Berita

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi/Net

Dunia

Salahkan AS Atas Militerisasi Di Laut China Selatan, Menlu Wang Yi Ajak ASEAN Rampungkan Kode Etik

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2020 | 08:10 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ketegangan Laut China Selatan (LCS) terus meningkat dengan kehadiran dua kekuatan dunia besar, China dan Amerika Serikat (AS). Hal tersebut sangat mengkhawatirkan karena keduanya memicu militerisasi kawasan tersebut.

Namun, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi mengatakan, Amerika Serikat (AS) lah yang menjadi penyebab dilakukannya militerisasi di Laut China Selatan. Ia menuding Washington melakukan campur tangan secara langsung di Laut China Selatan karena kepentingan politiknya.

"Itu menjadi pendorong militerisasi terbesar di kawasan," ujar Wang dalam konferensi video ketika menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN pada Rabu (9/9), melansir Reuters.


"Perdamaian dan stabilitas adalah kepentingan strategis terbesar China di Laut China Selatan. Ini juga merupakan aspirasi strategis bersama China dan negara-negara ASEAN," sambungnya.

Wang menekankan, Beijing bersedia untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Washington untuk mencapai kerja sama.

Perseteruan antara China dan AS di Laut China Selatan bukan hanya dilakukan dengan militer.

Bulan lalu, Washington memasukkan 24 perusahaan China ke dalam daftar hitam karena dianggap berperan dalam membangun kontruksi militer di Laut China Selatan. Itu merupakan sanksi pertama AS kepada China atas Laut China Selatan.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut, Wang Yi juga menyerukan diselesaikannya kode etik (Code of Conduct/CoC) di Laut China Selatan dengan ASEAN untuk meredam ketegangan.

"China harus menyelesaikan kode etik dengan negara-negara ASEAN secepat mungkin untuk menciptakan seperangkat aturan yang mencerminkan karakteristik kawasan itu," ujarnya.

Selama ini, China telah mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan yang bertentangan dengan Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam di ASEAN.

CoC sendiri sudah lama dibahas. Pada 2002, China dan ASEAN menyepakati Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea. Namun, Beijing dengan cepat membangun pulau-pulau buatan dengan infrastruktur militer yang menciptakan ketegangan di kawasan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya