Berita

Pesawat Pakistan International Airlines/Net

Dunia

Pakistan Buka Penyelidikan Kasus Puluhan Pilot Dengan Lisensi Palsu

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2020 | 13:45 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kecelakaan yang menimpa pesawat Pakistan International Airlines (PIA) pada Juni lalu telah menyibak sisi kelam sektor penerbangan Pakistan.

Kecelakaan tersebut membuka fakta bahwa sekitar 30 persen dari 860 pilot sipil di Pakistan mengantongi lisensi palsu. Sebanyak 262 pilot tersebut diketahui tidak mengikuti ujian untuk mendapatkan lisensi terbang. Sebagai gantinya, mereka membayar "joki" untuk mengikuti ujian itu hingga lulus.

Temuan tersebut akhirnya membuat banyak pilot Pakistan dilarang terbang sementara. Beberapa maskapai asing yang mempekerjakan pilot Pakistan juga telah menangguhkan para pilot tersebut.


Sekitar tiga bulan setelahnya, Rabu (16/9), Pakistan membuka penyelidikan kriminal terhadap 50 pilot dan setidaknya lima pejabat penerbangan sipil terkait kasus tersebut.

Mengutip Reuters, atas perintah pemerintah, Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) telah meluncurkan penyelidikan kriminal atas masalah tersebut dalam rapat kabinet pada Selasa (15/9).

Di sisi lain, FIA juga sedang menyelidiki dugaan korupsi, pelanggaran, malpraktek dalam penerbitan izin awak pesawat.

Pejabat senior FIA, Munir Ahmed Shaikh membenarkan bahwa penyelidikan atas masalah tersebut sedang berlangsung, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.

Kementerian penerbangan sipil sendiri menolak berkomentar sampai pemerintah mengumumkan masalah tersebut.

Menurut sumber, setiap temuan akan langsung dilaporkan pada Perdana Menteri Imran Khan. Di mana saat ini ada 32 pilot tambahan yang izin terbangnya telah ditangguhkan selama setahun.

"Kabinet diberitahu bahwa FIA telah membuka proses ke pilot yang lisensinya dicabut, dan pejabat penerbangan sipil yang berkomplot dengan mereka," demikian bunyi notulensi rapat kabinet yang dilihat Reuters.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya