Berita

Mantan Presiden Bolivia,Evo Morales/Net

Dunia

Pemerintah Bolivia Adukan Evo Morales Ke Pengadilan Kriminal Internasional Atas Tuduhan Terorisme Dan Genosida

SABTU, 05 SEPTEMBER 2020 | 13:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Bolivia mengumumkan bahwa mereka telah menghubungi Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk memeriksa mantan presiden Evo Morales atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama gerakan pemblokiran jalan massal bulan lalu.

Pemerintah menuduh Morales melakukan terorisme dan genosida selama aksi blokade massa yang dilakukan para pendukungnya yang berlangsung selama 12 hari pada Agustus lalu yang telah mengakibatkan kurangnya pasokan medis mendesak yang dibutuhkan untuk merawat pasien virus corona.

Presiden sementara Jeanine Anez menginformasikan hal tersebut di akun twitter pribadinya pada Jumat (4/9).


"Jaksa negara Bolivia berada di ICC di Den Haag mengajukan keluhan atas #crimesagainsthumanity terhadap Evo Morales dan lainnya," kata Anez, seperti dikutip dari AFP, Jumat (4/9).

Anez mengatakan pengepungan kota yang dilakukan oleh pendukung Morales selama 12 hari itu telah menyebabkan lebih dari 40 kematian akibat kekurangan oksigen yang tidak dapat dikirim ke rumah sakit.

Aksi massa yang dilakukan oleh pendukung Morales itu melibatkan 142 penghalang jalan di seluruh negeri. Aksi blokade itu telah membatasi kemampuan truk yang membawa oksigen untuk mencapai rumah sakit yang merawat pasien virus corona

Morales, yang merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di Bolivia meski saat ini ia tinggal di pengasingan di Argentina, telah mendorong para pendukungnya untuk meningkatkan tekanan pada pihak berwenang dalam upaya mencegah penundaan pemilihan umum.

Pemilihan yang awalnya akan berlangsung pada Mei telah mengalami dua kali penundaan, pertama 6 September dan kemudian kini 18 Oktober.

Saat ini Bolivia telah mencatat lebih dari 118.000 kasus dan hampir 5.300 kematian akibat virus corona.

Ini bukan proses pidana pertama yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Morales yang berusia 60 tahun, presiden pribumi pertama Bolivia yang berkuasa dari 2006- 2019.

Pihak berwenang juga menuduh Morales memiliki dua hubungan intim dengan anak di bawah umur, termasuk satu di mana dia diduga menjadi ayah dari seorang anak perempuan yang berusia 15 tahun ketika dia hamil.

Selain itu Morales juga dituduh telah melakukan hasutan dan terorisme atas kerusuhan sipil yang terjadi setelah pengunduran dirinya dan pelariannya ke pengasingan pada November lalu.

Partai Gerasakan Sosialisme (MAS) tempat Morales bernaung menepis tuduhan itu dan mengatakannya sebagai taktik pra-pemilihan.

Luis Arce, kandidat presiden dari Partai MAS, telah memimpin pemungutan suara sejak dia dicalonkan pada Januari tetapi yang terakhir dia bersaing ketat dengan mantan presiden berhaluan tengah Carlos Mesa.

Sementara Morales dilarang mencalonkan diri kembali dalam pemilihan, bahkan sebagai senator.

Dia melarikan diri ke pengasingan setelah tiga minggu protes terhadap pemilihan kembali kontroversialnya untuk masa jabatan keempat yang inkonstitusional Oktober lalu.

Audit Organisasi Negara-negara Amerika menemukan bukti kecurangan dalam pemilihan, setelah itu Morales mengundurkan diri dan meninggalkan negara itu.

Kantor kejaksaan umum mengatakan kepalanya Jose Maria Cabrera bertemu dengan kepala jaksa ICC Fatou Bensouda di Den Haag pada hari Jumat.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Intelijen AS: Iran Bakal Perpanjang Perang untuk Goyang Trump di Pemilu Sela

Minggu, 06 September 2026 | 16:27

Pengunjung Lampung Financial Festival 2026 Antusias Jajal Layanan Digital BNI

Minggu, 06 September 2026 | 16:06

Erupsi Anak Krakatau, 12 Penerbangan Malaysia Airlines ke Jakarta Dibatalkan

Minggu, 06 September 2026 | 15:51

Debu Vulkanik Tebal Selimuti Bandar Lampung

Minggu, 06 September 2026 | 15:36

Trump Ancam Serang Gunung Pickaxe Iran dalam Waktu Dekat

Minggu, 06 September 2026 | 15:25

Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran Berpeluang Ditolak MK

Minggu, 06 September 2026 | 14:49

Denmark Tegaskan Dukungan Terhadap Otonomi Sahara Maroko

Minggu, 06 September 2026 | 14:18

BNPB Gencarkan OMC Redam Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau di Jakarta

Minggu, 06 September 2026 | 14:12

Pemantauan Kualitas Udara Diperketat Antisipasi Dampak Sebaran Abu Vulkanik

Minggu, 06 September 2026 | 14:06

Produk Impor Masuk RI Wajib Halal

Minggu, 06 September 2026 | 14:01

Selengkapnya