Berita

Donald Trump/Net

Muhammad Najib

Tanda-tanda Kekalahan Donald Trump Semakin Hari Semakin Nyata

SENIN, 17 AGUSTUS 2020 | 11:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

Dalam Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat (14/8), Amerika mengalami kekalahan telak.

Dari 15 anggota DK PBB, 3 negara memberi suara menentang, diantaranya: Iran, Rusia, dan China. Sementara 11 anggota abstain termasuk Perancis, Jerman, Inggris, dan Indonesia. Sedangkan yang mendukung hanya satu suara, yakni dirinya sendiri.

Upayanya untuk melakukan embargo senjata terhadap Iran bukan saja gagal, akan tetapi keputusan DK PBB ini sekakigus menampar wajah Amerika di panggung dunia internasional.


Keputusan DK PBB ini sejatinya menjelaskan banyak hal. Pertama, sekutu-sekutu tradisional Amerika yang tergabung dalam Uni Eropa tidak lagi bersama Amerika, dan telah meninggalkannya sendirian diperlakukan.

Sebelumnya dalam banyak hal, negara-negara sekutu Amerika di UE sudah tidak sejalan dalam banyak hal, akan tetapi Donald Trump tidak pandai membaca situasi dan hanyut dengan arogansinya.

Kedua, seharusnya Amerika sudah bisa memperkirakan hasil pemungutan suara seperti ini sebelum terjadi, mengingat posisinya sebagai salah satu Super Power yang disegani dan memiliki mesin diplomasi yang canggih dalam semua proses pengambialihan keputusan penting di PBB. Kali ini ternyata mesin diplomasinya sama sekali tidak berfungsi.

Ketiga, berbagai sikap politik Amerika di bawah Presiden Donald Trump cendrung semuanya sendiri, dalam pengertian mengutamakan kepentingan nasional Amerika dan pada saat bersamaan mengabaikan kepentingan nasional negara lain. Lazimnya, diplomasi multilateral dilakukan dengan berpijak pada prinsip bagaimana memperjuangkan kepentingan bersama.

Keempat, Donald Trump sering kali mempraktikan politik "injak kaki". Yang paling sering jadi sasaran atau korban politik seperti ini adalah negara-negara Timur Tengah dan negara lain yang mudah didikte. Palestina dan negara-negara Arab kaya di kawasan Teluk dan Palestina yang paling sering menjadi korbannya.

Kini Amerika gagal menggunakan jurus ini, bahkan bisa dikatakan kena batunya, ketika hendak menyasar Iran. Pada mulanya Gedung Putih menggunakan embargo ekonomi, kemudian meningkat dengan serangan militer, yang terakhir upayanya mendapatkan dukungan politik untuk mengucilkan Iran dengan embargo senjata. Semua upaya ini bukan hanya gagal, bahkan berujung tragis.

Kelima, Amerika yang secara tradisional dikenal demokratis dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM), di bawah Donald Trump menjelma menjadi otoritarian dan mengabaikan HAM. Sikap rasis terhadap rakyatnya sendiri yang  berkulit hitam dan kulit berwarna, serta kebenciannya terhadap Islam diumbar secara terbuka.

Hal ini dilakukan sekedar untuk memenangkan politik elektoral, yang dalam waktu bersamaan menimbulkan kemarahan rakyatnya yang waras dan kekecewaan bangsa-bangsa yang beradab.

Keenam, sikapnya yang membabi-buta membela Israel, mulai dari penutupan kantor perwakilan Palestina di Washington DC, sampai penghentian bantuan dana untuk pengungsi Palestina yang di organising PBB melalui UNRWA, mendorong aneksasi Dataran Tinggi Golan, mendukung aneksasi Tepi Barat oleh Israel, dsn mendukung pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem/Al Quds, membuat negara-negara Muslim dan negara-negara anti kolonialisme marah.

Ketujuh, Donald Trump berusaha untuk menggunakan jabatannya untuk mendapatkan dukungan negara lain dalam upaya memenangkan kontestasi untuk menduduki kembali kursinya di Gedung Putih, menunjukkan ia tidak percaya diri bila bertarung secara fair.  

Paling tidak ada tiga peristiwa yang telah muncul ke publik yang menjadi bukti, betapa modus ini sangat disukainya. Pertama, kemenangan Donald Trump pada Pilpres yang lalu disinyalir karena adanya keterlibatan Rusia. Kedua, upayanya meminta bantuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk memojokkan saingannya Joe Biden dengan cara mengungkapkan berbagai kesalahan anaknya yang memiliki bisnis di sana. Ketiga, mendapatkan dukungan dari Presiden China XI Jinping, sebagaimana diungkapkan oleh John Bolton dalam bukunya The Room Where IT Happened: A White House Memoar.

Kedelapan, semua jejak pendapat yang objektif menyimpulkan bahwa dalam pemilu yang akan digelar 3 November mendatang, sulit bagi Trump untuk menghadang penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden. Apalagi Biden didampingi Cawapres Kemal Haris yang mendapat dukungan antusias oleh pemilik hak suara.

Kesembilan, pandemi virus Covid-19 Corona menempatkan Amerika sebagai negara dengan korban sakit dan meninggal dunia terbesar di dunia. Hal ini disebabkan karena sikap arogan Presiden Donald Trump yang menganggap enteng pandemi ini, kemudian berimplikasi pada sikap ceroboh dalam penanganannya, sehingga mengabaikan berbagai peringatan dan protokol kesehatan yang dibuat WHO.

Kesepuluh, kasus Muhammad Bin Salman yang akrab dipanggil MBS sang pemimpin de facto Saudi Arabia, kini menghadapi tuduhan rencana pembunuhan mantan Kepala Intelijen Saudi Arabia Saad al-Jabri yang sedang diproses di Pengadilan Amerika. Hal ini menjadi beban tambahan, mengingat MBS adalah sahabat sang menantu Trump: Jared Kushner dan juga kolega Trump sendiri, yang mengalihkan dana miliaran dolar Amerika selama Trump berkuasa.

Jika Trump tidak menolongnya, maka dirinya semakin tidak dipercaya oleh para kolega dan sekutunya. Akan tetapi, jika ia menggunakan kekuasaan untuk menyelamatkan sang kolega, maka citranya akan semakin terpuruk di mata calon pemilihnya.

Hanya ada waktu kurang dari 3 bulan bagi Trump sebagai petahana untuk mengubah keadaan. Kelihatannya hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, atau tindakan gila yang mengabaikan tata kerama dalam berpolitik atau melanggar hukum yang berlaku untuk bisa kembali menghuni Gedung Putih. Kita tunggu mana yang akan terjadi.

Penulis adakah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya