Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kira-Kira-Yak-E-Ndak-Tentu

SENIN, 26 OKTOBER 2020 | 08:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TIDAK semua WAG layak dicurigai sebagai sarang kaum teroris yang berniat melakukan makar. Misalnya WAG BudayawanPunakawan yang gemar ngalor-ngidul ngobrol soal yang mboten-mboten seperti kaum Punakawan, maka dijamin tidak punya niat makar.

Omong Kosong


Ocehan kaum Punakawan memang senantiasa terkesan omong-kosong, sebab memang sadar atau tidak sadar bahwa omongan pada hakikatnya memang kosong belaka, hanya memang kerap dianggap tidak kosong oleh mereka yang memang mau menganggap omong-kosong sebenarnya tidak kosong.


Satu di antara sekian banyak contoh omong-kosong para anggota WAG BudayawanPunakawan yang masih bertahan untuk tidak left-group adalah mashab kira-kira-yak-e-ndak-tentu yang berakar pada budaya Jateng, Jatim, Madura serta sedikit Jabar maupun Betawi.

Dari kira-kira-yak-e-ndak-tentu itu PKLL (Pusat Studi Logi-Logi) menggagas teman baru kelirumologi, alasanologi, andaikatamologi, malumologi, ngawurologi, angkamologi, purapuramologi, andaikatamologi, bingungologi dan lain-lain logi-logi yaitu kirakiramologi.

Seperti biasa tentu saja para anggota WAG BudayawanPunakawan riuh-rendah mempolemik-polemikan sambil menertawakan kira-kira-yak-e-ndak-tentu sebagai omong-kosong yang sebenarnya kosong tetapi pura-pura tidak kosong padahal kosong.

Namun terselip pula rasa bangga bahwa WAG BudayawanPunakawan berhasil menciptakan suatu mashab baru yang sebelumnya belum ada di alam-alam semesta ini.

Dumeh


Pada rasa bangga itu terselip kekeliruan WAGBudayawanPunakawan akibat melanggar mashab Ojo Dumeh yang an sich sudah keliru karena cara penulisan yang benar yang disepakati para ahli bahasa seharusnya adalah Oja Dumeh.

Ternyata WAG BudayawanPunakawan dumeh alias terkebur menganggap mashab kira-kira-yak-e-ndak-tentu  belum pernah ada di alam-alam semesta sesuai teori tabir kalbu semesta  yang saya peroleh dari Prof BJ Habibie.

Di dalam alam apalagi alam-alam semesta tidak ada yang baru karena semua sudah ada hanya saja belum ditemukan oleh manusia yang memang mustahil sempurna bisa tahu semua yang ada di alam-alam semesta yang tak kenal batasan maksimal mau pun minimalnya ini atau itu.

Prinsip Ketidakpastian


Mashab KKYNT (kira-kira-yak-e-ndak-tentu) sebenarnya sudah ada pada teori ilmu fisika yaitu QED (Quantum Electro-Dynamics) yang merupakan suatu bagian dari apa yang disebut sebagai Uncertainty Principle alias prinsip kira-kira-ya-e-ndak-tentu, berdasar kesepakatan para WAGMahafisikawan pada awal abad XX sebagai prinsip keyakinan atau kecurigaan terserah yang mana bahwa manusia tidak bisa membuat keyakinan yang mutlak yakin bisa memadukan energi dan waktu secara bersamaan alias simultan, yang bisa disimpulkan bahwa neraca energi mustahil diseimbangkan selama-lamanya kecuali untuk sesaat belaka.

Dan mengenai unsur ketidakpastian juga hadir pada epistemologi matematika Bertrand Russel maupun pemikiran kaum skeptiker Yunani Kuno dan Lao Tse yang tanpa akhir meragukan dirinya seorang manusia bermimpi menjadi kupu-kupu atau seekor kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, maupun bingungologi Cervantes di dalam Don Quixote yang tidak bisa membedakan realita dan khayalan yang ternyata sama tapi serupa dengan omong-kosong WAGBudayawanPunakawan yang melahirkan mashab KKYNT yang ternyata sama tapi serupa dengan teori keren QED.

Penulis adalah pendiri WAGBudayawanPunakawan dan Pusat Studi Logi-Logi yang tidak pernah yakin pemikiran dirinya benar

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya