Berita

DN. Aidit berfoto bersama dengan Mao Zedong/Buku Taomo Zhou

Politik

Perbincangan Aidit Dan Mao Zedong Sebelum Kudeta PKI

KAMIS, 01 OKTOBER 2020 | 15:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Polemik Partai Komunis Indonesia (PKI) terus selalu muncul setiap penghujung bulan September. Di tahun ini polemik itu mencuat seiring pernyataan putri Bung Karno, Sukmawati Soekarnoputri yang menyebut PKI berideologi Pancasila.

Kini publik dihangatkan kembali tentang upaya kudeta dari PKI di tahun 1965. Adalah disertasi dari Taomo Zhou, sejarawan dari Nanyang Technology University, Singapura yang diungkit.

Dalam disertasi yang kemudian dibukukan lewat judul “Revolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia, Tiongkok dan Etnik Tionghoa 1945-1947” itu mengungkapkan sejumlah catatan menarik pergolakan politik di Indonesia yang melibatkan PKI.


Yang paling menarik adalah mengenai upaya PKI melakukan kudeta. Taomo Zhou mencantumkan sebuah arsip-arsip sejarah yang disimpan di Beijing tentang pertemuan DN. Aidit dengan Mao Zedong dan petinggi Partai Komunis China.

Dalam pertemuan yang berlangsung 5 Agustus 1965 di China itu, Aidit menyampaikan rencana untuk melakukan kudeta.

Sebagai bukti menguatkan, Taomo Zhou menyertakan sebuah foto Mao Zedong diapit DN Aidit dan istrinya, Tanti serta anggota Politbiro PKI, Jusuf Adjitorop.

Percakapan diawali dengan pertanyaan dari Mao Zedong tenang kondisi perpolitikan di Indonesia.

“Saya rasa Sayap Kanan Indonesia bertekat merebut kekuasaan, apa kau juga ingin seperti itu?” tanyanya.

Aidit lalu mengangguk tanda mengiyakan. Dia mengatakan, jika Soekarno meninggal kondisi ini akan menjadi sebuah pertanyaan besar siapa yang akan mendapatkan kekuasaan.

Mao lantas menyarankan agar Aidit tidak terlalu sering pergi ke luar negeri.

“Anda bisa mewakilkan orang nomor dua di partai Anda untuk pergi ke luar negeri sebagai gantinya,” harap Mao.

Aidit kemudian menjelaskan bahwa Sayap Kanan akan melakukan dua kemungkinan aksi.

“Pertama, mereka dapat menyerang kami. Jika benar, kami tentu akan punya alasan menyerang balik. Kedua, mereka dapat mengadopsi metode yang lebih moderat dengan membangun pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno ini akan menjadi mudah bagi mereka untuk mendapatkan dukungan dari kalangan tengah untuk mengisolasi kami. Skenaro terakhir akan sulit untuk kami,” urainya.

“Bagaimanapun kita harus menghadapinya. Amerika telah meminta dia (Nasution) untuk lebih fleksibel dibanding sebuah kudeta. Dan dia menerima saran Amerika,” sambung Aidit.

Mao menjawab, “itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah”.

Aidit lalu mengurai skenario pertamanya, yaitu berencana membentuk komite militer. Mayoritas komite, katanya, adalah Sayap Kiri tapi juga harus memasukan elemen moderat.

“Dengan cara ini, kami bisa membuat bingung musuh kita. Musuh tentu tidak yakin dengan arah komite ini dan para komandan militer yang simpatik ke Sayap Kanan tidak akan langsung melawan kita,” tegasnya.

“Jika kami menunjukkan bendera merah tentu mereka akan langsung menentang kami. Itu kepala komite militer ini akan menjadi anggota bawah tanah dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasi dirinya sebagai pihak netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan lama karena orang baik akan berubah menjadi jahat. Setelah didirikan, kami perlu mempersenjatai para buruh dan petani secara tepat waktu,” sambung Aidit dalam buku Taomo Zhou itu.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya