Berita

Gajah-gajah mati di Bostwana/Net

Dunia

Bukan Dibunuh Oleh Pemburu Atau Penyakit Antraks, Ternyata Ini Penyebab Kematian Misterius Ratusan Gajah Di Botswana

SABTU, 01 AGUSTUS 2020 | 09:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penyebab kematian misterius ratusan gajah di Okavango Delta Botswana mulai terkuak, para ahli memperkirakan hewan-hewan malang itu mungkin meregang nyawa akibat racun alami.

Negara Afrika selatan yang terkurung daratan itu memiliki populasi gajah terbesar di dunia, diperkirakan jumlahnya sekitar 130 ribu populasi. Sekitar 300 dari mereka ditemukan sekarat sejak Maret lalu.

Pihak berwenang sejauh ini mengesampingkan antraks, serta perburuan liar sebagai penyebabnya, karena gadingnya ditemukan utuh.


Pemimpin Departemen Margasatwa dan Taman, Cyril Taolo mengatakan tes pendahuluan yang dilakukan di berbagai negara sejauh ini belum sepenuhnya sampai pada kesimpulan akhir.

“Sampai saat ini kami belum menetapkan kesimpulan tentang apa penyebab kematian".

“Sampai saat ini kami belum menetapkan kesimpulan tentang apa penyebab kematian. Tetapi berdasarkan beberapa hasil awal yang kami terima, kami melihat racun yang terjadi secara alami sebagai penyebab potensial,” katanya, seperti dikutip dari AFP, Jumat (31/7).

Dia menjelaskan bahwa beberapa bakteri secara alami dapat menghasilkan racun, terutama yang berada dalam air yang tergenang.

Pemerintah sejauh ini menetapkan bahwa ada 281 gajah mati, walaupun para konservasionis independen mengatakan jumlahnya lebih dari 350 ekor.

Kematian tersebut pertama kali dilaporkan oleh badan amal konservasi satwa liar, Elephants Without Borders (EWB), yang bocor ke media dan mencatat ada 356 gajah yang mati secara misterius.

EWB menduga gajah-gajah itu sekarat selama sekitar tiga bulan, dan kematian yang terjadi tidak terbatas pada usia atau jenis kelamin.

Beberapa gajah hidup tampak lemah, lesu dan kurus, dengan beberapa menunjukkan tanda-tanda disorientasi, kesulitan berjalan atau pincang, kata EWB.

Hingga saat ini tes lebih lanjut sedang dilakukan di laboratorium spesialis di Afrika Selatan, Kanada, Zimbabwe dan AS.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya