Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Pasar Asia Turun Lagi Karena Lonjakan Virus Corona Dan Ketidakpastian Pemilihan AS

JUMAT, 30 OKTOBER 2020 | 11:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar Asia menderita kerugian berturut-turut pada Jumat (30/10) karena investor dihantui oleh melonjaknya kasus virus corona di Eropa dan Amerika Serikat yang telah memaksa penguncian baru, serta dipengaruhi juga oleh ketidakpastian menjelang pemilihan AS minggu depan.

Indeks perusahaan keuangan Amerika (MSCI) dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang terakhir turun 0,3 persen, berada di jalur yang lebih rendah 1,3 persen hingga akhir minggu setelah empat minggu berturut-turut naik.

Indeks Nikkei 225 turun 0,52 persen ke 23.209,87. Serupa, indeks Hang Seng pun melemah 0,21 persen ke 24.535,90.


Indeks naik 3,7 persen pada Oktober sejauh ini. Analis memperkirakan kinerja yang lebih luas ini akan berlanjut lebih jauh, seprti dikutip dari Straitstimes.

Pedagang regional menepis rebound di Wall Street dan data pertumbuhan ekonomi mengalahkan perkiraan dari Washington. Analis memperingatkan, lonjakan infeksi baru dan kegagalan untuk mengeluarkan stimulus baru kemungkinan akan membuat pemulihan keluar dari jalurnya.

Ekuitas mengalami minggu-minggu yang memanas. Pemerintah dipaksa untuk bertindak menahan gelombang kedua penyakit di belahan bumi utara, Prancis juga akan melakukan penguncian sepanjang November, lalu Jerman memberlakukan tindakan yang lebih ketat dalam penanganan penyebaran virus.

Bos Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mencatat zona euro menghadapi beberapa bulan yang sulit. Pada Kamis (28/10), ia mengatakan bahwa ekonomi "kehilangan momentum lebih cepat dari yang diharapkan" setelah rebound parsial di musim panas, menambahkan bahwa risiko "jelas miring ke sisi bawah".

Namun, dengan catatan positif dia mengisyaratkan bahwa bank dapat mengungkap langkah-langkah baru untuk menjaga aliran kredit.

Perhatian kini beralih ke pemilihan presiden pada 3 November 2020. Dengan ekspektasi Joe Biden akan memenangkan pemilihan, sementara Demokrat dapat menyapu kedua majelis Kongres, pengamat menilai itu adalah indikasi berlalunya stimulus baru.

Namun, meskipun Biden unggul jauh di depan Donald Trump dalam jajak pendapat nasional, para pedagang pesimis Trump bisa menerima hasil pemilihan setelah selama ini berjuang memperingatkan adanya penipuan pemilih melalui surat suara.

"Akan ada lebih banyak volatilitas menjelang pemilihan," kata Quincy Krosby, dari Prudential Financial, kepada Bloomberg TV, seperti dikutip dari The Standard, Jumat (30/10).

"Selama akhir pekan, orang-orang akan fokus pada negara bagian tempat arena petempuran pemilihan AS, Pennsylvania, untuk melihat apakah Biden berhasil atau tidak di sana. Kekhawatirannya adalah, jika dia (Biden) mendapat sedikit (suara), itu mungkin salah satu bagian di mana Anda benar-benar dapat melihat ke pemilihan yang diperebutkan," Krosby menambahkan.

Trump pada Kamis mengklaim kemenangan dengan data yang menunjukkan ekonomi teratas dunia itu memperluas rekor 33,1 persen pada kuartal ketiga, memperingatkan dalam sebuah tweet bahwa Biden akan merusak pemulihan.

Namun, para analis menunjukkan bahwa angka tersebut muncul setelah penurunan 31,4 persen dalam tiga bulan sebelumnya, dan didorong oleh belanja konsumen yang didukung oleh bantuan pemerintah sebesar 3 triliun dolar AS.

Pasar Asia memperpanjang kerugian minggu ini, dengan perusahaan teknologi dibebani oleh peringatan dari raksasa AS termasuk Apple, Amazon, dan Facebook bahwa prospeknya suram karena dampak virus corona.

Tokyo turun 0,8 persen dan Seoul turun satu persen, sedangkan Hong Kong, Shanghai, Taipei, Sydney, Singapura dan Wellington juga mengalami kerugian.

Namun, Edward Moya dari OANDA, berkata optimis.

"Dunia lebih siap untuk (menangani) Covid-19, setelah selama bulan-bulan di musim dingin telah dilalui. Perawatan dan vaksin akan mendapatkan persetujuan pada akhir tahun," katanya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya