Berita

Penerapan protokol kesehatan berupa jaga jarak di Bandara Soekarno Hatta/Istimewa

Politik

Yang Dibutuhkan Makan Bukan Sanksi, Jangan Salahkan Kalau Rakyat Berontak

RABU, 15 JULI 2020 | 14:49 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Penerapan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan di masa pandemik Covid-19 bukan solusi utama, melainkan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.

Bila kebutuhan terpenuhi, maka masyarakat dengan sendirinya akan patuh terhadap imbauan pemerintah, termasuk protokol kesehatan.

Oleh karenanya, pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam menilai penerapan sanksi terhadap pelanggar protokol Covid-19 sudah terlambat.


"Tentang sanksi bagi yang tidak patuh protokol kesehatan menurut saya sudah terlambat, penyebarannya sudah tidak terkendali," ucap Saiful Anam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (15/7).

Pada dasarnya, kata Saiful Anam, masyarakat sebenarnya sudah patuh dan mengantisipasi terhadap kemungkinan terkontaminasi Covid-19.

"Namun kita tahu, masyarakat juga ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga mau tidak mau ia harus beraktivitas demi memenuhi kebutuhan sandang pangannya," jelas Saiful.

Sehingga, jika pemerintah menerapkan sanksi, maka masyarakat akan semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Apabila sanksi dikenakan, sedangkan untuk kebutuhan sehari-harinya mereka sulit, maka bagaimana untuk memenuhi kebutuhannya?" kata Saiful.

"Mereka juga patuh kok kalau kebutuhannya terpenuhi, jangan menambah pekerjaan di saat masyarakat susah. Saya yakin masyarakat tidak perlu diajari untuk patuh terhadap protokol kesehatan," terang Saiful.

Di sisi lain, bila sanksi tetap diberlakukan, ia khawatir justru akan menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

"Mereka hanya butuh kebutuhannya terpenuhi, kalau kebutuhannya tidak dipenuhi kemudian masih ada pemeriksaan dan sanksi, maka jangan salahkan kalau mereka akan berontak," pungkas Saiful.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya