Berita

Ashley Scott dan Renee Walters/Net

Dahlan Iskan

Inisiatif Merdeka

RABU, 09 SEPTEMBER 2020 | 05:28 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INI tidak mungkin terjadi di Indonesia: dua wanita membeli tanah 40 hektare untuk dibuat perumahan tertentu.

Kelak, administrasi perumahan itu tidak akan di bawah desa terdekat. Juga tidak mau di bawah kabupaten atau kota setempat. Pun tidak mau di bawah negara bagian mana pun.

Dua wanita itu akan membuat wilayah administrasi pemerintahan sendiri. Yang luasnya 40 hektare itu.


Di Amerika status administrasi pemerintahan seperti ini dimungkinkan.

Disebut: Unincorporated Community. Yakni sebuah komunitas yang tidak terikat dengan pemerintahan daerah mana pun.

Itulah inti paling dalam prinsip demokrasi di Amerika: berhak menentukan nasib sendiri. Empat bulan lalu yang seperti ini dicoba dibuat di tengah kota Seattle, kota terbesar di negara bagian Washington. Wilayahnya seluas 6 blok, di tengah kota. Enam blok itu memisahkan diri dari administrasi pemerintahan kota.

Warga enam blok itu merasa mampu mengurus diri sendiri. Mereka tidak mau "diurus" oleh pemerintah kota. Yang menurut mereka terbukti hanya menganggu saja.

Deklarasi 'kemerdekaan' enam blok itu sudah dilakukan. Tidak ada yang marah. Walikota Seattle pun tenang-tenang saja. Ia tidak peduli wilayahnya berkurang. Ia tahu wilayah itu bukan miliknya, untuk apa diributkan atau dipertahankan.

Dan yang seperti itu memang dibolehkan. Ada ratusan Unincorporated Community di Amerika. Tidak pernah ada yang mempersoalkan. Biasa saja.

Tapi rasanya pemisahan 6 blok di tengah kota Seattle itu belakangan tidak terdengar lagi. Kelihatannya tidak jadi.

Yang serius justru dua wanita tadi: Ashley Scott dan Renee Walters. Dua-duanya pengusaha. Scott pengusaha real estate. Walters pengusaha bidang investasi.

Dua-duanya wanita kulit hitam.

Cita-cita mereka sama: membuat Unincorporated Community khusus untuk warga kulit hitam. Yakni di tanah seluas 40 hektare itu. Jauh lebih besar dari wilayah 6 blok di tengah kota Seattle itu. Yang hanya kurang dari 5 hektare.

Tanah 40 hektare itu memang tanah kosong. Letaknya agak jauh dari mana-mana. Tapi masih di negara bagian Georgia. Kira-kira 150 Km dari kota terbesar di Georgia, Atlanta. Atau sekitar 100 Km dari "ibu kota golf dunia" Agusta. Lokasi itu tepatnya di antara dua kota itu tapi agak ke arah selatan.

Kira-kira saya tahu wilayah ini. Saya pernah menjelajah  kawasan itu. Termasuk pernah mengemudi sendiri dari Atlanta ke Agusta –melihat lapangan golf yang selalu dipuja teman saya Robert Lai itu.

Lebih tepatnya lagi tanah 40 hektare itu ada di satu kawasan tidak bernama. Dekat dengan Toomsboro.

Nantinya "kota 40 hektare" itu disebut: Freedom Georgia Initiative.

Kini lahan itu sudah mulai dibuldozer. Sudah pula dipasarkan.

Desain dan penataan kawasan ini mendapat inspirasi dari pedesaan Wakanda, di film Black Panther. Yang bintang utamanya baru saja meninggal itu.

Tapi misi ideologisnya bukan dari film yang fiksi itu. Inspirasinya dari film yang nyata-nyata terjadi di dunia. Bahkan terjadi di Georgia: terbunuhnya Ahmaud Arbery. Yakni pemuda kulit hitam, 25 tahun, yang suka olahraga jogging.

Malam itu Arbery lagi jogging di kawasan yang tenang dan indah. Di musim panas seperti itu –apalagi di wilayah selatan seperti Georgia– tempat tadi  terasa sangat nyaman.

Arbery mati ditembak di tempat jogging itu.

Nasib. Yakni nasibnya yang berkulit hitam. Hanya karena ia kulit hitam –maksudnya ialah yang pantas dicurigai sebagai pencuri yang lagi dikejar– maka ia yang ditembak.

Ia sendiri memang lagi lari –jogging beneran.

Peristiwa itu menimbulkan kemarahan yang meluas. Itulah sebabnya ketika terjadi lagi kasus matinya George Floyd tiga bulan kemudian kemarahan meledak hebat sekali. Floyd adalah orang kulit hitam yang ditelikung polisi kulit putih di Minneapolis.

Kelihatannya dua kejadian itu selisih hampir tiga bulan. Tapi kemarahan akibat tragedi yang menimpa Arbery masih terus panas sampai Floyd meninggal dunia.

Itu karena tiga orang kulit putih yang menembak Arbery tidak segera ditangkap. Bahkan sampai dua bulan kemudian.

Nanti saya jelaskan mengapa mereka tidak segera ditangkap. Padahal nama, alamat dan orangnya jelas ada di lokasi itu.

"Hanya karena kulit hitam ia harus dipaksa mati."

"Dan pembunuhnya aman-aman saja."

Itulah isu yang terus meluas. Sampai menjelang dua minggu sebelum kejadian yang menimpa Floyd.

Maka pada dasarnya penembakan Arbery dan matinya Floyd terasa seperti beruntun. "Hanya karena hitam maka harus mati."

Diskriminasi seperti itu sudah berlangsung ratusan tahun. Secara struktural pula.

Lebih dari itu. Lokasi ditembaknya Arbery adalah kawasan yang hanya dihuni oleh orang kulit putih –White only. Kawasan itu tergolong Unincorporated Community. Namanya Satilla Shores: Unincorporated Glynn.

Tidak segera ditangkapnya tiga penembak itu kelihatannya ada kaitan dengan status lokasi yang unincorporated itu.

Tidak ada aparat hukum di situ. Mereka tidak punya polisi apalagi jaksa.

Sebagai warga unincorporated mungkin mereka beranggapan: tidak ada orang lain yang masuk ke kawasan itu. Pun mungkin mereka merasa berhak menembak siapa saja yang memasuki kawasan tersebut.

Memang, kawasan unincorporated umumnya adalah dihuni kulit putih. Saya belum pernah mendengar ada kawasan unincorporated yang penghuninya orang kulit hitam. Atau campuran.

Orang kulit putihlah yang punya budaya "hak atas properti adalah hak yang tertinggi". Tidak boleh diganggu siapa pun –termasuk pemerintah.

Dalam prinsip itu siapa pun yang memasuki properti pribadi boleh ditembak.

Itulah yang menginspirasi dua wanita yang membeli tanah 40 hektare tadi. Keduanya akan membangun wilayah unincorporated sendiri. Mungkin untuk yang pertama di Amerika: penghuninya hanya akan orang hitam.

Di situlah orang-orang hitam akan bisa merasa merdeka semerdeka-merdekanya.

Harapan saya: tidak perlu sampai menembak kalau ada orang kulit putih yang tidak sengaja lewat di sana.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya