Berita

Ilustrasi/net

Publika

Menemukan Kemanusiaan Di Tahun Pandemi

JUMAT, 01 JANUARI 2021 | 13:13 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

PANDEMI menjadi kata paling sentral sepanjang tahun 2020. Setiap sendi kehidupan dipaksa untuk berubah. Termasuk hari raya dan perayaan hari besar keagamaan.

Tidak dipungkiri, kita mengalami disrupsi peradaban. Sifat kehidupan yang dinamis, mengharuskan manusia untuk mampu beradaptasi dengan perubahan.

Keterbatasan ruang gerak dari interaksi manusia, sebagai akibat penularan wabah menciptakan momentum bagi pemikiran ulang tentang makna kehidupan. Ternyata rutinitas hidup dari kebiasaan kehidupan terdahulu sebelum pandemi, yang kerap dianggap membosankan serta penuh kejenuhan kembali dirindukan.


Pada perspektif yang berbeda, kehadiran pandemi dalam kehidupan kita sekaligus menciptakan makna baru tentang bentuk kehidupan yang lebih terdigitalisasi dan sederhana dari kompleksitas modern. Sebuah fenomena yang disebut Yasraf A Piliang, sebagai wajahpasca dunia yang dilipat akibat kemajuan modernitas.

Dalam kehidupan modern, kita kehilangan waktu akibat percepatan teknologi dan digitalisasi. Kini, wabah memaksa kita untuk memutar waktu, memaksanya kembali berjalan perlahan untuk menyusun strategi berhadapan dengan virus yang tidak kasat mata. Kehidupan modern, sejatinya ada di antara dibenci sekaligus dirindu.

Kita kehilangan makna sosial di dalam kehidupan monoton modern, tetapi kini di era pandemi kita kembali merindukan kehidupan repetitif kembali. Pascapandemi, ada norma kehidupan baru yang mungkin tercipta untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia sejalan dengan fase adaptasi seluruh kegiatan dari rumah.

Keluarga dan relasi sosial dalam ranah domestik, sesungguhnya menjadi medan utama kehidupan kita. Selama ini daya tarik dari gemerlapnya kehidupan modern dengan segala kesibukan yang ditimbulkannya, menjauhkan kita dari pokok kehidupan keluarga, selama pandemi kita dipaksa menjalin ulang relasi tersebut.

Pemaknaan Pandemi


Tidak pelak pandemi sejatinya membuat kita sampai pada keharusan untuk meredam seluruh sikap egosentris manusia terhadap alam. Injak rem, karena laju pembangunannya hidup manusia kerap mengesampingkan daya dukung alam. Eksploitasi yang tidak berkesinambungan memunculkan konsekuensi masa depan hadir hari ini sebagai sebuah situasi krisis kebencanaan, termasuk wabah.

Faktor yang disebut memicu ketamakan akumulatif bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia distimulasi oleh kerangka ekonomi, dalam kerangka produksi dan konsumsi yang dibungkus perspektif kapitalisme. Pada konsep tersebut, proyeksi keuntungan menjadi motor penggerak dengan berbagai ekses turunan yang sulit ditolak.

Bahkan sudut pandang kapitalistik, dengan melakukan upaya komodifikasi yang melakukan perubahan atas nilai guna menjadi nilai tukar nominal untuk barang maupun jasa hadir pada wilayah ritual keagamaan. Hari raya agama-agama lengkap dengan perayaannya adalah periode persemaian agenda kapital.

Hal tersebut dibahas dalam buku Frengki Napitupulu, 2020, berjudul "Sinterklas Natal dalam Jerat Kapitalisme". Kajian kritis yang tampak mengemuka dari temuan Frengki terkait dengan degradasi makna hari raya Natal dengan munculnya figur ikonik Sinterklas, tidak lain merupakan labirin dari kapitalisme melalui perangkap konsumtif.

Perilaku konsumerisme, menjadi instrumen efektif dalam mengembangkan format ekonomi meski menggunakan ornamen yang bercorak agama. Dalam bentuk riil, kita dapat melihat hari raya justru dikonstruksi untuk menjadi waktu efektif dalam mendorong kehausan publik untuk terus berbelanja.

Aneka program sale dan diskon adalah bagian dari bentuk serta cara yang dibuat, maka tidak mengherankan ketika ruang berbelanja menjadi sesak seiring waktu-waktu di hari raya. Manusia kehilangan esensi dasar makna hari raya untuk kemudian justru membentuk ulang pemaknaan baru atas hari raya, yakni liburan dan berbelanja.

Kebersahajaan dalam Pandemi


Pandemi menciptakan ruang yang secukupnya dalam makna subsisten. Pada batas minimal untuk tidak hidup secara berlebihan. Kita yang dipaksa bekerja dan belajar dari rumah mulai menyadari bahwa segala kemewahan itu ada batasnya. Segala yang tampaknya menjadi keinginan dibatasi pada lapis kebutuhan dasar, karena hidup yang sehat dan selamat dari pandemi menjadi jauh lebih penting.

Bahwa kemudian di era pandemi denyut konsumerisme tetap diproduksi dengan penciptaan ekonomi berbalut hobi, studi kasus sepeda Brompton, ikan Cupang, tanaman Monstera Si Janda Bolong, merupakan buntut yang tidak akan pernah usai dari dunia yang telah terformasi menjadi sedemikian kapitalistik.

Di situlah manusia diuji dan ditempa untuk mendapatkan kesadaran kritisnya, meski secara ambigu berada di dalam ruang simulasi yang terkonstruksi sudah sejak jauh hari sebelumnya. Melalui renungan kritis kita menetapkan ulang tujuan hidup dan pencapaian dalam tahap kehidupan yang dijalani.

Kita adalah manusia modern yang memiliki akal budi -homo sapiens, sekaligus makhluk berpikir dan pembelajar -animal rationale, dalam pandemi kita menyusun ulang tata kehidupan baru setelahnya dan bersiap untuk pandemi selanjutnya.

Pandemi sepanjang tahun ini adalah momentum untuk menjadi makhluk bersahaja dengan nilai yang baru bagi eksistensi kemanusiaan itu sendiri.

Yudhi Hertanto
Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya