Berita

Tentara India di perbatasan Ladakh/Net

Dunia

Beijing Tidak Akui Wilayah Persatuan Ladakh, Jubir Klaim Bentrokan Perbatasan Adalah Sisa Perselisihan Sejarah Pakistan-India

RABU, 30 SEPTEMBER 2020 | 06:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China mengatakan bahwa Beijing tidak mengakui wilayah persatuan Ladakh dan menentang pembangunan infrastruktur di perbatasan yang "disengketakan" itu.

Pernyataan itu dikeluarkan untuk menanggapi pertanyaan tentang India yang saat ini tengah membangun jaringan jalan dataran tinggi di Ladakh.  

“China belum mengakui wilayah persatuan Ladakh yang didirikan secara ilegal oleh pihak India. Kami menentang pembangunan infrastruktur untuk keperluan militer di daerah perbatasan," ujar juru bicara kementerian luar negeri Wang Wenbin, seperti dikutip dari Hindustan Time, Selasa (29/9).


Penguatan infrastruktur India di kawasan itu terjadi di tengah ketegangan perbatasan terburuk dengan China dalam beberapa dekade di Ladakh timur, di mana pasukan perbatasan dari kedua negara mengalami bentrokan mengerikan dalam pertempuran sejak Mei.

Wenbin lebih lanjut menambahkan, menurut pakta baru-baru ini antara China dan India, tidak ada pihak yang mengambil tindakan secara sepihak di daerah perbatasan. Hal itu hanya akan memperumit situasi.

"Agar tidak mempengaruhi upaya kedua belah pihak untuk meredakan situasi,” ujar Wenbin.

Dua negara bertetangga itu terlibat bentrokan mengerikan yang meletus di Line of Actual Control (LAC) di lembah Galwan. Sebanyak 20 korban India tewas, sementara jumlah dari pihak China belum dikonfirmasi.

Sebelumnya, dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada putaran keenam pembicaraan Komandan Korps, kedua belah pihak telah setuju untuk menghentikan pengiriman lebih banyak pasukan ke garis depan dan menahan diri untuk tidak mengubah situasi di lapangan secara sepihak. Keduanya juga setuju untuk mengadakan lebih banyak pembicaraan untuk penyelesaiannya.

Namun, negosiasi tidak kunjung membuahkan hasil. Keduanya terlibat dalam dialog buntu.

“Mereka sebelumnya sepakat untuk dengan sungguh-sungguh melaksanakan konsensus penting yang dicapai oleh para pemimpin kedua negara, memperkuat komunikasi di lapangan, menghindari kesalahpahaman, dan berhenti mengirim lebih banyak pasukan ke garis depan, juga menahan diri untuk mengubah situasi di lapangan secara sepihak. Apa pun setiap tindakan yang mungkin mempersulit situasi,” kata pernyataan bersama di tingkat komandan militer senior yang diadakan pada hari Senin.

Pada 2019, Beijing menyatakan bahwa perubahan 'sepihak' yang dilakukan India pada status bekas negara bagian Jammu dan Kashmir dengan membaginya menjadi dua wilayah persatuan yang terpisah adalah ilegal dan tidak valid.

Menanggapi pertanyaan tentang dampak keputusan India satu tahun kemudian, Wenbin menyatakan bahwa Beijing telah mengikuti dengan cermat situasi di Kashmir.

“China mengikuti dengan cermat situasi di wilayah Kashmir. Posisi China dalam masalah Kashmir jelas dan konsisten. Masalah ini merupakan sisa perselisihan dari sejarah antara Pakistan dan India. Itu adalah fakta obyektif seperti yang ditetapkan oleh Piagam PBB, resolusi Dewan Keamanan PBB dan perjanjian bilateral antara Pakistan dan India. "

“Setiap perubahan sepihak ke status quo adalah ilegal dan tidak valid. Masalah ini harus diselesaikan secara damai melalui dialog dan konsultasi antara pihak-pihak terkait,” kata Wang yang juga mengingatkan bahwa Pakistan dan India adalah tetangga 'yang tidak bisa dipindahkan'.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya