Berita

Ilustrasi salah satu terduga separatis di Ppaua/Net

Politik

Kelompok Separatis Jadi Sumber Konflik, Rakyat Papua Harus Dilindungi Dari Ancaman Terorisme

SABTU, 26 DESEMBER 2020 | 03:32 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Memburuknya konflik di Papua dikarenakan provokasi kelompok separatis.

Pengamat Papua Torius Tabuni menilai, konflik di Papua telah berkepanjangan dan semakin melebar dari inti permasalahan.

Torius meyakinkan dalam kehidupan nyata bahwa situasi di Papua tidak semeresahkan apa yang diisukan oleh kelompok separatis.


Kata Torius, kelompok separatis di Papua mulai merambah dua sektor rawan, yaitu pergolakan senjata dan ranah politik.

“Datang ke Papua, lihat apa yang ada. Kehidupan di sana tidak berbeda dengan kehidupan di desa pada umumnya. Apa yang banyak dibicarakan orang hanyalah dampak dari provokasi, sehingga menstigma seolah Papua selalu rusuh atau sebagainya,” ujarnya.

Bahkan ia menambahkan, dinamika yang terjadi di Papua lebih bermula dari eksistensi dan ancaman kelompok separatis itu sendiri.

Dalam kajian Torius, berbagai kelompok separatis selalu mencari-cari kelengahan aparat untuk melakukan teror.

Temuan Torius, sebab konflik Papua bukanlah rendahnya tingkat pendidikan atau faktor rakyat Papua, tetapi lebih dikarenakan oleh kelompok separatis.

“Mereka mencoba mengganggu dengan penembakan sehingga ketika ada penindakan maka mulai dihembuskan isu tentang pelanggaran kemanusiaan,” kata Torius.

Di mata Torius, konflik Papua bisa diselesaikan kelompok separatis tidak ikut campur tangan.

Alasannya, setiap pembangunan dan kemajuan yang tertoreh di Papua akan mentah karena anggapan-anggapan negatif yang terus dimanfaatkan oleh kelompok separatis.

“Aparat yang disiagakan itu hanya sebagai timbal balik dari eksisnya kelompok separatis. Ini kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya dari ancaman terorisme," ucapnya.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Pakistan Siap Jadi Tuan Rumah Putaran Baru Perundingan Iran-AS

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:13

Rayakan Persib Juara, Replika Maung Raksasa Bomber Guncang Asia Afrika

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:06

Iran Tempuh Jalur Damai dengan Kekuatan dan Diplomasi Bermartabat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:02

Rudi Hartono: Blackout Sumatera Momentum Evaluasi Jaringan dan Mitigasi

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:30

Ekonomi Syariah Harus Perkuat Perlindungan Sosial Masyarakat

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:10

PHE Optimistis Proyek CCS Indonesia-Korsel Buka Peluang Investasi Baru

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:02

Kualitas Konsumsi Jemaah Haji Harus Dijaga Meski Dapur Berjarak 12 Km

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:00

Trump: Kesepakatan Damai Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka

Minggu, 24 Mei 2026 | 14:49

Pertamina Trans Kontinental Optimalkan Layanan Maritim Lewat Kerja Sama STS Proyek FAME

Minggu, 24 Mei 2026 | 14:47

Menkop Sindir Organisasi yang Hanya Sibuk Seremonial

Minggu, 24 Mei 2026 | 14:30

Selengkapnya