Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pakar Epidemiologi Prihatin Balkan Belum Terima Vaksin: Seperti Peristiwa Titanic, Orang Kaya Merebut Semua Sekoci

KAMIS, 07 JANUARI 2021 | 06:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Negara-negara di Eropa bagian tenggara atau dikenal sebagai Balkan hingga saat ini belum mendapat kepastian kapan mereka akan menerima vaksin. Sementara negara-negara lain telah memulai jadwal vaksinasi sejak pekan lalu, Balkan bahkan tidak pernah tahu kapan vaksin itu tiba atau apakah mereka juga akan mendapatkannya.

Negara-negara Balkan telah berjuang untuk mendapatkan akses vaksin Covid-19 melalui berbagai perusahaan dan program. Sayangnya perjuangan itu belum berbuah manis. Mereka masih menunggu vaksin pertama mereka tiba, sehingga tidak pernah tahu kapan negara-negara itu memulai program inokulasi nasional mereka.

Albania, Bosnia dan sekitarnya, Kosovo, Montenegro, Makedonia Utara dan Serbia, rumah bagi sekitar 20 juta orang, akan tertinggal jauh di belakang 27 negara Uni Eropa dan Inggris dalam upaya pengendalian krisis kesehatan melalui vaksinasi. Tidak berlebihan bila akhirnya mereka merasa terisolasi dan ditinggalkan.


Ahli epidemiologi Makedonia Utara, Dragan Danilovski, mengatakan situasi yang dialami Balkan saat ini serta ketidaksetaraan yang diterimanya, sama persis seperti yang terjadi pada peristiwa tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1911. Hanya orang-orang kaya yang bisa selamat sementara orang yang tidak punya uang dan tidak mampu membayar sekoci, tertinggal di kapal dan ikut tenggelam.

"Orang kaya telah merebut semua sekoci yang tersedia, meninggalkan orang-orang yang kurang beruntung," kata Danilovski kepada penyiar TV 24, seperti dilaporkan oleh ABC News.

Orang-orang di Balkan hanya bisa menelan ludah setiap kali membaca dan mendengar kabar bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika, ribuan dokter, perawat dan lansia, telah menerima dosis pertama dari vaksin yang dikembangkan oleh pembuat obat Amerika Pfizer dan BioNTech Jerman. Sementara negaranya yang dilanda perang masih terus menunggu.

Banyak negara Balkan menggantungkan harapan mereka pada COVAX, badan pengadaan vaksin global yang didirikan oleh WHO.

Barangkali hanya Serbia yang bisa sedikit bernapas lega. Serbia adalah satu-satunya negara Balkan Barat yang menerima suntikan vaksin sejauh ini. Serbia  mendapatkan pengiriman dari Pfizer-BioNTech dan vaksin Sputnik V yang dikembangkan Rusia.

Namun, Serbia tidak memiliki dosis yang cukup untuk memulai vaksinasi massal, karena hanya menerima 25 ribu suntikan vaksin Pfizer-BioNTech dan 2.400 vaksin Rusia yang telah tiba.

Program vaksinasi Serbia dimulai pada 24 Desember. Perdana Menteri Ana Brnabic menerima dosis dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin tersebut.

Ursula von der Leyen, kepala Komisi Eksekutif, mengatakan UE akan memiliki lebih banyak vaksin daripada yang diperlukan untuk penduduknya pada tahun 2021 dan mengindikasikan blok tersebut dapat berbagi pasokan ekstra dengan Balkan Barat dan negara-negara di Afrika.

Namun, dominasi Uni Eropa telah mengecewakan kawasan Eropa yang terbelakang. Mengutip kata-kata analis politik Albania Skender Minxhozi, Uni Eropa telah mencapai momen tidak peduli.

“Tunjukkan kepada kami bahwa Anda peduli dengan kami, atau jangan kaget jika beberapa dari kami mengikuti panggilan pied piper Rusia atau China yang melintasi dunia dengan kantong penuh vaksin mereka,” kata Minxhozi.

Kurangnya solidaritas Barat di tengah pandemi dieksploitasi oleh politisi pro-Rusia lokal untuk menggambarkan UE sebagai semata-mata berorientasi pada keuntungan.

Rusia dan China, sementara itu, bersaing untuk mendapatkan pengaruh politik dan ekonomi.

Perdana Menteri Albania, Edi Rama, bahkan berkata ia tidak akan membiarkan negaranya dikucilkan.

“Sebagai pribadi saya merasa marah dan sebagai orang Eropa saya merasa malu, sementara sebagai Perdana Menteri Albania saya merasa lebih termotivasi dari sebelumnya untuk tidak membiarkan orang Albania dikucilkan dari kemungkinan dilindungi secara bersamaan dengan orang Eropa lainnya," kata Rama saat mengumumkan sebuah kontrak untuk membeli 500.000 dosis vaksin Pfizer-BioNTech.

Komisi Eropa, baru-baru ini menyetujui paket 70 juta euro (86 juta dolar AS) untuk membantu negara-negara Balkan mendapatkan akses ke vaksin, ditambah dengan 500 juta euro (616 juta dolar AS) yang telah disumbangkan oleh blok tersebut untuk COVAX.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya