Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Para Veteran Perang Tidak Terpengaruh Oleh Komentar-komentar Trump, Tetap Akan Berikan Suara Sesuai Tindakan

JUMAT, 30 OKTOBER 2020 | 10:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Anggota militer AS akan mempertimbangkan masak-masak ketika memutuskan apakah akan memilih kembali Donald Trump sebagai panglima tertinggi. Para veteran dan anggota dinas aktif mengatakan, yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan, bukan kata-kata. Mereka juga mengatakan, kata-kata bernada tuduhan bisa berimbas dan mempengaruhi suara mereka.

"Bagi mereka yang belum pernah mendengar istilah itu, sekam adalah tindakan balasan yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian Anda," kata seorang wanita tamtama Angkatan Udara.

"Apa yang telah kami lihat pada laporan negatif yang disebut Trump sebagai masalah dengan militer, adalah sekam yang sangat mengganggu," kata salah seorang anggota dinas, tanpa menyebutkan namanya karena terkait dinas, dia tidak diizinkan untuk berbicara secara pribadi dengan media.


Laporan negatif yang selama ini terdengar salah satunya termasuk klaim dari sumber anonim, yang diterbitkan di Atlantik, bahwa Trump meremehkan militer, dan mengatakan bahwa orang Amerika yang tewas dalam perang adalah 'pecundang' dan 'bodoh'.

Namun Trump, didukung oleh banyak saksi, dengan keras membantah telah mengatakan hal tersebut. Sementara para pencela menganggap itu adalah kebenaran.

"Trump. Ketidaktahuan. Kekejaman," cuit pensiunan Jenderal bintang empat Barry McCaffrey, yang berdinas di Kantor Kebijakan Pengawasan Narkoba Nasional Bill Clinton.

"Ini adalah tentara kita. Mereka melangkah maju untuk membela kita. Dia adalah Presiden yang buruk untuk menyebut Angkatan Bersenjata kita sebagai 'pecundang dan pengisap'. "

Para veteran perang, bagaimanapun, mengatakan kepada Just The News bahwa mereka tidak terpengaruh oleh komentar-komentar Trump.

"Saya kira hampir tidak ada veteran yang mempercayainya," kata Jim Lechner, yang melayani beberapa tur di Angkatan Darat, dan merupakan veteran tempur yang dihormati yang pernah mengalami luka-luka dalam peperangan.

"Itu adalah propaganda yang dibantah," katanya.

Seorang veteran lain yang terluka dalam pertempuran menyuarakan pandangan itu.

"Saya kira Trump tidak benar-benar mengatakannya," kata Chuck Ziegenfuss, pensiunan Angkatan Darat. "Intinya begitu. Apakah saya percaya (itu dilakukan oleh seorang) presiden yang telah berbuat banyak untuk para veteran?"

Masalah utama dalam pemilihan presiden adalah tindakan, kata para veteran.

"Selama bertahun-tahun, kami memiliki pemimpin yang merupakan orator hebat, tahu bagaimana berbicara tentang sesuatu," kata Chad Longell, yang ditempatkan bersama Angkatan Darat sebagai bagian dari Perang Melawan Teror global.

"Meskipun ada kekhawatiran dari beberapa gaya retorika Presiden Trump, tidak seperti kebanyakan politisi pada umumnya, dia telah menunjukkan tekad untuk benar-benar memberikan hasil."

Hasilnya khusus untuk militer, kata para anggota dinas dan veteran.

"Dia dengan sangat efektif dan penuh semangat mengejar penghancuran ISIS, dan memiliki kekuatan untuk menghabisi musuh kita," kata Lechner. "Dia membangun kembali kekuatan militer kami yang terhenti di bawah Obama, sebagian karena penyitaan. Kami mengalami kekurangan yang kritis di bidang-bidang utama seperti suku cadang, pesawat baru, sistem persenjataan baru. Trump membangun kembali militer dari aspek itu."

Salah satu faktor kunci, katanya, adalah bagaimana Amerika menggunakan jasa para anggotanya.

"Trump tidak sembarangan menggunakan kehidupan militer," kata Lechner.

Orang lain yang dihubungi oleh Just The News memuji Trump dengan kenaikan gaji militer, reformasi di Departemen Urusan Veteran, dan kesepakatan perdamaian Timur Tengah yang sedang berlangsung.

"Prestasi membangun kembali kekuatan militer kami dan memberitahu mitra NATO kami untuk membayar. Dia tidak memulai atau memperluas perang baru," kata Ziegnefuss.

Komunitas militer, bagaimanapun, memiliiki pandangan yang berbeda seperti yang ditemukan  dalam jajak pendapat terbaru dari Military Times. Hasil bervariasi menurut demografis, seperti usia, ras, dan jenis kelamin. Yang sering mengejutkan hasil jajak pendapat dari masyarakat sipil dan komunitas militer sama-sama beragam.

Para pengkritik militer Trump yang paling keras datang dari para mantan perwira.

Pensiunan Laksamana bintang empat, William McRaven, yang pada tahun 2016 disebut-sebut sebagai anggota kabinet Hillary Clinton, mengkritik Trump secara tidak langsung di Wall Street Journal. Dia mengungkapkan  bahwa ia memilih Biden, dan menulis bahwa "dunia tidak lagi memandang tinggi Amerika."

"Media mencoba menggunakan para veteran untuk membuat poin politik," kata seorang profesional perawatan kesehatan VA kepada Just The News. "Saya berharap mereka tidak melakukannya lagi."

Salah satu prajurit tamtama Angkatan Darat setuju.

"Kami bukan boneka," kata tentara, yang ditempatkan di Fort Bragg, NC. "Jangan gunakan kami untuk mendorong agenda politik tahun pemilihan." 

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya