Berita

Juru bicara kepresidenan Filipina, Harry Roque/Net

Dunia

Bela Ancaman Duterte 'Tidak Ada Vaksin Tidak Ada Tentara AS Di Filipina', Jubir: Itu Bukan Pemerasan, Berteman Harus Saling Bantu

SELASA, 29 DESEMBER 2020 | 09:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Juru bicara kepresidenan Filipina, Harry Roque, mengatakan bahwa ancaman Presiden Rodrigo Duterte untuk mengakhiri perjanjian militer jika AS gagal mengirimkan jutaan vaksin Covid-19, dinilai sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan luar negerinya yang independen.

Roque mengatakan pada hari Senin (28/12) waktu setempat, bahwa pernyataan presiden yang berbuni “tidak ada vaksin, tidak ada Perjanjian Pasukan Kunjungan (VFA)” pada akhir pekan kemarin, bukanlah upaya untuk ‘memeras’ sekutu lama Filipina tersebut.

Sementara senator Panfilo Lacson mengkritik pernyataan Duterte tersebut.


“Memperlakukan orang Amerika seperti sekelompok yokel (orang udik) mungkin telah menutup nasib Filipina, dan memaksa negara itu untuk menerima Sinovac China alih-alih vaksin AS Pfizer-BioNTech dan Moderna,” kata Lacson, seperti dikutip dari Arab News, Selasa (29/12).

“Harus ada cara yang lebih diplomatis atau setidaknya cara yang lebih baik dalam meminta sekutu lama untuk membantu kami dengan vaksin bagi orang-orang kami tanpa terdengar seperti kami memeras mereka,” ungkapnya.

“Kita memiliki peluang bagus untuk mendapatkan vaksin lebih awal dari AS, tetapi seseorang dari pihak kami menjatuhkan bola dan belum dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Menanggapi klaim Lacson, Roque mengatakan bahwa presiden masih menjadi “arsitek kebijakan luar negeri negara” dan tidak dapat dihentikan untuk mengambil keputusan tersebut.

“Tidak ada yang salah dengan ucapan presiden. Ini bukan pemerasan. Yang ingin disampaikan Presiden adalah kita berteman jadi harus saling membantu, ”ujarnya.

Dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan Satuan Tugas Antar Badan untuk Manajemen Penyakit Menular yang Muncul (IATF-MEID) pada hari Sabtu (26/12), Duterte kembali mengancam akan mengakhiri pakta militer jika AS gagal memberikan vaksin ke Filipina.

“VFA mendekati akhirnya. Jika mereka gagal memberikan bahkan minimal 20 juta vaksin, lebih baik mereka keluar. Tidak ada vaksin, tidak boleh tinggal di sini,” kata Duterte saat itu.

Filipina sebelumnya memang telah memberi tahu AS tentang keputusannya untuk mengakhiri perjanjian awal tahun ini, tetapi Duterte memutuskan pada bulan Juni untuk menangguhkan pencabutan tersebut mengingat perkembangan politik di wilayah itu.

Penangguhan tersebut akan berakhir tahun ini, tetapi dapat diperpanjang selama enam bulan lagi untuk memungkinkan kedua belah pihak menemukan pengaturan yang lebih ditingkatkan, saling menguntungkan, dapat disepakati bersama, dan lebih efektif serta bertahan lama tentang cara bergerak maju dalam pertahanan bersama.

Namun, nasib VFA sekarang tampaknya bergantung pada pengiriman vaksin.

“Jika Anda ingin membantu, jika Amerika ingin membantu, berikanlah. Berhenti berbicara. Yang kami butuhkan adalah vaksin, bukan pidato verbose Anda,” kata Duterte.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya