Berita

Jurnalis CNN International, Christiani Amanpour/Net

Dunia

Bandingkan Pemerintahan Trump Dengan Kristallnacht, Israel Tuntut Permintaan Maaf Wartawan CNN

SENIN, 16 NOVEMBER 2020 | 17:12 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintah Israel menuntut permintaan maaf seorang pembawa acara CNN International, Christiani Amanpour karena telah membandingkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Kritallnatch.

Pada pembukaan acaranya pada Kamis lalu (12/11), Amanpour menyebut kepemimpinan Trump sebagai "serangan" terhadap peradaban manusia, sebanding dengan yang dilakukan oleh Nazi Jerman selama Kristallnatch.

Kristallnatch atau Malam Kaca Pecah merupakan pogrom terhadap bangsa Yahudi di seluruh Jerman dan sebagian Austria pada 1938. Insiden tersebut membuat ribuan rumah, toko, dan properti milik Yahudi dihancurkan.


"Minggu ini 82 tahun lalu, Kristallnacht terjadi," kata Amanpour ketika membuka acaranya.

"Itu adalah peringatan Nazi yang ditembakkan di haluan peradaban manusia kita yang menyebabkan genosida terhadap seluruh identitas dan, di menara buku yang terbakar, itu menyebabkan serangan terhadap fakta, pengetahuan, sejarah, dan bukti," tambahnya.

"Setelah empat tahun serangan modern terhadap nilai-nilai yang sama oleh Donald Trump, tim Biden-Harris berjanji akan mengembalikannya (ke) normal," imbuh dia.

Dilaporkan Israel National News pada Senin (16/11), Menteri Urusan Diaspora Israel, Omer Yankelevitch pun sudah menulis surat kepada Presiden CNN Jeff Zucker untuk menuntut permintaan maaf Amanpour.

"Saya menyerukan permintaan maaf langsung secara publik dari Christiane Amanpour atas perbandingan yang tidak dapat diterima yang dia buat dalam program televisi internasionalnya pekan lalu," tulis Yankelevitch dalam suratnya.

"Dengan ini kami menemukan persamaan palsu yang dibuat antara tindakan Presiden AS yang sedang duduk dan kekejaman pogrom Kristallnacht yang dilakukan oleh Nazi delapan puluh dua tahun lalu, meremehkan tragedi besar Holocaust," sambung dia.

Yankelevitch mengatakan, distorsi dan minimisasi Holocaust adalah kebohongan yang menyedihkan yang hanya mendorong suara-suara jahat anti-Semitisme.

Menggunakan memori Holocaust untuk nilai kejutan dan memajukan agenda politik, menurutnya adalah putaran kebenaran sejarah dan moral yang sangat mengganggu dan ofensif dengan implikasi berbahaya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya