Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita /Net
Kabar Maroko yang menormalisasi hubungannya dengan Israel mungkin menjadi berita yang mengejutkan dalam beberapa hari ini. Namun, sebaliknya, Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita mengatakan bahwa jauh sebelum normalisasi diplomatik diumumkan, kedua negara sesungguhnya telah telah memiliki hubungan yang sangat baik, bahkan unik.
Bourita dalam sebuah wawancara bersama surat kabar Israel Yediot Ahronot yang diterbitkan Minggu (13/12), mengatakan “Hubungan Israel dengan Maroko istimewa dan tidak dapat dibandingkan dengan hubungan yang dimiliki Israel dengan negara Arab lainnya.â€
Saat ini Maroko tidak membicarakannya sebagai 'normalisasi'.
“Karena hubungan sudah normal," kata Bourita seperti dikutip dari
AFP, Minggu, (13/12).
“Kita sedang membicarakan (meresmikan kembali) hubungan antar negara dengan hubungan yang kita miliki, karena memang ada hubungan sepanjang waktu. Mereka tidak pernah berhenti,†tambahnya.
Maroko pada Kamis mengumumkan ‘dimulainya kembali hubungan’ dengan Israel, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump men-tweet bahwa Rabat dan negara Yahudi telah menyetujui untuk menyepakati hubungan diplomatik penuh.
Pengumuman Maroko menjadikannya negara Arab keempat tahun ini yang mengungkap rencana untuk menormalisasi hubungan dengan Israel melalui kesepakatan yang ditengahi AS, menyusul Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan.
Dalam wawancara tersebut, Bourita juga menyoroti hubungan abadi Maroko dengan Israel melalui komunitas Yahudi domestiknya dan sekitar 700 ribu orang Yahudi Israel keturunan Maroko.
“Maroko memiliki sejarah penting dengan komunitas Yahudi, sejarah yang istimewa di dunia Arab,†katanya kepada surat kabar itu.
Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O'Brien, yang bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada Minggu, menggemakan pandangan Bourita bahwa normalisasi dengan Maroko ‘istimewa’, mengingat jumlah orang Yahudi keturunan Maroko.
“Maroko akan mendapat keuntungan dari dukungan dari komunitas Yahudi Maroko,†kata O'Brien.
Palestina telah mengutuk pengumuman normalisasi tersebut, yang dikatakannya melanggar konsensus Liga Arab selama beberapa dekade yang menentang pengakuan Israel sampai menyetujui perdamaian yang mencakup pembentukan negara Palestina.
Sementara Raja Mohammed VI mengatakan meskipun telah menyepakati untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, Maroko akan tetap menjadi pembela Palestina.