Berita

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-9/Repro

Politik

Doni Monardo: Vaksin Tidak Serta Merta Hentikan Covid-19

KAMIS, 01 OKTOBER 2020 | 17:43 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Banyak kalangan yang meminta pemerintah dan parlemen mempertimbangkan kembali untuk menunda Pilkada serentak yang dihelat 9 Desember 2020 mendatang.

Hal itu dikarenakan kekhawatiran masyarakat akan adanya kluster pilkada pandemi Covid-19.

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menyampaikan untuk menunda pilkada merupakan suatu hal yang mustahil. Sebab, tidak ada satupun orang yang bisa meramalkan kapan pandemi ini akan berakhir.


“Jadi begini, kalau ditunda berapa lama? Apakah ada jaminan penundaan, akan berlangsung pada waktu yang kita tentukan bersama? Kalau misalnya ada kepastian, tentunya akan ada pertimbangan lain,” ucap Doni dalam acara webinar Mappilu PWI, Kamis (1/10).

Menurutnya, adanya vaksin juga tidak bisa disebarkan secara sembarangan dan hanya bagi seseorang yang memiliki prioritas yang diberikan dengan cara bertahap.

Kata Perwira Tinggi TNI AD itu, penundaan Pilkada dirasa mustahil untuk dilakukan jika menunggu vaksin disebarluaskan.

“Vaksin juga tidak serta merta akan menghentikan covid. Artinya, di vaksin ada yang mendapatkan antibody, terhindar dari covid, tapi menunggu giliran yang lain. Sementara itu, yang tadi disampaikan Prof Mahfud MD ada 261 kabupaten kota serta 9 gubernur yang nantinya ditunjuk Plt yang tidak mungkin mengambil keputusan, tidak mungkin mengeluarkan anggaran,” urainya.

Kepala BNPB ini mengatakan, Covid-19 ini haris memiliki sebuah sistem satu komando, dengan maksud harus ada figur yang betul-betul bisa menyelesaikan persoalan di tengah pandemi ini.

Termasuk juga masalah untuk menyinergikan seluruh komponen yang ada di daerah.

Oleh karena itu, dia menekan harus ada pemilihan kepala daerah agar dapat memiliki kepala daerah terbaik guna menekan pandemi Covid-19 lewat programnya.

“Dengan tidak adanya figur yang kuat, setelah itu tidak ada jaminan bahwa pengendaliannya akan berjalan dengan baik. Jadi, kita memilih atas pilihan yang sama-sama kurang bagus, tetapi kita semua harus yakin kalaua kita bisa menyusun strategi secata bersama-sama untuk mnghindari kerumunan, kuncinya cuma satu jangan ada kerumunan,” bebernya.

“Jumlah banyakpun, kalau bisa diatur tidak ada kerumunan itu sangat efektif. Yang membuat seseorang tertular, itu bukan orang yang jauh tapi orang yang dekat. Dan pemerintah lewat kerja sama Kemendagri dengan KPU telah memutuskan 50 orang saja,” tandasnya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya