Berita

Ilustrasi, orang-orang masih menggunakan masker/Net

Dunia

Abaikan Covid-19, Di Rumania Muncul Tudingan Angka Kasus Digelembungkan Untuk Kepentingan Produsen Masker

SELASA, 21 JULI 2020 | 14:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seiring berjalannya waktu, orang-orang di banyak negara mulai mengabaikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Banyak tenaga medis yang merasa khawatir dengan keadaan ini, apalagi belakangan kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan.

Kekhawatiran itu juga dirasakan oleh Virgil Musta, seorang dokter di Rumania barat. Setelah hampir empat bulan merawat pasien virus di kota Timisoara, dia mengatakan bahwa dirinya tidak hanya menghadapi lonjakan kasus harian baru, tetapi juga serangkaian teori konspirasi.

“Orang-orang tidak lagi menghormati aturan. Tiga minggu yang lalu kami punya satu kasus baru sehari, sekarang kami memiliki sekitar 40,” kata pria berusia 62 tahun itu seperti dikutip dari AFP, Selasa (21/7).


Di negara di mana dokter jarang berbicara itu Musta jadi lebih sering hadir di media sosial dan pers lokal untuk menjelaskan tentang pekerjaannya di rumah sakit, memberi fakta bahwasannya semua orang harus tetap waspada akan bahaya virus corona.

“Saya harus bertindak di dua bidang, yang profesional di mana saya merawat pasien dan yang informatif di mana saya mencoba untuk menjelaskan fakta kepada orang-orang,” kata Musta, yang juga kepala departemen penyakit menular Timisoara.

Negara Eropa timur telah berhasil menghentikan penyebaran Covid-19 di bawah penguncian ketat selama dua bulan, namun kasus kembali melonjak sejak mereka mencabut kuncian pada pertengahan Mei lalu, puncaknya terjadi pada Sabtu di mana mereka mencatat 889 infeksi baru.

Hal ini telah menyebabkan setidaknya selusin negara Eropa memberlakukan kembali pembatasan perjalanan pada orang yang datang dari salah satu negara anggota termiskin Uni Eropa.

Selain itu, lonjakan beban kasus juga terjadi akibat teori konspirasi berlipat ganda yang dijajakan online dan di jalan-jalan di negara yang dikenal dengan sistem layanan kesehatan yang buruk itu.

Di Bucharest, beberapa ratus coronasceptics, memegang ikon agama, bendera nasional dan tanda-tanda bertuliskan ‘Saya percaya pada Tuhan, bukan pada COVID’, mereka sering memprotes apa yang mereka sebut ‘kediktatoran saniter’.

Banyak orang yang menuding angka kasus Covid-19 sengaja digelembungkan untuk kepentingan prosusen masker.

“Angka-angka itu digelembungkan untuk kepentingan produsen masker pelindung," kata seorang pemrotes, Ionut Moraru. Sementara Marcela, seorang pensiunan, khawatir akan diasingkan paksa hanya karena bersin di tempat umum.

Pada awal Juli, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa rawat inap wajib yang diberlakukan di bawah keadaan darurat dua bulan melanggar hak-hak dasardan ilegal. Sejak itu, hampir seribu pasien Covid-19 telah keluar dari rumah sakit, menurut angka resmi.

Salah satu dari mereka yang tidak ingin dirawat di rumah sakit, Cristian Focsan, mengatakan di Facebook bahwa dia percaya dia bisa melawan virus sendiri dan tidak ingin menempati tempat tidur yang mungkin lebih dibutuhkan oleh orang yang sakit parah. Tetapi kondisi ekonom berusia 43 tahun itu kemudian memburuk, dan dia akhirnya ditempatkan di ventilator di rumah sakit.

Lain lagi dengan seorang pengusaha industry konstruksi bernama Constin Tanasescu, dia mengatakan dirinya berhak menentukan mau dirawat di rumah sakit atau tidak.

“Saya harus memiliki hak untuk memilih apakah saya ingin dirawat di rumah sakit atau tidak,” ungkapnya.

Setelah negosiasi keras yang terjadi antara pemerintah liberal dan oposisi sayap kiri, parlemen mengadopsi peraturan baru bulan ini yang memungkinkan rumah sakit menjaga orang-orang yang dites positif terkena virus selama 48 jam, walaupun mereka tidak memiliki gejala.

Seorang wanita yang berbaring di tempat tidur rumah sakit  Victor Babes di Timisoara tengah berduka atas kematian suaminya yang baru saja meninggal setelah terinfeksi Covid-19.

“Saya ingin teman-teman saya melihat saya di sini, terutama mereka yang tidak percaya bahwa virus itu nyata. Tidak normal bagi seorang pria berusia 34 tahun yang tidak memiliki masalah kesehatan untuk mati," katanya kepada AFP.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya