Berita

Politisi PDIP, Eva Sundari (kiri bawah)/Net

Politik

Politisi PDIP Ini Setuju Indonesia Sedang Alami Resesi Demokrasi

MINGGU, 25 OKTOBER 2020 | 18:55 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Penurunan demokrasi yang diungkapkan dalam hasil survei Indikator Politik Indonesia diamini oleh politisi PDIP, Eva Sundari. Hal itu dibuktikannya dengan adanya situasi di negara-negara ASEAN yang menganut sistem demokrasi mengalami penurunan.

“Kita pandang memang situasi di ASEAN, apa yang disebut dengan resesi demokrasi itu memang benar terjadi. Tapi ternyata Indonesia is not as bad as others gitu ya,” ujar Eva dalam acara diskusi virtual rilis survei nasional Politik dan Pilkada Era Pandemi, Minggu (25/10).

Dia mencontohkan negara ASEAN seperti Kamboja, secara tiba-tiba membatalkan pemilih dan bahkan membubarkan oposisi.


“Demikian juga di Myanmar dan seterusnya. Jadi, ya memang terjadi kemunduran atau pun tidak sebebas dulu dalam melakukan ekspresi individu ya,” katanya.

Namun demikian, Eva mengingatkan agar masyarakat tidak lupa bahwa pandemi Covid-19 menjadi faktor utama penurunan sistem demokrasi dunia.

“Ini (pandemi) merupakan faktor yang signifikan, yang kemudian berdampak juga kepada bagaimana orang berpersepsi tentang beberapa pertanyaaan terkait dengan pandemi,” paparnya.

Dalam temuannya bersama organisasi ASEAN and Peace For Human Rights, dalam masa pandemi ada banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang mana menjadi lingkup kecil demokrasi.

“Temuan kami yang terakhir misalkan, dalam masa pndemi ini ternyata para perempuanitu berada di lapis paling rentan, KDRT naik 30 persen, dan perkawinan anak juga naik 30-an persen dan kebebasan beragama yang paling terpukul adalah kelompok minoritas,” paparnya.

“Memburuknya situasi atau demokrasi selalu kita omongin paling tidak pelakunya dua, kalau enggak negara ya civil society. (Tapi) bisa organisasi, bisa juga kelompok kepentingan masyarakat,” tandasnya.

Dalam rilis survei Indikator Politik yang disampaikan secara daring, turut hadir pula Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dan politisi Demokrat, Hinca Pandjaitan.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya