu memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat tentang perkembangan virus ini. Gara-gara ilmu pengetahuan belum kita kuasai, kita membuang duit terlalu mudah dan besar sekali yang kita buang," kata Wakil Ketua DPR itu dalam diskusi publik PKB bertajuk "Virus Baru Hadir, Kita Bisa Apa?", di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, yang disiarkan secara virtual, Kamis (14/1).


Gus AMI sapaan akrabnya mencontohkan ketika pertama kali ada informasi Covid-19 masuk Indonesia, negara menggelontorkan anggaran besar untuk membeli alat rapid test, ternyata sama sekali tidak efektif sehingga menjadi mubazir. Begitu pula dalam pengadaan boks desinfektan yang banyak tersedia di depan rumah atau gedung-gedung, juga tidak efektif dan bahkan membahayakan.

"Saya dengar kabar UGM telah berhasil mengembangkan GeNose untuk mendeteksi virus hanya dalam waktu 80 detik. Seperti ini yang harus dikembangkan massal, cepat dan murah. Ini untuk menjawab kebutuhan. GeNose itu dengan meniupkan napas kita dalam tabung plastik akan terkoneksi alat dalam waktu 80 detik," katanya.

Temuan-temuan semacam ini, kata Gus AMI, harus dipercepat produksi massalnya. Pemerintah juga harus memfasilitasi anggaran sehingga masyarakat bisa mengakses.

"Tidak seperti sekarang masyarakat mau swab test harganya mahal sehingga menambah biaya untuk semua transportasi kita," katanya.

Keberadaan alat pendeteksi virus yang cepat dan murah menjadi kebutuhan yang harus dimassalkan oleh pemerintah.

"Dalam konteks science dan teknologi, kita sangat ketinggalan karena kita tidak punya research and development yang memadai, baik pemerintah atau swasta tak ada yang memiliki kemauan untuk investasi. Ini harus dicari jalan keluar," tuturnya.

Dikatakan Gus AMI, hingga kini, Kemenristek belum mempunyai kemampuan dan fungsi yang optimal untuk memberikan jawaban yang cepat atas berbagai persoalan bangsa.

"Contoh bagaimana vaksin kita sangat bergantung pada orang lain. Apalagi hal-hal yang lebih mendalam dari kajian science dan teknologi kita belum miliki, mutlak kita harus lakukan evaluasi total kepada riset dan teknologi kita agar kita tidak tertinggal," katanya.

Dia mengeluhkan dengan keterbatasan biaya yang dimiliki negara, penggunaan anggaran tidak tepat sasaran karena ketidakmampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Ini benar-benar harus dipikir serius. Kemarin penggelontoran APBN yang tidak tepat sasaran menimbulkan kemubaziran di sana. Ketidakmampuan ilmu pengetahuan ini yang harus diantisipasi," katanya.

Selain itu, Gus AMI mengatakan bahwa hal yang juga harus menjadi fokus adalah bagaimana mengetahui varian virus baru sehingga bisa mengambil emergency action yang tersistematis.

"Ini peran pemerintah maupun peran pimpinan-pimpinan masyarakat. Emergency action ini belum kita miliki dengan baik sehingga terlampau banyak korban," katanya.

Gus AMI berharap penguasaan informasi yang tepat sehingga prediksi pandemi bisa terselesaikan dalam 2-3 tahun, tidak berkepanjangan yang bisa mengakibatkan keruntuhan, bukan hanya runtuhnya ekonomi tapi juga keruntuhan peradaban kehidupan.

Dalam diskusi virtual itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh mengatakan, pihaknya mendorong pemerintah untuk bergerak cepat dalam mengantisipasi, mendeteksi, dan melakukan berbagai upaya lain untuk mencegah penyebaran serta menangani varian virus baru Covid-19.

"Kami mendorong pemerintah terbuka dan mengintensifkan komunikasi publik terkait perkembangan varian virus baru," katanya.

Politikus PKB ini mengatakan, pandemi yang berkepanjangan harus menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat sistem kesehatan nasional dan memberi perhatian lebih pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kami mengajak masyarakat memiliki kewaspadaan dan kesadaran serta kebersamaan untuk selalu mentaati protokol kesehatan agar pandemi segera berakhir," demikian Nihayatul Wafiroh.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya