Berita

HIMARS buatan Lockheed Martin/Net

Dunia

Trump Ingin Jual Peluncur Roket Hingga Rudal Canggih Ke Taiwan, Tunggu Persetujuan Kongres

SELASA, 13 OKTOBER 2020 | 09:32 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak yakin untuk menjual persenjataan canggihnya ke Taiwan yang saat ini sama-sama tengah berseteru dengan China.

Pasalnya, dilaporkan Reuters pada Selasa (13/10), Gedung Putih telah memberikan pemberitahuan informal kepada Kongres terkait permintaan persetujuan penjualan tiga jenis senjata ke Taiwan.

Seorang sumber menyebut, Departemen Luar Negeri AS telah mengirimi pemberitahuan informal tersebut kepada para pemimpin Senat untuk Hubungan Luar Negeri dan Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan.


Di dalam pemberitahuan tersebut, tiga senjata yang akan dijual ke Taiwan adalah Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) buatan Lockheed Martin Corp, rudal udara-ke-darat jarak jauh (SLAM-ER) buatan Boeing Co, dan polong sensor eksternal untuk Jet F-16.

Sebelumnya, pada September, Reuters mendapat laporan, Departemen Luar Negeri AS tengah memproses permintaan Taiwan untuk tujuh sistem persenjataan.

Sumber menyebut, pemberitahuan untuk penjualan sistem persenjataan lain, termasuk drone, rudal anti-kapal Harpoon, dan ranjau bawah air belum disampaikan ke Capitol Hill.

Sejauh ini, jurubicara Departemen Luar Negeri AS enggan memberikan konfirmasi hal tersebut.

"Sebagai masalah kebijakan, AS tidak mengonfirmasi atau mengomentari penjualan atau transfer pertahanan yang diusulkan sampai mereka secara resmi diberitahukan kepada Kongres," kata jurubicara itu.

Berdasarkan peraturan, Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS dan Dewan Perwakilan Rakyat memiliki hak untuk meninjau, dan memblokir, penjualan senjata di bawah proses peninjauan informal sebelum Departemen Luar Negeri mengirimkan pemberitahuan resminya ke cabang legislatif.

Anggota parlemen, yang umumnya waspada dengan apa yang mereka anggap sebagai agresi China dan mendukung Taiwan, diharapkan tidak keberatan dengan penjualan Taiwan.

Menanggapi laporan itu, Kedutaan Besar China pada Senin (12/10) mendesak Washington untuk menghentikan penjualan senjata dan hubungan militer dengan Taiwan.

"Jangan sampai itu akan sangat merugikan hubungan China-AS dan perdamaian dan stabilitas lintas-Selat," kata kedutaan dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

"China secara konsisten dan tegas menentang penjualan senjata AS ke Taiwan dan memiliki tekad kuat dalam menegakkan kedaulatan dan keamanannya," tekan kedutaan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya