Berita

Pengamat politik yang juga Direktur Visi Indonesia Strategis, Abdul Hamid/Net

Politik

Indonesia Tidak Bisa Restart Dan Rebooting Seperti Yang Disampaikan Jokowi, Solusinya Reshuffle!

SABTU, 15 AGUSTUS 2020 | 17:12 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Analogi Presiden Joko Widodo pada pidato kenegaraan bahwa saat ini perekonomian dunia ibarat "komputer hang", tidak bisa disamakan dengan kondisi ekonomi Indonesia.

Demikian disampaikan pengamat politik yang juga Direktur Visi Indonesia Strategis, Abdul Hamid menanggapi pidato kenegaraan Jokowi, di hadapan anggota MPR, Jumat (14/8).

Dia memberi contoh, tingkat hang setiap negara berbeda-beda. Misalnya, resesi ekonomi Australia akan berbeda jika itu menimpa Indonesia, karena negara itu maju dan kaya, sehingga cukup melakukan restart, maka sistem akan refresh dan mesin akan berjalan normal kembali.


Menurut Cak Hamid sapaan akrabnya, solusi bagi ekonomi Indonesia tidak cukup merestart ataupun rebooting saja, seperti yang dikatakan Presiden Jokowi.

"Ancaman resesi ini tak cukup dengan restart atau rebooting tapi harus updrade prosessor, upgrade ram dan tentu software-nya juga. Karena motherboard yang ada tidak compatible atau tidak support dengan tantangan yang dihadapi sekarang ini," sebut dia kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (15/8).

Faktanya bahwa Indonesia harus upgrade software dan perangkat lainya adalah, ketika Jokowi berulang kali memarahi para menteri karena bekerja lamban, tidak taktis dan tak punya sense of crisis.

"Itu artinya mesin yang ada tidak bekerja dengan baik, jadi perlu diugrade ke yang kekinian, high spec," sebut Cak Hamid.

Dengan demikian, dia menyarankan agar Jokowi segera upgrade mesin pemerintahanya dengan kocok ulang atau reshuffle kabinet, dengan memperkuat bagian ekonomi dan kesehatan.

Ganti menteri-menteri yang telah terbukti gagal, seperti Mendukbud Nadiem Makarim yang gagal mengurus pendidikan di era pandemik.

"Karena jika tidak segera dilakukan reshufle kabinet, saya bisa pastikan kita akan jatuh ke dalam resesi ekonomi yang lebih dalam. Dan pidato kebangsaan Jokowi yang memukau itu akan sia-sia," pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Kadisdik DKI Senang Lihat Kemping Pramuka di SDN 11 Kebon Jeruk

Sabtu, 10 Januari 2026 | 02:03

Roy Suryo Cs Pastikan Menolak Ikuti Jejak Eggi dan Damai

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:47

Polri Tetap di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:14

Kesadaran Keselamatan Pengguna Jalan Tol Rendah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:04

Eggi dan Damai Temui Jokowi, Kuasa Hukum Roy Suryo Cs: Ada Pejuang Ada Pecundang!

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:34

Debat Gibran-Pandji, Siapa Pemenangnya?

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:19

Prabowo Didorong Turun Tangan terkait Kasus Ketua Koperasi Handep

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:04

Eggi dan Damai Mungkin Takut Dipenjara

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:46

Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:42

Kadispora Bungkam soal Lahan Negara di Kramat Jati Disulap Jadi Perumahan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:07

Selengkapnya