Berita

Dr. Muhammad Najib/RMOL

Muhammad Najib

Mewaspadai Kunjungan Benjamin Netanyahu Ke Saudi Arabia

SELASA, 24 NOVEMBER 2020 | 12:57 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu didampingi Kepala Mossad Yossi Cohen, diberitakan diam-diam terbang ke Saudi Arabia pada Minggu (22/11/2020) waktu setempat.

Jika benar, maka ini untuk pertamakalinya seorang Perdana Menteri negara Zionis menginjakkan kaki di negara yang disebut sebagai pelayan dua kota suci Islam (Hadamun Haramain). Harian Israel Haaretz menkonfirmasi kepergian dua tokoh penting Isreal ini dengan menunjukkan flight-tracking.

Di Saudi, Netanyahu dilaporkan bertemu dengan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, yang dikenal dengan panggilan MBS di kota baru Neom, yang terletak di sisi Barat Hijaz di tepi Laut Merah. Tidak ada informasi apa yang dibicarakan antara keduanya, menunjukkan kerahasiaan tingkat tinggi dari pertemuan ini.


Kantor berita bergengsi yang bermarkas di London Reuters, juga mempublikasikan berita ini pada Senin (23/11/2020), dengan merujuk pada laporan radio publik Israel, Kan dan Army Radio yang menyebut bahwa Netanyahu juga bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, yang juga sedang berkunjung ke Saudi. Tampaknya terjadi pertemuan segitaga antara Netanyahu, Pompeo, dan MBS.

Aljazeera yang bermarkas di Doha menkonfirmasi pertemuan diantara ketiga orang penting Amerika, Israel, dan Saudi Arabia ini melalui Yoav Gallant yang menjabat sebegai Menteri Pendidikan Israel.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan sebagaimana dilansir AFP yang bermarkas di Paris, telah membantah pertemuan antara Netanyahu dengan MBS, walakin bantahan itu disampaikan hanya melalui akun Twitternya, bukan dalam bentuk konprensi pers resmi atau melalui pernyataan terbuka dalam kapasitasnya sebagai Menlu.

Saudi Arabia seringkali menyangkal pemberitaan para petingginya yang berhubungan dengan Israel, meskipun faktanya hal tersebut telah dilakukannya berulangkali, dan salah satunya ketika MBS secara diam-diam mengunjungi Tel Aviv. Bagi rakyat Saudi Arabia, dan bangsa Arab pada umumnya berhubungan dengan Zionis Israel merupakan aib besar.

Sebaliknya, Israel berkepentingan untuk memberitakan pertemuan para pejabatnya dengan para petinggi dunia Arab, disamping hal ini memberikan kredit poin sebagai capaian politik dalam kontek politik domestik dan sebagai bentuk upayanya mengabaikan Palestina, hal ini sekaligus untuk menekan negara-negara Arab yang belum mau berhubungan dengan negara Zionis tersebut.

Mengingat kebanyakan para pejabat negara Arab yang dikunjungi para petinggi Israel tidak ingin pertemuan-pertemuan seperti ini diketahui publik, maka Israel memilih dengan cara membocarakannya seolah tidak sengaja.

Langkah-langkah politik yang dilakukan Pompeo, Netanyahu, dan MBS tentu tidak bisa dilepaskan dari kekalahan Donald Trump dalam pilpres di Amerika beberapa hari yang lalu. Netanyahu dan MBS sebagai sekutu dekat Trump tampaknya tidak ingin menyerah begitu saja, sebelum Trump meninggalkan Gedung Putih.

Bisa dibayangkan kesulitan Israel dan Saudi Arabia bila Joe Biden yang memiliki kebijakan berbeda dengan pendahulunya saat menghuni Gedung Putih, mengingat keduanya telah kewalahan menghadapi Turki dan Iran meskipun didukung penuh oleh Presiden Trump saat menjadi orang nomor satu di Amerika.

Saudi Arabia kalah dalam proxy war  melawan Iran di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Sementara Israel kewalahan menghadapi Hizbullah di Lebanon, Hammas di Palestina, dan Rezim Basyar Al Assad di Suriah, yang semuanya didukung Iran.

Saudi Arabia juga kewalahan dalam proxy war -nya melawan Turki di Suriah, Libia, Tunisia, dan Qatar. Kini mereka sedang bertarung di Sudan. Saudi Arabia hanya menang di Mesir, ditandai dengan tergulingnya Presiden Muhammad Mursi yang didukung Ikhwanul Muslimin.

Jadi Israel dan Saudi Arabia seperti memiliki common enamy . Kini keduanya bersatu untuk menghadapi Turki dan Iran. Karena tidak mungkin menghadapi keduanya secara bersamaan, maka tampaknya koalisi Saudi-Israel memilih menghadapi Iran terlebih dahulu. Hal ini bisa dilihat dari upaya Raja Salman mendekati Presiden Turki Erdogan, dan upaya Presiden Mesir Gendral Sisi meredakan ketegangan dengan Turki.

Perjalanan tidak lazim Pompeo selaku tangan kanan Donald Trump yang menjabat Menlu Amerika ke Israel dan sejumlah negara Arab, saat transisi kekuasaan yang tidak mulus di negaranya sedang berlangsung, tentu menimbulkan kecurigaan.

Michael Fuchs menulis artikel di The Guardian  dengan judul: Mike Pompeo is the number one evangelists of Trumpism in the world . Ideologi politik kelompok evangelist sejalan dengan ideologi Zionis Israel, karena itu di masa Donald Trump menghuni Gedung Putih, kedua kekuatan ini bergabung untuk menghancurkan Palestina dan negara-negara yang memusuhi Israel.

Sebelum menyerahkan kekuasaannya kepada Biden pada 20 Januari mendatang, tampaknya Trump masih melakukan manuver politik bersama Netanyahu dan MBS. Bagi Trump yang tidak rela menyerahkan kekuasaan kepada Biden yang sangat dibencinya, bukan mustahil di sisa masa jabatannya akan mengambil tindakan tertentu terhadap Iran yang nantinya akan menjadi beban tidak terselesaikan untuk sang pengganti.

Jadi semacam perangkap yang disiapkannya untuk menggagalkan Joe Biden sebagai Presiden Amerika. Mungkin Trump lupa bahwa beban ini tidak hanya akan ditanggung Joe Biden sebagai pribadi, akan tetapi juga oleh seluruh rakyat Amerika.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya