Berita

Direktur Intelijen Nasional AS John Ratcliffe /Net

Dunia

Direktur Intelijen AS Paparkan Bukti Baru Keterlibatan Iran Dan Rusia Yang Akan Rusak Pemilu AS

KAMIS, 22 OKTOBER 2020 | 11:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Iran dan Rusia berusaha menabur kerusuhan pada pemilihan AS November mendatang. Direktur Intelijen Nasional AS John Ratcliffe mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki bukti baru yang mengarah ke sana.

Ratcliffe mengatakan, bukti itu menunjukkan bahwa Iran dan Rusia telah melakukan upaya ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika 2020. Baik Iran maupun Rusia telah memperoleh informasi pendaftaran pemilih AS dalam upaya mereka mencampuri pemilihan.

Secara khusus ia menyebut Iran yang menyamar sebagai kelompok sayap kanan Proud Boys untuk mengirim email yang mengintimidasi kepada para pemilih.


"Data ini dapat digunakan oleh aktor asing untuk mencoba mengkomunikasikan informasi palsu kepada pemilih terdaftar yang mereka harap akan menimbulkan kebingungan, menabur kekacauan dan merusak kepercayaan Anda pada demokrasi Amerika," kata Ratcliffe, seperti dikutip dari CNN, Kamis (22/10).

Disebutnya, warga Iran bertanggung jawab atas kampanye email intimidasi pemilih yang dibuat seolah-olah berasal dari Proud Boys dan juga menyebarkan disinformasi tentang penipuan pemilih melalui video yang ditautkan di beberapa email.

"Kami telah melihat Iran mengirim email palsu yang dirancang untuk mengintimidasi pemilih, memicu keresahan sosial, dan merusak Presiden Trump," tambah Ratcliffe.

"Anda mungkin telah melihat beberapa laporan tentang ini dalam 24 jam terakhir, atau Anda bahkan mungkin salah," katanya.

Sementara itu Rusia belum mengambil tindakan yang sama, kata Ratcliffe, tetapi mereka telah memperoleh beberapa informasi pemilih, seperti yang dilakukan Moskow pada 2016

Ratcliffe berbicara bersama Direktur FBI Chris Wray pada konferensi pers yang digelar dengan tergesa-gesa pada Rabu (21/10) malam waktu setempat untuk mengumumkan campur tangan asing dalam pemilu AS.

"Kami siap untuk kemungkinan tindakan oleh mereka yang memusuhi demokrasi," kata Ratcliffe.

Lewat sebuah pernyataan yang tak biasa dari pejabat keamanan pemilu tertinggi komunitas intelijen, Bill Evanina pada 7 Agustus. Ia menuding Iran bersama dengan Rusia dan China, sebagai salah satu dari tiga musuh asing yang berusaha untuk ikut campur dalam pemilihan tahun 2020 dalam pernyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya 

"Kami menilai bahwa Iran berusaha untuk merusak institusi demokrasi AS, Presiden Trump, dan untuk memecah negara itu sebelum pemilu 2020. Upaya Iran di sepanjang garis ini mungkin akan fokus pada pengaruh online, seperti menyebarkan disinformasi di media sosial dan resirkulasi konten anti-AS," kata pernyataan yang dikeluarkan atas nama seluruh komunitas intelijen saat itu.

"Motivasi Teheran untuk melakukan kegiatan seperti itu, sebagian didorong oleh persepsi bahwa terpilihnya kembali Presiden Trump akan mengakibatkan berlanjutnya tekanan AS terhadap Iran dalam upaya untuk mendorong perubahan rezim," tambahnya.

Pernyataan yang sama mengatakan bahwa komunitas intelijen AS menilai Rusia menggunakan berbagai tindakan terutama untuk merendahkan mantan Wakil Presiden Biden dan apa yang dilihatnya sebagai 'kemapanan' anti-Rusia.

"Ini konsisten dengan kritik publik Moskow terhadapnya ketika dia menjadi Wakil Presiden atas perannya dalam kebijakan Pemerintahan Obama di Ukraina dan dukungannya untuk oposisi anti-Putin di dalam Rusia. Beberapa aktor terkait Kremlin juga berusaha untuk mendorong Presiden. Pencalonan Trump di media sosial dan televisi Rusia," tambahnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya