Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

AS Bebaskan Mantan Mata-mata Israel Jonathan Pollard, Jadi Hadiah Terakhir Trump Untuk Benjamin Netanyahu

SABTU, 21 NOVEMBER 2020 | 13:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengatakan bahwa pengadilan AS telah membebaskan Jonathan Pollard, warga  Amerika yang dihukum karena memata-matai Israel dalam salah satu kasus spionase paling terkenal di akhir Perang Dingin.

Setelah dibebaskan dari 'pembebasan bersyarat' pada hari Jumat (20/11), Pollard diijinkan pindah ke Israel.

Keputusan Departemen Kehakiman AS itu mungkin menjadi salah satu hadiah terakhir dari pemerintahan Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kasus Pollard telah lama mengganggu hubungan kedua negara, dan kedua belah pihak kadang-kadang menggunakannya sebagai alat tawar-menawar diplomatik.


Pollard yang saat ini berusia 66 tahun, diberi kewarganegaraan Israel pada 1995 dan mengatakan dia akan pindah ke sana jika diizinkan.

Pengacaranya, Eliot Lauer dan Jacques Semmelman, mengatakan bahwa Pollard sekarang bebas untuk melakukan perjalanan ke Israel, meskipun mereka tidak mengatakan kapan dia akan pergi.

Pollard menjalani hukuman selama 30 tahun karena memberikan dokumen rahasia AS kepada Israel.

Dia ditangkap pada tahun 1985 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dua tahun kemudian.

Pollar kemudian mendapat pembebasan bersyarat pada 2015. Pembatasan bersyarat tersebut, kata pengacaranya, telah menjadi hambatan yang tidak dapat diatasi pada kemampuan Tuan Pollard untuk mencari nafkah.

Israel berulang kali menekan Washington untuk membebaskan Pollard, menjadikannya salah satu masalah utama dalam hubungan bilateral kedua negara.

Jumat (20/11) pengadilan AS akhirnya membebaskan Pollard dan dengan demikian 'pembebasan bersyarat' telah selesai.  

“Setelah meninjau kasus Tuan Pollard, Komisi Pembebasan Bersyarat AS menemukan bahwa tidak ada bukti yang menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar melanggar hukum," kata Departemen Kehakiman, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (21/11).

Pollard yang Yahudi adalah analis intelijen Angkatan Laut AS pada pertengahan 1980-an ketika dia melakukan kontak dengan seorang kolonel Israel di New York dan mulai mengirim rahasia AS ke negara yahudi itu dengan imbalan puluhan ribu dolar.

Dia menyerahkan ribuan dokumen penting AS ke Israel, membuat hubungan yang tegang antara dua sekutu dekat itu.

Serangan Israel Oktober 1985 di markas Organisasi Pembebasan Palestina di Tunisia yang menewaskan sekitar 60 orang, adalah rencanakan yang dilakukan dengan informasi yang diperoleh dari Pollard, menurut dokumen CIA yang dibuka pada tahun 2012.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya