Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kepala Asosiasi Imam Perancis: Islamisme Fenomena Yang Kompleks, Tidak Setiap Muslim Adalah Teroris

SENIN, 30 NOVEMBER 2020 | 10:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kepala Asosiasi Imam Perancis, Tareq Oubrou, mengatakan bahwa perpecahan yang saat ini berkembang dalam masyarakat Prancis adalah produk dari ketidaktahuan, bukan kesalahan intrinsik. Dengan belajar dan kemauan untuk memahami satu sama lain, konflik seharusnya tidak perlu terjadi.

Hal itu disampaikannya dalam sebuah wawancara bersama Arab News, untuk menanggapi situsai yang kini berkembang di antara masyarakat Prancis pasca serentetan serangan teroris baru-baru ini melanda negara itu.

“Kita harus mendidik Muslim yang sering mengabaikan agamanya sendiri, dan kita juga harus menjelaskan kepada non-Muslim bahwa Islamisme adalah fenomena yang sangat kompleks dan bahwa tidak setiap Muslim adalah teroris,” kata Oubrou, seperti dikutip dari Arab News, Senin (30/11).


Pada 29 Oktober, tiga orang tewas dalam serangan penikaman di dekat basilika Notre-Dame di kota Nice, Prancis selatan. Itu terjadi setelah pembunuhan keji seorang guru sekolah Prancis pada 16 Oktober di dekat Paris karena telah menggunakan karikatur Nabi Muhammad dalam pelajaran tentang kebebasan berekspresi.

Komentar Oubrou menggemakan temuan survei yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat Inggris YouGov atas nama Arab News, yang menunjukkan mayoritas warga negara Prancis asal Arab menghormati nilai-nilai dan sekularisme Prancis. Namun, menurut jajak pendapat yang sama, warga Prancis yang sama ini tidak merasa diterima dan bahkan merasa distigmatisasi.

Ketika ditanya soal serangan berdarah di luar katedral Nice pada Oktober lalu, Oubrou mengatakan bahwa itu adalah level baru terorisme, karena dilakukan sendirian tanpa melibatkan suatu organisasi terosis mana pun.

“Ini adalah level baru terorisme, yang tidak memiliki doktrin, tidak ada hukum dan tidak ada keyakinan. Ini adalah bentuk terorisme yang tidak memiliki struktur maupun organisasi. Efek psikologisnya kacau dan mengerikan karena tidak dapat diprediksi dan hanya membutuhkan sedikit sumber daya,” ungkapnya.

“Itu dapat mengenai siapa saja kapan saja tanpa memiliki target tertentu. Itu membunuh orang yang tidak bersalah sementara kita tidak tahu apa-apa tentang klaimnya,” lanjut Oubrou.

Obrou mengatakan tujuan teroris adalah menyebarkan perpecahan antara Muslim dan masyarakat.

“Anda tahu, kita hidup di dunia yang terbuka untuk semua risiko. Kita tidak harus mendramatisir. Kita harus menghadapi masalah dengan ketenangan dan kecerdasan.”

Menjawab pertanyaan tentang aksi boikot terhadap produk-produk Prancis Obrou mengatakan itu terjadi karena adanya kesalahpahaman karena perbedaan prinsip.

“Ada kesalahpahaman yang besar, karena dunia Muslim yang menganggap karikatur adalah kehendak pemerintah, tidak mengenal kebebasan berekspresi atau pemisahan kekuasaan. Mereka tidak tahu bahwa kekuatan media bukanlah atas perintah kekuatan politik dan bahwa rakyat bebas. Mereka menganggap bahwa karena Emmanuel Macron membela kebebasan berekspresi, dia membela karikatur nabi. Tidak ada alasan untuk menggunakan kekerasan ketika seseorang dapat menanggapi pelanggaran dengan kecerdasan,” jelasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya